PERUBAHAN DAN ADAPTASI PSIKOLOGIS DALAM MASA KEHAMILAN

PERUBAHAN DAN ADAPTASI PSIKOLOGIS DALAM MASA KEHAMILAN

  1. Perubahan dan Adaptasi Psikologi Pada Ibu Hamil Trimester I

Trimester pertama disebut sebagai masa penentuan dan sering merupakan masa kekhawatiran. Segera setelah tejadi perubahan, hormon progesteron dan estrogen dalam tubuh akan meningkat dan ini menyebabkan timbulnya rasa mual-mual pada pagi hari, lemah, lelah dan membesarnya payudara. Ibu merasa tidak sehat dan seringkali membenci kehamilannya. Banyak ibu yang merasakan kekecewaan, penolakan, kecemasan dan kesedihan. Seringkali pada awal kehamilannya ibu berharap untuk tidak hamil.

Pada trimester pertama seorang ibu akan mencari tanda-tanda untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya memang hamil. Setiap perubahan yang terjadi pada tubuhnya akan selalu diperhatikan dengan seksama. Karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia seorang ibu yang mungkin diberitahukannya kepada orang lain atau dirahasiakannya.

Hasrat untuk melakukan hubungan seks pada wanita hamil trimester pertama ini berbeda-beda. Walaupun beberapa wanita mengalami kegairahan seks yang lebih tinggi, kebanyakan mereka mengalami penurunan libido selama periode ini. Keadaan ini menciptakan kebutuhan untuk berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan suami. Banyak wanita merasa kebutuhan untuk dicinta dan merasakan kuat untuk mencintai namun tanpa seks. Libido sangat dipengaruhi oleh kelelahan, rasa mual, pembesaran payudara, keprihatinan dan kekhawatiran. Semua ini merupakan bagian normal dari proses kehamilan pada trimester pertama.

     Reaksi pertama seorang pria ketika mengetahui dirinya akan menjadi ayah adalah timbulnya kebanggaan atas kemampuannya mempunyai keturunan bercampur dengan keprihatinan akan kesiapannya untuk menjadi seorang ayah dan pencari nafkah untuk keluarganya. Seorang calon ayah mungkin akan sangat memperhatikan keadaan ibu yang sedang mulai hamil dan menghindari hubungan seks karena takut akan mencederai bayinya. Ada pula pria yang hasrat seksnya terhadap wanita hamil relatif lebih besar. Disamping respon yang diperhatikannya, seorang ayah perlu dapat memahami keadaan ini dan menerimanya.Perubahan psikologis pada trimester I disebabkan karena adaptasi tubuh terhadap peningkatan hormon progesteron dan estrogen.

Perubahan Psikologis pada Trimester Pertama, Segera setelah konsepsi kadar hormone progesterone dan estrogen dalam tubuh akan meningkat dan ini menyebabkan timbulnya mual dan muntah pada pagi hari, lemah, lelah dan membesarnya payudara. Kondisi ini membuat para ibu hamil merasa tidak sehat dan sering membenci kehamilan sehingga mempengaruhi kehidupan psikologis ibu.

Pada trimester pertama seringkali timbul kecemasan dan rasa kebahagiaan bercampur keraguan dengan kehamilannya antara ya atau tidak, terjadi fluktuasi emosi sehingga beresiko tinggi untuk terjadinya pertengkaran atau rasa tidak nyaman, adanya perubahan hormonal, dan morning sickness. Diperkirakan ada 80% ibu-ibu mengalami perubhan psikologis, seperti rasa kecewa, sikap penolakan, cemas dan rasa sedih.

  1. Ketidakyakinan atau Ketidakpastian

Awal minggu kehamilan, ibu sering merasa tidak yakin dengan kehamilannya. Setiap wanita memiliki tingkat reaksi yang bervariasi terhadap ketidakyakinan kehamilannya dan terus berusaha untuk mencari kepastian bahwa dirinya hamil. Kondisi ini mendorong dia semakin takut atas kehamilan yang terjadi, bahkan sebagian dari mereka berharap tanda-tanda tersebut menunjukkan bahwa dirinya tidak hamil.

  1. Ambivalen

Ambivalen menggambarkan suatu konflik perasaan yang bersifat simultan, seperti cinta dan benci terhadap seseorang, sesuatu, atau keadaan. Setiap wanita hamil memiliki sedikit rasa ambivalen dalam dirinya selama masa kehamilan. Ambivalen merupakan respon normal individu ketika akan memasuki suatu peran baru. Beberapa wanita merasa kondisi ini tidak nyata dan bukanlah saat tepat untuk hamil, walaupun hal ini telah direncanakan atau diidamkan sebelumnya.

Wanita yang sudah merencanakan hamil sering berfikir bahwa dirinya membutuhkan waktu yang lama untuk menerima kehamilan, sehingga merasa khawatir dengan bertambahnya tanggung jawab dan perasaan akan ketidakmampuannya untuk menjadi orangtua yang baik, serta takut jika kehamilan ini akan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain.

Beberapa factor yang menyebabkan perasaan ambivalensi pada ibu-ibu hamil ialah menyangkut pada perubahan kondisi dirinya sendiri, berusaha untuk menghadapi pengalaman kehamilan yang buruk, terutama bagi ibu-ibu yang pernah mengalami sebelumnya, dampak dari kehamilan terhadap kehidupannya kelak (terutama bagi ibu-ibu yang bekerja atau memiliki karir), perubahan terhadap tanggung jawab yang baru atau tambahan yang akan ditanggungnya dan kecemasan yang berhubungan dengan kemampuannya menjadi ibu, masalah keuangan dan sikap penerimaan dari orang-orang terdekat selama kehamilanya.

  1. Perubahan Seksual

Selama trimester pertama seringkali keinginan seksual wanita menurun. Factor penyebabnya berasal dari rasa takut terjadi keguguran sehingga mendorong kedua pasangan untuk menghindari aktivitas seks. Apalagi jika wanita tersebut sebelumnya pernah mengalami keguguran. Hasrat seksual pada trimester pertama sangat bervariasi antara wanita yang satu dan yang lain. Meski beberapa wanita mengalami peningkatan hasrat seksual, tetapi secara umum trimester pertama merupakan waktu terjadinya penurunan libido dan jika pun terjadi diantara mereka harus terlebih dahulu berkomunikasi sebelum melakukannya. Kondisi ini terkadang digunakan suami untuk memberikan kebutuhan kasih saying yang besar dan cinta kasih tanpa seks.

  1. Fokus pada Diri Sendiri

Awal kehamilan, pusat pikiran ibu berfokus pada dirinya sendiri, bukan pada janin. Ibu merasa bahwa janin merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari diri ibu. Kondisi ini mendorong ibu-ibu hamil untuk menghentikan rutinitasnya yang penuh tuntutan social dan tekanan agar dapat menikmati waktu kosong tanpa beban sehingga sebagian besar dari ibu banyak waktu yang dihabiskan untuk tidur.

  1. Perubahan Emosional

Perubahan emosional pada trimester I ditandai dengan adanya penurunan kemauan seksual karena letih dan mual, perubahan suasana hati, seperti depresi atau khawatir, ibu mulai berpikir mengenai bayi dan kesejahteraannya dan kekhawatiran pada bentuk penampilan diri yang kurang menarik.

  1. Goncangan Psikologis

Kejadian goncangan jiwa diperkirakan lebih kecil terjadi pada trimester pertama dan lebih tertuju pada kehamilan pertama. Menurut Kumar dan Robson (1978) diperkirakan ada sekitar 12% wanita yang mendatangi klinik menderita depresi terutama pada mereka yang ingin menggugurkan kandungan. Perubahan psikologis yang terjadi pada fase kehamilan trimester pertama lebih banyak berasal pada pencapaian peran sebagai ibu.

Kehamilan pada trimester pertama cenderung terjadi pada tahapan aktifitas yang dilalui seorang ibu dalam mencapai perannya (taking on stage). Ibu akan selalu mencari tanda-tanda untuk meyakinkan bahwa dirinya memang hamil, sehingga dia lebih memperhatikan setiap perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Perutnya yang masih kecil dinilai sebagai rahasia seorang ibu yang akan diberitahukannya kepada suaminya.

  1. Stres

Kemungkinan stress yang terjadi pada kehamilan trimester pertama bias berdampak negative dan positif, dimana kedua stress ini dapat memengaruhi perilaku ibu. Terkadang stress tersebut bersifat intrinsic dan ekstrinsik. Stress intrinsic berhubungan dengan tujuan pribadi ibu, dimana dia berusaha untuk membuat sesempurna mungkin kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya. Stress ekstrinsik timbul karena factor eksternal seperti sakit, kehilangan, kesendirian dan masa reproduksi.

Menurut Burnard (1991) stress selama masa reproduksi berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengatasi stress, stress yang bersumber dari pihak lain, stress yang disebabkan penyesuaian terhadap tekanan social. Stress seorang ibu hamil yang berasal dari dalam diri berkenaan dengan perasaan gelisah terhadap kemampuannya untuk bisa beradaptasi dengan kondisi kehamilannya.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perubahan psikologis yang terjadi pada trimester pertama ialah (a) merasa tidak sehat dan benci kehamilannya, (b) selalu memperhatikan setiap perubahan pada tubuhnya, (c) mencari tanda-tanda untuk meyakinkan bahwa dirinya sedang hamil, (d) mengalami gairah seksual yang lebih tinggi tetapi energi libidonya menurun, (e) rasa khawatir atas kehilangan penampilan bentuk tubuh, (f) membutuhkan sikap penerimaan atas kehamilannya dari anggota keluarga besarnya dan (g) adanya ketidakstabilan emosi dan suasana hati (Sulistyawati, 2009).

  1. Perubahan dan Adaptasi Psikologi Pada Ibu HamilTrimester II

Trimester II sering disebut sebagai periode pancaran kesehatan. Tubuh ibu sudah terbiasa dengan kadar hormon yang lebih tinggi dan rasa tidak nyaman karena hamil pun sudah berkurang. Perut ibupun belum terlalu besar sehingga belum dirasakan sebagai beban. Ibu sudah menerima kehamilannya dan dapat mulai menggunakan energi dan pikirannya secara lebih konstruktif.

Pada trimester ini pula ibu dapat merasakan gerakan bayinya. Banyak ibu yang merasa terlepas dari kecemasan dan rasa tidak nyaman seperti yang dirasakannya pada trimester pertama dan nafsu makan ibusudah kembali seperti biasa. Kebanyakan wanita merasa lebih erotis selama trimester kedua, hampir 80% wanita hamil mengalami peningkatan dalam hubungan seks dibandingkan pada trimester pertama dan sebelum kehamilan. Pada trimester kedua relatif lebih bebas dari ketidaknyamanan fisik, ukuran perut belum menjadi suatu masalah, lubrikasi vagina lebih banyak dan hal yang menyebabkan kebingungan sudah surut, dia telah berganti dari mencari perhatian ibunya menjadi mencari perhatian pasangannya, semua faktor ini berperan pada meningkatnya libido dan kepuasan seks.

Ibu merasa bahwa bayi yang dikandungnya  sebagai individu yang  merupakan bagian dari dirinya, kesadaran yang baru ini menimbulkan perubahan dalam memusatkan dirinya ke bayinya. Pada saat ini jenis kelamin bayi tidak begitu penting, perhatian ditujukan pada kesehatan bayi dan kehadirannya dalam keluarga.

Hubungan sosial meningkat dengan wanita hamil lainnya atau yang baru menjadi ibu dan ketertarikan dan aktifitasnya terfokus pada kehamilan, kelahiran dan persiapan untuk peran baru. Tubuh ibu sudah beradaptasi dengan kadar hormon yang lebih tinggi, sehingga merasa lebih sehat dibandingkan dengan trimester I.

Perubahan psikologis pada trimester kedua, secara umum periode trimester kedua dikelompokkan menjadi dua fase, yakni prequickeckening (sebelum ada pergerakan janin yang dirasakan ibu) dan postquickening (setelah ada pergerakan janin yang dirasakan ibu).

  1. Fase Pre Quickening

Selama akhir trimester pertama dan masa prequickening pada trimester kedua, ibu hamil mengevaluasi segala aspek yang telah terjadi selama hamil. Disini ibu menganalisa dan mengevaluasi kembali segala hubungan interpersonal yang terjadi dan menjadikannya sebagai dasar-dasar dalam mengembangkan interaksi sosial dengan bayi yang akan dilahirkannya.

Perasaan menolak terhadap sikap negatif dari ibunya akan menyebabkan rasa bersalah pada dirinya, kecuali bila ibu hamil menyadari bahwa hal tersebut normal karena ia sedang mengembangkan identitas keibuannya. Proses yang terjadi dalam masa pengevaluasian kembali ini adalah perubahan identitas dari penerima kaih sayang (dari ibunya) menjadi pemberi kasih sayang (persiapan menjadi seorang ibu). Transisi ini memberikan pengertian bagi ibu hamil untuk mempersiapkan dirinya sebagai ibu yang penuh kasih sayang kepada anak-anak yang akan dilahirkannya kelak.

  1. Fase Post Quickening

Setelah ibu hamil merasakan quickening, maka identitas keibuan semakin jelas. Ibu akan fokus pada kehamilannya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi peran baru sebagai seorang ibu. Terkadang perubahan ini bisa menyebabkan kesedihan meninggalkan peran lamanya sebelum kehamilan, terutama pada ibu yang mengalami hamil pertama kali dan wanita karir. Oleh sebab itu, ibu harus diberikan pengertian bahwa dia tidak harus membuang segala peran yang diterima sebelum masa hamilnya.

Pada wanita multi gravida, peran baru menggambarkan bagaimana dia bisa menjelaskan hubungan dengan anaknya yang lain dan bagaimana jika dia harus meninggalkan rumah untuk sementara waktu disaat proses persalinan. Pergerakan bayi membantu ibu membangun konsep bahwa bayinya adalah makhluk hidup yang terpisah dari dirinya. Hal ini menyebabkan perubahan fokus pada bayinya.

Bentuk-bentuk reaksi psikologis pada trimester kedua, untuk trimester kedua kehidupan psikologis ibu hamil tampak lebih tenang dan mulai dapat beradaptasi, perhatian mulai beralih pada perubahan bentuk tubuh, kehidupan seksual, keluarga, dan hubungan batiniah dengan bayi yang dikandungnya, serta peningkatan kebutuhan untuk dekat dengan figur ibu, melihat, dan meniru peran ibu. Selain itu, ketergantungan ibu hamil kepada pasangan juga semakin meningkat seiring dengan perkembangan kehamilannya.

  1. Rasa Khawatir

Kadang kala ibu khawatir bahwa bayi akan lahir sewaktu-waktu. Hal ini menyebabkan adanya peningkatan kewaspadaan atas timbulnya tanda-tanda persalinan. Ibu seringkali merasa khawatir atau takut kalau bayi yang akan dilahirkannya tidak normal. Kebanyakan ibu juga akan bersikap melindungi bayinya dan menghindari orang atau benda yang dianggap membahayakan bayi. Ibu mulai merasa takut atas rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul pada saat melahirkan.

 

  1. Perubahan Emosional

Perubahan emosional trimester II terjadi pada bulan kelima kehamilan terasa nyata karena bayi sudah mulai bergerak sehingga dia mulai memperhatikan bayi dan memikirkan apakah bayinya akan dilahirkan sehat atau cacat. Rasa kecemasan seperti ini terus meningkat seiring bertambah usia kehamilannya.

  1. Keinginan untuk Berhubungan seksual

Ada satu lagi perubahan yang terjadi pada trimester kedua yang harus diimbangi untuk mengatasi ketidaknyamanan ialah peningkatan libido. Kebanyakan calon orang tua khawatir jika hubungan seks dapat memengaruhi kehamilan. Kekhawatiran yang paling sering diajukan ialah kemungkinan bayi diciderai oleh penis, orgasme ibu, atau ejakulasi.

Yang perlu diketahui bahwa hubungan seksual pada masa hamil tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Janin tidak akan terpengaruh karena berada di area belakang serviks dan dilindungi cairan amniotik dalam uterus. Namun dalam beberapa kondisi hubungan seks selama trimester kedua tidak diperbolehkan, mencakup plasenta previa dan ibu dengan riwayat persalinan prematur.

Selain itu mekanisme fisik untuk saling merapat dalam hubungan seksual akan menjadi sulit dan kurang nyaman, misalnya berbaring terlentang dan menahan berat badan suami. Namun dengan mengkreasi posisi yang menyenangkan masalah ini bisa diatasi. Walaupun sebagian ibu hamil merasakan seks selama hamil terasa meningkat, tidak semua libido wanita akan meningkat pada trimester kedua. Perubahan tingkat libido disebabkan variasi perubahan hormonal.

Mengenai strategi pemilihan posisi saat berhubungan seks ini sangat beragam, semua tergantung pada kesiapan fisik dan psikis dari kedua pihak. Bagi sebagian perempuan, kehamilan justru meningkatkan dorongan seks, tetapi bagi sebagian lain tidak berpengaruh. Sementara bagi perempuan yang lain, kehamilan justru menekan atau menurunkan dorongan seks. Namun, perlu kita ketahui bahwa hubungan seks saat ibu hamil pada dasarnya dipengaruhi kepercayaan yang telah dimiliki kedua pasangan tentang perilaku seksual, kondisi fisik dan emosi (Kusmiyati, 2010).

  1. Perubahan dan Adaptasi Psikologi Pada Ibu HamilTrimester III

Trimester ketiga seringkali disebut periode penantian/menunggu dan waspada sebab pada saat itu ibu merasa tidak sabar menunggu kelahiran bayinya. Gerakan bayi dan membesarnya perut merupakan dua hal yang mengingatkan ibu akan bayinya. Kadang-kadang ibu merasa khawatir bahwa bayinya akan lahir sewaktu-waktu, ini menyebabkan ibu mengingatkan kewaspadaan akan timbulnya tanda dan gejala terjadinya persalinan. Ibu juga merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak lahir tepat waktu.

Ibu seringkali merasa khawatir atau takut kalau-kalau bayi yang dilahirkannya tidak normal. Ibu bermimpi yang mencerminkan perhatian dan kekhawatirannya, ibu lebih sering bermimpi tentang bayinya, anak-anak, persalinan, kehilangan bayi atau terjebak di suatu tempat kecil dan tidak bisa keluar. Kebanyakan ibu juga akan bersikap melindungi bayinya dan akan menghindari orang atau benda apa saja yang dianggapnya membahayakan bayinya. Seorang ibu mungkin mulai merasa takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul pada waktu melahirkan dan merasa khawatir akan keselamatannya.

Rasa tidak nyaman akibat kehamilan timbul kembali pada trimester ketiga dan banyak ibu yang merasa dirinya aneh dan jelek, sehingga memerlukan perhatian lebih besar dari pasangannya. disamping itu ibu mulai merasa sedih karena akan terpisah dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang diterima selama hamil, terdapat perasaan mudah terluka (sensitif). Hasrat seksual tidak setinggi pada trimester kedua karena abdomen merupakan sebuah penghalang. Posisi alternatif untuk hubungan seksual dan metode alternatif yang memberikan kepuasan seksual mungkin membantu atau malah menimbulkan perasaan bersalah jika ada ketidaknyamanan dalam berhubungan seksual. Bersikap terbuka dengan pasangan atau konsultasi dengan bidan atau tenaga kesehatan lain adalah hal yang penting. Trimester ketiga adalah saat persiapan aktif untuk kelahiran bayi dan menjadi orang tua, bahkan mereka juga memilih sebuah nama untuk bayi yang akan dilahirkan. Keluarga mulai menduga-duga apakah bayinya laki-laki atau perempuan dan akan mirip siapa. Trimester III merupakan periode penantian/menunggu dan merupakan saat persiapan aktif untuk kelahiran bayi dan menjadi orang tua.

Perubahan psikologis pada trimester ketiga, perubahan psikologis ibu hamil periode trimester terkesan lebih kompleks dan lebih meningkat kembali dari trimester sebelumnya. Hal ini dikarenakan kondisi kehamilan semakin membesar. Kondisi itu tidak jarang memunculkan masalah seperti posisi tidur yang kurang nyaman dan mudah terserang rasa lelah atau kehidupan emosi yang fluktuatif.

  1. Rasa Tidak Nyaman

Rasa tidak nyaman akibat kehamilan akan timbul kembali pada trimester ketiga dan banyak ibu yang merasa dirinya aneh dan jelek. Disamping itu, ibu mulai merasa sedih karena akan berpisah dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang diterima selama hamil sehingga ibu membutuhkan dukungan dari suami, keluarga, dan bidan.

  1. Perubahan Emosional

Perubahan emosional trimester III terutama pada bulan-bulan terakhir kehamilan biasanya gembira bercampur takut karena kehamilan telah mendekati persalinan. Rasa kekhawatirannya terlihat menjelang melahirkan, apakah bayi lahir sehat dan tugas-tugas apa yang dilakukan setelah kelahiran (Sulistyawati, 2009).

  1. Dampak Perubahan Psikologis Ibu Hamil
  1. Sensitif

Awal penyebab wanita hamil menjadi lebih sensitif adalah faktor hormon. Reaksi wanita menjadi lebih peka, mudah tersinggung dan gampang marah. Apapun perilaku ibu hamil sering dianggap kurang menyenangkan. Perubahan ini pasti berakhir, jangan sampai perubahan ini merusak hubungan suami istri menjadi tidak harmonis. Oleh sebab itu, keadaan ini sudah sepantasnya dipahami suami dan jangan membalas dengan kemarahan karena akan menambah perasaan tertekan. Perasaan tertekan akan berdampak buruk dalam perkembangan fisik dan psikis bayi.

  1. Cenderung Malas

Penyebab wanita hamil cenderung malas tidak begitu saja terjadi, melainkan pengaruh perubahan hormon yang sedang dialaminya. Perubahan hormonal akan mempengaruhi gerakan tubuh ibu, seperti gerakannya yang semakin lamban dan cepat merasa letih. Keadaan ini membuat ibu hamil cenderung menjadi malas.

  1. Minta Perhatian Lebih

Perilaku ibu hamil akan menunjukkan sikap ingin diperhatikan. Terkadang kondisi ini mengganggu, terutama jika pasangannya (suami) kurang memiliki sikap perhatian atau berperilaku temprament. Perlu diketahui bahwa biasanya wanita hamil akan tiba-tiba menjadi orang manja dan ingin selalu diperhatikan. Perhatian yang diberikan suami walaupun sedikit apapun akan berdampak memicu tumbuhnya perasaan aman dan pertumbuhan janin lebih baik.

  1. Gampang Cemburu

Tidak jarang, sifat cemburu ibu hamil terhadap suami pun mulai tanpa alasan, seperti jika pulang kerja telat sedikit, ibu mulai bertanya macam-macam. Sifat kecemburuannya meningkat. Faktor penyebabnya ialah perubahan hormonal dan perasaan tidak percaya atas perubahan penampilan fisiknya. Dia mulai meragukan kepercayaan pada suaminya, seperti takut ditinggalkan suami atau suami pacaran lagi. Suami harus memahami kondisi istri dan melakukan komunikasi terbuka dengan istri.

  1. Ansietas (Kecemasan)

Ansietas menggambarkan rasa kecemasan, khawatir, gelisah, dan tidak tentram yang disertai dengan gejala fisik. Ansietas merupakan bagian dari respon emosional terhadap penilaian individu yang subjektif yang keadaannya dipengaruhi alam bawah sadar.

Menurut Reva Rubin selama periode kehamilan hampir sebagian besar ibu hamil sering mengalami kecemasan. Yang membedakannya adalah tingkat kecemasannya. Setiap ibu hamil memiliki tingkat cemas yang berbeda-beda dan sangat tergantung pada sejauh mana ibu hamil itu mempersepsikan kehamilannya.

Faktor-faktor penyebab timbulnya kecemasan ibu hamil biasanya berhubungan dengan kondisi kesejahteraan dirinya dan bayi yang akan dilahirkan, pengalaman keguguran kembali, rasa aman dan nyaman selama masa kehamilan, penemuan jati dirinya dan persiapan menjadi orang tua, sikap memberi dan menerima kehamilan, keuangan keluarga, support keluarga dan support tenaga medis (Sulistyawati, 2009).

  1. Bentuk-Bentuk Gangguan Psikologis Pada Masa Hamil
  1. Depresi

Depresi merupakan gangguan mood yang muncul pada 1 dari 4 wanita yang sedang hamil. Kondisi gangguan ini selalu melanda ibu-ibu hamil. Dini Kasdu, dkk (2009) mengatakan bahwa hampir 10% wanita hamil mengalami depresi berat atau ringan. Umumnya depresi sering terjadi dalam trimester pertama.

Ciri-ciri ibu hamil yang mengalami depresi ialah adanya perasaan sedih atas perubahan kondisi fisiknya, kesulitan berkonsentrasi, akibat jam tidur yang terlalu lama atau sedikit, hilangnya minat dalam melakukan aktifitas yang biasa digemarinya, putus asa, cemas, timbul perasaan tidak berharga dan bersalah, merasa sedih, berkurang atau hilangnya ketertarikan pada aktifitas yang disukai, menurunnya nafsu makan, selalu merasa lelah atau kurang energi serta tidak bisa tidur denga nyenyak. Gejala ini biasanya terjadi selama kurun waktu 1-2 minggu. Pada kasus patologis depresi merupakan reaksi yang ekstrem karena penderitanya sering memiliki delusi ketidakpastian dan perasaan putus asa.

  1. Stres

Pemikiran yang negatif dan perasaan takut selalu menjadi akar penyabab terjadinya reaksi stres. Stres selama hamil mempengaruhi perkembangan fisiologis dan psikologis bayi yang dikandungnya. Sebaliknya, ibu hamil yang selalu berpikiran sehat dan positif akan membantu pembentukan janin, penyembuhan internal dan memberikan nutrisi psikis yang sehat bagi bayi. Apa yang dipikirkan ibu hamil akan memiliki hubungan fisik dan psikologis terhadap tumbuh kembangnya janin di dalam rahim.

 

 

  1. Insomnia (Sulit Tidur)

Sulit tidur adalah gangguan tidur yang diakibatkan gelisah atau perasaan tidak tenang, kurang tidur atau sama sekali tidak bisa tidur. Gangguan tidur selalu menyerang ibu hamil tanpa alasan yang jelas. Gangguan tidur lebih banyak berkaitan dengan masalah psikis, seperti rasa kekhawatiran. Sulit tidur sering terjadi pada ibu-ibu hamil pertama kali atau kekhawatiran menjelang kelahiran. Gejala-gejala insomnia ibu hamil dilihat dari sulit tidur, tidak bisa memejamkan mata dan sellu terbangun pada dini hari.

  1. Perasaan Tidak Berarti (Tidak Ada Tujuan)

Ciri-ciri ibu hamil yang mengalami perasaan tidak berarti ialah sikap sinisme, adanya keinginan untuk mengakhiri hidup, mempertanyakan akan penderitaannya, perasaan tidak berguna, gangguan aktifitas seksual dan adanya keinginan untuk terus merusak diri sendiri.

  1. Perasaan Malu (Bersalah)

Faktor penyebab terjadinya perasaan malu atau bersalah pada ibu hamil ialah dikarenakan adanya keinginan ibu hamil untuk menghapus peristiwa yang pernah terjadi dan berusaha mengulang kembali masa lampaunya.

  1. Perasaan Kecewa

Faktor-faktor penyebab adanya perasaan kecewa pada ibu-ibu hamil ialah sikap, baik itu tindakan suami atau keluarga besarnya yang dianggap kurang menyenangkan (menyakiti perasaan).

  1. Tekanan Batin

Penyebab tekanan batin bisa berasal dari akibat perasaan terpisah dengan pasangannya atau dengan orangtuanya, adanya tantangan (konflik) terhadap kebutuhannya, perasaan tidak berarti, tidak ada tujuan hidup, minimnya kehidupan rohani, rasa bersalah, penderitaan berat, kematian salah satu anggota keluarga, dan reaksi marah kepada Tuhan (Kusmiyati, 2010).

  1. Faktor-Faktor Psikologis Yang Mempengaruhi Masa Hamil
  1. Dukungan Suami

Bentuk-bentuk dukungan yang diberikan oleh suami kepada istri yang hamil lebih mengedepankan sikap untuk saling berkomunikasi yang jujur dan terbuka dan sudah dimulainya sejak awal kehamilan istrinya dan menempatkan nilai-nilai penting dalam keluarga untuk mempersiapkan diri menjadi orang tua.

  1. Dukungan Keluarga

Wanita hamil sering kali merasakan ketergantungan terhadap orang lain, akan tetapi sifat ketergantungan akan lebih besar ketika akan bersalin.

  1. Tingkat Kesiapan Personal Ibu

Beberapa kesiapan personal ibu yang berkaitan pada masa kehamilannya ialah kemampuannya untuk menyeimbangan perubahan atas kondisi psikologisnya

  1. Pengalaman Traumatis Ibu

Trauma masa hamil dipengaruhi beberapa faktor, seperti ibu yang suka menyaksikan film horor laga, adegan yang menyeramkan, mengerikan, atau menyedihkan bisa berujung pada pembentukan emosi traumatis, dan sebagainya.

  1. Tingkat Aktifitas

Tidak ada bukti bahwa aktivitas yang teratur, seperti jogging, bermain tennis, berenang, atau berhubungan seks dapat menimbulkan masalah seperti keguguran atau janin yang cacat (Kusmiyati, 2010).

  1. Peran Bidan Dalam Persiapan Psikologis Bagi Ibu Hamil

Mempelajari Keadaan Lingkungan Klien

Ibu hamil yang selalu memikirkan mengenai keluarga, keuangan, perumahan dan pekerjaan dapat juga menimbulkan depresi dan perlu penanggulangan. Untuk itu bidan harus melakukan pengkajian termasuk latar belakangnya sehingga mudah melakukan asuhan kebidanan.

Memberikan Informasi dan Pendidikan Kesehatan

  • mengurangi pengaruh yang negatif
  • memperkuat pengaruh yang positif
  • adaptasi pada lingkungan tempat bersalin

(Kusmiyati, 2010)

Trimester I

  • Kadar Hormon P & E dalam tubuh meningkat
  • Ibu merasa tidak sehat & benci kehamilannya
  • Banyak ibu merasakan kekecewaan,  penolakan,kecemasan & kesedihan
  • Ibu mencari tanda-tanda untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya sedang hamil
  • Selalu memperhatikan setiap perubahan yang terjadi pada tubuhnya
  • Kehamilan masih dirahasiakan
  • Wanita alami gairah seks yang lebih tinggi, tapi libido turun
  • Periode Penyesuain terhadap kenyataan bahwa ia hamil.
  • Sebagian besar wanita bersikap ambivalen tentang kehamilannya.
  • Waktu penungguan kehamilan yang mencemaskan agar menjadi kenyataan.
  • Bukti terpenting berhentinya menstruasi
  • Perubahan pola seksual

Kebutuhan-kebutuhan Psikologis Ibu Hamil yang Harus dipenuhi :

  1. a)  Support oleh Nakes
  • Dukungan ketentraman hati
  • Nakes dapat mengajarkan teknik relaksasi fikiran untuk melakukan hal-hal yang positif
  • Periode health education
  1. b)  Support dari Keluarga
  • Dukungan suami
  • Tercipta suasana harmonis
  • Perluketerbukaankomunikasi
  • Dukungankeluarga besar
  1. c)  Adaptasi Sibling
  • Membagi perhatian dengan saudara baru mugkin mirip krisis utama untuk seorang anak yang lebih tua
  • Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penerimaan sibling usia, sikap orang tua, peran ayah & bagamana ortu mempersiapkan anak tertua tehadap perubahab yang terjadi
  1. d)  Ketidaknyamanan pada Ibu Hamil TM I
  • Nausea & Vomiting
  • Rasakelelahan & rasakurang energi
  • Dinamika psikososial, perasaan goyang & perasaan kacau
  1. e)  Persiapan Menjadi Orang Tua

Untuk mengantisipasi akan masalah-masalah yang akan timbul diantara pasangan, dapat dilakukan:

  • Melibatkan suami dalam perencanaan kehamilan & persalinannya
  • Kedua pasangan harus sudah siap baik secara fisik, mental maupun ekonomi
  • Sebaiknya mempertimbangkan umur yang cukup untuk menjadi orang tua
  • Melibatkan suami dalam segala kegiatan ibu terutama yang berhubungan dengan kehamilannya, contoh: bila ibu merasakan kehamilannya.
  • Memberikan pendidikan pada pasangan apa yang sebaiknya dilakukan untuk persiapan maupun bagaimana merawat anak.
  • Sebaiknya kehamilan itu direncanakan.

Trimester II

  1. Ibu sudah merasa sehat
  2. Ibu sudah bisa menerima kehamilannya
  3. Ibu dapat merasakan gerakan bayinya
  4. Libido meningkat

Periode Kesehatan

  • Fase Batiniah Kehamilan
  • Wanita akan siap untuk menjadi ibu & akan berusaha menjadi ibu yang baik.
  • Perubahan selama kehamilan benar-benar ada dalam pikiran wanita tersebut
  • Bagi multipara, ia akan mengalami  pemisahan dari hubungannya yang telah ada  dengan anak-anaknya.
  • Kepuasan sexnya meningkat.

Support Keluarga

  • Ibu & keluarga terlibat aktif dlm perawatan selama hamil TM II
  • Keluarga (terutama ibu dari pihak perempuan) dapat menceritakan/ mengajarkan pengalamannya selama hamil kepada klien dalam beradaptasi dengan kehamilannya.

Trimester III

  1. Ibu tidak sabar menunggu kelahiran bayinya
  2. Ibu khawatir bayinya akan lahir sewaktu-waktu & dalam kondisi bayi yang tidak normal
  3. Rasa tidak nyaman kembali terjadi, merasa dirinya aneh & jelek
  4. Ibu mulai sedih karena akan berpisah degan bayinya
  5. Persiapan aktif untuk kelahiran bayinya
  6. Menduga jenis kelamin & mempersiapkan nama

Periode Penunggu

  • Wanita merasa gelisah karena kemungkinannya bayinya akan datang
  • Ukuran uterus membesar & adanya pergerakan janin
  • Wanita tersebut akan melindungi bayinya akan bahaya-bahayanya
  • Menyiapkan pilihan nama & perawatan bagi bayinya
  • Akan mengalami ketakutan-kekuatan dengan dirinya & bayinya
  • Mengalami ketidaknyamanan fisik

Komponen-komponen dukungan emosional :

  • Penghargaan
  • Pertimbangan budaya
  • Kasih sayang
  • Respon agama
  • Kepercayaan
  • Mendengarkan
  • Perhatian

Kemungkinan perhatian emosional yang dapat didiskusikan yaitu :

  • Pengalaman melahirkan anak.
  • Perhatian bersama orang tua muncul dari kecemasan terhadap keselamatan ibu & anak yang tidak dapat dilahirkan.
  • Perhatian bersama orang tua sampai dengan sibling & penerimaan bayi baru.
  • Perhatian orang tua mengenai tanggung jawab social ekonomi & perhatian bersama orang tua timbul dari konflik budaya, agama / sistem nilai personal.

Support nakes

  • Penjelasan tentang perubahan Kehamilan TM III serta cara mengatasinya.
  • Petugas kesehatan menciptakan suasana yang menyenangkan.
  • Jawaban yang diberikan secara bijaksana oleh petugas kesehatan bisa menyenangkan klien sehingga klien tidak akan merasakan tekanan.

Persiapan Menjadi Orang Tua

  • Menyiapkan untuk menjadi ayah dan menjadi ibu.
  • Impian permainan peran/antisipasi persiapan emosional untuk bayi banyak terjadi pada minggu sebelum kelahiran.
  • Petugas kesehatan mendengarkan dengan aktif agar dapat menentramkan hati  ibu & jika ada gangguan psikologis hebat rujuk untuk pengobatan yang tepat.

Persiapan menjadi  ibu ada 3 Fase :

Fase I

Menerima kenyataan biologik pada kehamilan bahwa dirinya hamil

Fase II

  • Menerima pertumbuhan Janin sebagai suatu yang jelas dari dirinya dan ia berkata? saya akan memiliki bayi ? terutama pada TM II.
  • Dengan realitas penerimaan bayi (Mendengar DJJ & gerakan anak) khayalan & impian tentang anak menjadi berharga & menarik & ia berusaha berkonsentrasi pada bayinya.

Fase III

  • Persiapan realistis untuk kelahiran & menjadi ortu.
  • Iamengekspresikan lebih dulu ? saya akan menjadi seorang ibu.

Persiapan Menjadi Ayah

Ada 3 perkembangan/karakteristik :

  1. Periode awal / Fase Pemberitahuan
  • Terjadi beberapa jam/minggu.
  • Pada fase ini (calon ayah) dapat menerima.
  • Faktor biologis dari kehamilan, ia membutuhkan kedudukan bahwa ia akan menjadi ayah.
  • Respon pertama yaitu mencari informasi tentang kehamilan dengan perasaan takut, cemas, bingung.
  1. Periode II / Fase Penundaan
  • Suatu fase penerimaan/menyadari bahwa ia akan mempunyai bayi & berubah.
  • Laki-laki tampak sadar akan rencana hidup & gaya hidup.
  1. Fase III / Fase Perhatian
  • Pada saat ini karakteristik ayah aktif terlibat dalam kehamilan & hubungan dengan anak.
  • Ia membutuhkan kedudukan bahwa ia tahu perannya selama persalinan & ia menjadi kepala keluarga.
  • Pada fase ini berkonsentrasi pada pengalaman yang dimiliki pada wanita hamil & merasa hubungannya lebih baik dengan istri karena ia akan menjadi ayah & dunia sekelilingnya menentukan peran bapak di masa datang.

Adaptasi sibling :

  • 0 – 2 tahun, tidak sadar dengan kehamilan ibunya dan belum tahu terhadap penjelasan.
  • 2 – 4 tahun, berespon terhadap perubahan pada tubuh ibu dan tingkah lakunya.
  • 4 – 5 tahun, senang mendengarkan denyut jantung janin, belajar perkembangan bayi.
  • Sekolah, kenyataan dan bagaimana terjadinya kehamilan dan persalinan.
  • Adolescence, Negatifistik terhadap senang akan penampilan ibunya

Persiapan Sibling pada Masa Prenatal

  1. Ikut sertakan anak untuk melakukan pemeriksaan kehamilan, ajak anak mendengarkan bunyi jantung anak & merasakan pergerakan bayi.
  2. Libatkan anak dalam mempersiapkan kelahiran bayi, misalnya dengan membantu mendekorasi ruangan bayi
  3. Pindahkan anak ke tempat tidur (jika sblmnya tidur di tempat tidur kecil) setidaknya 2 bln sebelumnya kelahiran bayi
  4. Bacakan buku, putarkan video / masukkan anak ke dalam kelas persiapan sibling termasuk kunjungan dalam RS.
  5. Jawab pertanyaan anak tentang datangnya kelahiran, bagaimana bayi itu & pertanyaan lainnya.
  6. Ajak anak ke rumah yang mempunyai bayi sehingga anak mempunyai gambaran nyata seperti apa bayi itu.

 

Advertisements

Add a comment August 23, 2017

CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

KANKER PAYUDARA

1. PENGERTIAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

Ca mammae merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak, maupun jaringan ikat pada payudara (Wijaya, 2005).

Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di payudara. Jika benjolan kanker tidak terkontrol, sel-sel kanker bias bermestastase pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bias terjadi pada kelenjar getah bening ketiak ataupun diatas tulang belikat. Seain itu sel-sel kanker bias bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Erik T, 2005)

Ca mammae (carcinoma mammae) adalah keganasan yang berasal dari sel kelenjar, saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara, tidak termasuk kulit payudara. Ca mammae adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara. (Medicastore, 2011)

Ca mammae adalah suatu penyakit pertumbuhan sel, akibat adanya onkogen yang menyebabkan sel normal menjadi sel kanker pada jaringan payudara (Karsono, 2006).

Carsinoma mammae atau kanker payudara adalah neoplasma ganas dengan pertumbuhan jaringan mammae abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya, tumbuh infiltrasi dan destruktif dapat bermetastase ( Soeharto Resko Prodjo, 1995).

Kanker payudara adalah terjadinya gangguan pertumbuhan yang ganas yang terjadi pada jaringan payudara. Kanker biasanya terdiri dari gumpalan yang keras dan kenyal tanpa adanya batas. Mungkin adanya garis asimetris antara kedua payudara.Bila kanker sudah berkembang, tanda-tanda akan lebih nyata sepeti jaringan menjadi merah,borok,membengkak dan kanker terlihat dengan jelas.

Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang terbanyak ditemukan di Indonesia.Biasanya kanker ini ditemukan pada umur 40-49 tahun dan letak terbanyak di kuadran lateral atas (Arif Mansjoer, Kapita selecta kedokteran Edisi 2 ).

Kelenjar susu merupakan sekumpulan kelenjar kulit. Pada lateral atasnya, jaringan kelenjar ini keluar dari buatannya ke arah aksila, disebut tonjolan spence atau ekor payudara.

Setiap payudara terdiri atas 12 sampai 20 lobulus kelenjar yang masing-masing mempunyai saluran ke papila mammae, yang disebut duktus laktiferus.

Pendarahan payudara terutama berasal dari cabang arteri Perforantes Anterior dari arteri Mammaria Interna, arteri torakalis yang bercabang dari arteri aksilaris dan beberapa arteri Interkostalis.

Penyaliran limfe dari daerah sentral dan medial yang selain menuju ke kelenjar sepanjang pembuluh mammaria interna, juga menuju ke aksila kontra lateral, ke m. rektus abdominis lewat ligamentum falsifarum hepatis ke hati, pleura dan payudara kontra lateral. (Sjamsuhidajat, 2004)

2. ETIOLOGI CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

Sebab-sebab keganasan pada mammae masih belum diketahui secara pasti (Price & Wilson, 1995), namun ada beberapa teori yang menjelaskan tentang penyebab terjadinya Ca mammae, yaitu:

Mekanisme hormonal

Steroid endogen (estradiol & progesterone) apabila mengalami perubahan dalam lingkungan seluler dapat mempengaruhi faktor pertumbuhan  bagi ca mammae (Smeltzer & Bare, 2002: 1589).

Virus

Invasi virus yang diduga ada pada air susu ibu menyebabkan adanya massa abnormal pada sel yang sedang mengalami proliferasi.

Genetik 

– Ca mammae yang bersifat herediter dapat terjadi karena adanya “linkage genetic”  autosomal dominan (Reeder, Martin, 1997).

– Penelitian tentang biomolekuler  kanker menyatakan delesi kromosom 17 mempunyai peranan penting untuk terjadinya transformasi malignan (Reeder,

Martin, 1997).

– mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2 biasanya ditemukan pada klien dengan riwayat keluarga kanker mammae dan ovarium (Robbin & kumar, 1995)

serta mutasi gen supresor tumor p 53 (Murray, 2002).

Defisiensi imun

Defesiensi imun terutama limfosit T  menyebabkan penurunan produksi interferon yang berfungsi untuk menghambat terjadinya proliferasi sel dan jaringan kanker dan meningkatkan aktivitas antitumor .

Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti. Namun beberapa faktor resiko pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara, yaitu :

  1. Tinggi melebihi 170 cm
  2. Masa reproduksi yang relatif panjang.
  3. Faktor Genetik
  4. Ca Payudara yang terdahulu
  5. Keluarga
    Diperkirakan 5 % semua kanker adalah predisposisi keturunan ini, dikuatkan bila 3 anggota keluarga terkena carsinoma mammae.
  6. Kelainan payudara ( benigna )

Kelainan fibrokistik ( benigna ) terutama pada periode fertil, telah ditunjukkan bahwa wanita yang menderita / pernah menderita yang porliferatif sedikit meningkat.

  1. Makanan, berat badan dan faktor resiko lain
  2. Faktor endokrin dan reproduksi

Graviditas matur kurang dari 20 tahun dan graviditas lebih dari 30 tahun, Menarche kurang dari 12 tahun

  1. Obat anti konseptiva oral

Penggunaan pil anti konsepsi jangka panjang lebih dari 12 tahun mempunyai resiko lebih besar untuk terkena kanker.

3. ANATOMI DAN FISIOLOGI

A. Anatomi Payudara

Payudara normal mengandung jaringan kelenjar, duktus, jaringan otot penyokong lemak, pembuluh darah, saraf dan pembuluh limfe. Pada bagian lateral ats kelenjr payudara, jaringan kelenjar ini keluar dari bulatannya kearah aksila, disebut penonjolan Spence atau ekor payudara. Setiap payudara terdiri atas 12-20 lobulus kelenjar yang masing-masing mempunyai saluran ke papilla mammae, yang disebut duktus lactiferous. Diantara kelenjar susu dan fasia pectoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut mungkin terdapat jaringan lemak. Diantara lobules tersebut ada jaringan ikat yang disebut ligamnetum cooper yang memberi rangka untuk payudara.

Perdarahan payudara terutama berasal dari cabang a. perforantes anterior dan a. mammaria interna, a. torakalis lateralis yang bercabang dari a. aksilaris, dan beberapa a. interkostalis.

Persarafan kulit payudara diurus oleh cabang pleksus servikalis dan n. interkostalis. Jaringan kelenjar payudara sendiri diurus saraf simpatik. Ada beberapa saraf lagi yang perlu diingat sehubungan dengan penyulit paralisis dan mati rasa pasca bedah, yakni  n. intercostalis dan n. kutaneus brakius medialis yang mengurus sensibilitas daerah aksila dan bagian medial lengan atas.

Penyaliran limfe dari payudara kurang lebih 75% ke aksila, sebagian lagi ke kelenjar parasternal, terutama dari bagian yang sentral dan medial dan adapula penyaliran yang ke kelenjar interpectoralis. Pada aksila terdapat rata-rata 50 buah kelenjar getah bening yang berada disepanjang arteri dan vena brakialis.

Jalur limfe lainnya berasal dari daerah sentral dan medial yang selain menuju ke kelenjar sepanjang pembuluh mammaria interna, juga menuju ke aksila kontralateral, ke m. rectus abdominis lewat ligamentum falsiparum hepatis ke hati, pleura dan payudara kontralateral.

  1. Fisiologi Payudara

Payudara merupakan kelenjar tubuloalveolar yang bercabang-cabang, terdiri atas 15-20 lobus yang dikelilingi oleh jaringan ikat dan lemak. Tiap lobus mempunyai duktus ekskretorius masing-masing yang akan bermuara pada puting susu, disebut duktus laktiferus, yang dilapisi epitel kuboid selapis yang rendah, lalu ke duktus alveolaris yang dilapisi epitel kuboid berlapis, kemudian bermuara ke duktus laktiferus yang berakhir pada putting susu.

Ada 3 hal fisiologik yang mempengaruhi payudara, yaitu :

a)     Pertumbuhan dan involusi berhubungan dengan usia

b)     Pertumbuhan berhubungan dengan siklus haid

c)      Perubahan karena kehamilan dan laktasi.

  1. PATOFISIOLOGI CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi:

  1. Fase Inisiasi

Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang  memancing sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini disebabkan oleh suatu agen yang disebut karsinogen, yang bisa berupa bahan kimia, virus, radiasi (penyinaran) atau sinar matahari. tetapi tidak semua sel memiliki kepekaan yang sama terhadap suatu karsinogen. kelainan genetik  dalam sel atau bahan lainnya yang disebut promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu karsinogen. bahkan gangguan fisik menahunpun bisa membuat sel menjadi lebih peka untuk mengalami suatu keganasan.

  1. Fase Promosi

Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah menjadi ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh oleh promosi. karena itu diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya keganasan (gabungan dari sel yang peka dan suatu karsinogen).

f

Kanker  mammae merupakan penyebab utama kematian pada wanita karena kanker (Maternity Nursing, 1997). Penyebab pasti belum diketahui, namun ada beberapa teori yang menjelaskan bagaimana terjadinya keganasan pada mammae, yaitu:

  • Mekanisme hormonal, dimana perubahan keseimbangan hormone estrogen dan progesterone yang dihasilkan oleh ovarium mempengaruhi factor pertumbuhan sel mammae (Smeltzer & Bare, 2002). Dimana salah satu fungsi estrogen adalah merangasang pertumbuhan sel mammae .
    Suatu penelitian menyatakan bahwa wanita yang diangkat ovariumnya pada usia muda lebih jarang ditemukan menderita karcinoma mammae, tetapi hal itu tidak membuktikan bahwa hormone estrogenlah yang, menyebabkan kanker  mammae pada manusia. Namun menarche dini dan menopause lambat ternyata disertai peninmgkatan resiko Kanker  mammae dan resiko kanker  mammae lebih tinggi pada wanita yang melahirkan anak pertama pada usia lebih dari 30 tahun.
  • Virus,  Invasi virus yang diduga ada pada air susu ibu menyebabkan adanya massa abnormal pada sel yang sedang mengalami proliferasi.\
  • Genetik

o    Kanker  mammae yang bersifat herediter dapat terjadi karena adanya “linkage genetic”  autosomal dominan.

o    Penelitian tentang biomolekuler  kanker menyatakan delesi kromosom 17     mempunyai peranan penting untuk terjadinya transformasi malignan.

o    mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2 biasanya ditemukan pada klien dengan riwayat keluarga kanker mammae dan ovarium (Robbin & kumar, 1995) serta mutasi gen supresor tumor p 53 (Murray, 2002).

  •  Defisiensi imun

Defesiensi imun terutama limfosit T  menyebabkan penurunan produksi interferon yang berfungsi untuk menghambat terjadinya proliferasi sel dan jaringan kanker dan meningkatkan aktivitas antitumor. Gangguan proliferasi tersebut akan menyebabkan timbulnya sel kanker pada jaringa epithelial dan paling sering pada system duktal. Mula-mula terjadi hyperplasia sel dengan perkembangan sel atipikal. Sel ini akan berlanjut menjadi karsinoma in situ dan menginvasi stroma. Kanker butuh waktu 7 tahun untuk dapat tumbuh dari sebuah sel tunggal menjadi massa yang cukup besar untuk bias diraba. Invasi sel kanker yang mengenai jaringan yang peka terhadap sensasi nyeri akan menimbulkan rasa nyeri, seperti periosteum dan pelksus saraf. Benjolan yang tumbuh dapat pecah dan terjadi ulserasi pada kanker lanjut.

Pertumbuhan sel terjadi irregular dan bisa menyebar melalui saluran limfe dan melalui aliran darah. Dari saluran limfe akan sampai di  kelenjer limfe menyebabkan terjadinya pembesaran kelenjer limfe regional. Disamping itu juga bisa menyebabkan edema limfatik dan kulit bercawak (peau d’ orange).  Penyebaran yang terjadi secara hematogen akan menyebabkan timbulnya metastasis pada jaringan  paru, pleura, otak tulang (terutama tulang tengkorak, vertebredan panggul)

Pada tahap terminal lanjut penderita umumnya menderita kehilangan progersif lemak tubuh dan badannya menjadi kurus disertai kelemahan yang sangat, anoreksia dan anemia. Simdrom yang melemahkan ini dinyatakan sebagai kakeksi kanker.

Pathway CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

 

  1. MANIFESTASI KLINIS CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

Gejala  umum Ca mamae adalah :

  • Teraba adanya massa atau benjolan pada payudara
  • Payudara tidak simetris / mengalami perubahan bentuk dan ukuran karena mulai timbul pembengkakan
  • Ada perubahan kulit : penebalan, cekungan, kulit pucat disekitar puting susu, mengkerut seperti kulit jeruk purut dan adanya ulkus pada payudara
  • Ada perubahan suhu pada kulit : hangat, kemerahan , panas
  • Ada cairan yang keluar dari puting susu
  • Ada perubahan pada puting susu : gatal, ada rasa seperti terbakar, erosi dan terjadi retraksi
  • Ada rasa sakit
  • Penyebaran ke tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan kadar kalsium darah meningkat
  • Ada pembengkakan didaerah lengan
  • Adanya rasa nyeri atau sakit pada payudara.
  • Semakin lama benjolan yang tumbuh semakin besar.
  • Mulai timbul luka pada payudara dan lama tidak sembuh meskipun sudah diobati, serta puting susu seperti koreng atau eksim dan tertarik ke dalam.
  • Kulit payudara menjadi berkerut seperti kulit jeruk (Peau d’ Orange).
  • Benjolan menyerupai bunga kobis dan mudah berdarah.
  • Metastase (menyebar) ke kelenjar getah bening sekitar dan alat tubuh lain
  1. PENTAHAPAN  CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

Pentahapan mencangkup mengklasifikasikan kanker payudara berdasarkan pada keluasan penyakit. Pentahapan segala bentuk kanker sangat penting karena hal ini dapat membantu tim perawatan kesehatan merekomendasikan pengobatan terbaik yang ada, memberikan prognosis, dan beberapa pemeriksaan darah dan prosedur diagnostik dilakukan dalam petahapan penyakit. Pemeriksaaan dan prosedur ini mencankup rontgen dada, pemindaian tulang, dan fungsi hepar, pentahapan klinik yang paling banyak digunakan untuk kanker payudara adalah sistem klasifikasi TNM yang mengevaluasi ukuran tumor, jumlah nodus limfe yang terkena, dan bukti adanya metastasis yang jauh.

Tumor primer (T) :

  1. Tx : Tumor primer tidak dapat ditentukan
  2. T0 : Tidak terbukti adanya tumor primer
  3. Tis : Kanker in situ, paget dis pada papila tanpa teraba tumor
  4. T1 :Tumor <>
  1. T1a : Tumor <>
  2. T1b :Tumor 0,5 – 1 cm
  3. T1c :Tumor 1 – 2 cm
  4. T4a : Melekat pada dinding dada
  5. T4b : Edema kulit, ulkus, peau d’orange
  6. T4c : T4a dan T4b
  7. T4d : Mastitis karsinomatosis
  1. T2 :Tumor 2 – 5 cm
  2. T3 : Tumor diatas 5 cm
  3. T4 : Tumor tanpa memandang ukuran, penyebaran langsung ke dinding thorax atau kulit :

Nodus limfe regional (N) :

  1. Nx : Pembesaran kelenjar regional tidak dapat ditentukan
  1. N0 : Tidak teraba kelenjar axila
  2. N1 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang tidak melekat
  3. N2 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang melekat satu sama lain atau melekat pada jaringan sekitarnya
  4. N3 : Terdapat kelenjar mamaria interna homolateral

Metastas jauh (M) :

  1. Mx : Metastase jauh tidak dapat ditentukan
  2. M0 : Tidak ada metastase jauh
  3. M1 : Terdapat metastase jauh, termasuk kelenjar subklavikula

Kanker payudara mempunyai 4 stadium, yaitu:

  1. Stadium I

Tumor yang berdiameter kurang 2 cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh. Tumor terbatas pada payudara dan tidak terfiksasi pada kulit dan otot pektoralis.

  1. Stadium IIa

Tumor yang berdiameter kurang 2 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter kurang 5 cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh.

  1. Stadium IIb

Tumor yang berdiameter kurang 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter lebih 5 cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh.

  1. Stadium IIIa

Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) tanpa penyebaran jauh.

  1. Stadium IIIb

Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan terdapat penyebaran jauh berupa metastasis ke supraklavikula dengan keterlibatan limfonodus (LN) supraklavikula atau metastasis ke infraklavikula atau menginfiltrasi / menyebar ke kulit atau dinding toraks atau tumor dengan edema pada tangan.

Tumor telah menyebar ke dinding dada atau menyebabkan pembengkakan bisa juga luka bernanah di payudara. Didiagnosis sebagai Inflamatory Breast Cancer. Bisa sudah atau bisa juga belum menyebar ke pembuluh getah bening di ketiak dan lengan atas, tapi tidak menyebar ke bagian lain dari organ tubuh

  1. Stadium IIIc

Ukuran tumor bisa berapa saja dan terdapat metastasis kelenjar limfe infraklavikular ipsilateral, atau bukti klinis menunjukkan terdapat metastasis kelenjar limfe mammaria interna dan metastase kelenjar limfe aksilar, atau metastasis kelenjar limfe supraklavikular ipsilateral

  1. Stadium IV

Tumor yang mengalami metastasis jauh, yaitu : tulang, paru-paru, liver atau tulang rusuk.

Status penampilan (performance status) kanker menurut WHO (1979) :

  1. 0 : Baik, dapat bekerja normal.
  2. 1 : Cukup, tidak dapat bekerja berat namun bekerja ringan bisa.
  3. 2 : Lemah, tidak dapat bekerja namun dapat berjalan dan merawat diri sendiri 50% dari waktu sadar.
  4. 3 : Jelek, tidak dapat berjalan, dapat bangun dan merawat diri sendiri, perlu tiduran lebih 50% dari waktu sadar.
  5. 4 : Jelek sekali, tidak dapat bangun dan tidak dapat merawat diri sendiri, hanya tiduran saja.
  1. PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA
  2. Pemeriksaan labortorium meliputi: Morfologi sel darah, LED, Test fal marker (CEA) dalam serum/plasma, Pemeriksaan sitologis
  3. Test diagnostik lain:
  • Non invasive: Mamografi, Ro thorak, USG, MRI, PET
  • Invasif : BiopsiAspirasi biopsy (FNAB)True cut / Care biopsyIncisi biopsyEksisi biopsy

Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan :

  1. Pemeriksaan payudara sendiri
  2. Pemeriksaan payudara secara klinis
  3. Pemeriksaan manografi
  4. Biopsi aspirasi
  5. True cut
  6. Biopsi terbuka
  7. USG Payudara, pemeriksaan darah lengkap, X-ray dada, therapy medis, pembedahan, terapi radiasi dan kemoterapi.
LAPORAN PENDAHULUAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA
LAPORAN PENDAHULUAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA
  1. KOMPLIKASI

Metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe (limfogen) ke paru,pleura, tulang dan hati.

Selain itu Komplikasi Ca Mammae yaitu:

  1. metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe dan pembuluh darahkapiler ( penyebaran limfogen dan hematogen0, penyebarab hematogen dan limfogen dapat mengenai hati, paru, tulang, sum-sum tulang ,otak ,syaraf.
  2. gangguan neuro varkuler
  3. Faktor patologi
  4. Fibrosis payudara
  5. kematian
  1. PENATALAKSANAAN MEDIS CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA
  2. Pembedahan
  3. Mastectomy radikal yang dimodifikasi

Pengangkatan payudara sepanjang nodu limfe axila sampai otot pectoralis mayor. Lapisan otot pectoralis mayor tidak diangkat namun otot pectoralis minor bisa jadi diangkat atau tidak diangkat.

  1. Mastectomy total

Semua jaringan payudara termasuk puting dan areola dan lapisan otot pectoralis mayor diangkat. Nodus axila tidak disayat dan lapisan otot dinding dada tidak diangkat.

  1. Lumpectomy/tumor

Pengangkatan tumor dimana lapisan mayor dri payudara tidak turut diangkat. Exsisi dilakukan dengan sedikitnya 3 cm jaringan payudara normal yang berada di sekitar tumor tersebut.

  1. Wide excision/mastektomy parsial.

Exisisi tumor dengan 12 tepi dari jaringan payudara normal.

  1. Ouadranectomy.

Pengangkatan dan payudara dengan kulit yang ada dan lapisan otot pectoralis mayor.

  1. Radiotherapy

Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula merupakan therapi tunggal. Adapun efek samping: kerusakan kulit di sekitarnya, kelelahan, nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis, radang tenggorokan.

  1. Chemotherapy

Pemberian obat-obatan anti kanker yang sudah menyebar dalam aliran darah. Efek samping: lelah, mual, muntah, hilang nafsu makan, kerontokan membuat, mudah terserang penyakit.

  1. Manipulasi hormonal.

Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk kanker yang sudah bermetastase. Dapat juga dengan dilakukan bilateral oophorectomy. Dapat juga digabung dengan therapi endokrin lainnya.\

ASUHAN KEPERAWATAN CA MAMMAE

  1. PENGKAJIAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA
  2. Riwayat Kesehatan Sekarang

Biasanya klien masuk ke rumah sakit karena merasakan adanya benjolan yang menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak dan nyeri.

  1. Riwayat Kesehatan Dahulu

Adanya riwayat ca mammae sebelumnya atau ada kelainan pada mammae, kebiasaan makan tinggi lemak, pernah mengalami sakit pada bagian dada sehingga pernah mendapatkan penyinaran pada bagian dada, ataupun mengidap penyakit kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.

  1. Riwayat Kesehatan Keluarga

Adanya keluarga yang mengalami ca mammae berpengaruh pada kemungkinan klien mengalami ca mammae atau pun keluarga klien pernah mengidap penyakit kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.

  1. Pemeriksaan Fisik
  2. Kepala       : normal, kepala tegak lurus, tulang kepala umumnya bulat dengan tonjolan frontal di bagian anterior dan oksipital dibagian posterior.
  3. Rambut     : biasanya tersebar merata, tidak terlalu kering, tidak terlalu berminyak.
  4. Mata          : biasanya tidak ada gangguan bentuk dan fungsi mata. Mata anemis, tidak ikterik, tidak ada nyeri tekan.
  5. Telinga      : normalnya bentuk dan posisi simetris. Tidak ada tanda-tanda infeksi dan tidak ada gangguan fungsi pendengaran.
  6. Hidung      : bentuk dan fungsi normal, tidak ada infeksi dan nyeri tekan.
  7. Mulut        : mukosa bibir kering, tidak ada gangguan perasa.
  8. Leher         : biasanya terjadi pembesaran KGB.
  9. Dada         : adanya kelainan kulit berupa peau d’orange, dumpling, ulserasi atau tanda-tanda radang.
  10. Hepar        : biasanya tidak ada pembesaran hepar.
  11. Ekstremitas: biasanya tidak ada gangguan pada ektremitas.
  12. Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon
  13. Persepsi dan Manajemen

Biasanya klien tidak langsung memeriksakan benjolan yang terasa pada payudaranya kerumah sakit karena menganggap itu hanya benjolan biasa.

  1. Nutrisi – Metabolik

Kebiasaan diet buruk, biasanya klien akan mengalami anoreksia, muntah dan terjadi penurunan berat badan, klien juga ada riwayat mengkonsumsi makanan mengandung MSG.

  1. Eliminasi

Biasanya terjadi perubahan pola eliminasi, klien akan mengalami melena, nyeri saat defekasi, distensi abdomen dan konstipasi.

  1. Aktivitas dan Latihan

Anoreksia dan muntah dapat membuat pola aktivitas dan lathan klien terganggu karena terjadi kelemahan dan nyeri.

  1. Kognitif dan Persepsi

Biasanya klien akan mengalami pusing pasca bedah sehingga kemungkinan ada komplikasi pada kognitif, sensorik maupun motorik.

  1. Istirahat dan Tidur

Biasanya klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri.

  1. Persepsi dan Konsep Diri

Payudara merupakan alat vital bagi wanita. Kelainan atau kehilangan akibat operasi akan membuat klien tidak percaya diri, malu, dan kehilangan haknya sebagai wanita normal.

  1. Peran dan Hubungan

Biasanya pada sebagian besar klien akan mengalami gangguan dalam melakukan perannya dalam berinteraksi social.

  1. Reproduksi dan Seksual

Biasanya aka nada gangguan seksualitas klien dan perubahan pada tingkat kepuasan.

  1. Koping dan Toleransi Stress

Biasanya klien akan mengalami stress yang berlebihan, denial dan keputus asaan.

  1. Nilai dan Keyakinan

Diperlukan pendekatan agama supaya klien menerima kondisinya dengan lapang dada.

Pemeriksaan Diagnostik

  1. Scan (mis, MRI, CT, gallium) dan ultrasound. Dilakukan untuk diagnostik, identifikasi metastatik dan evaluasi.
  2. biopsi : untuk mendiagnosis adanya BRCA1 dan BRCA2
  3. Penanda tumor
  4. Mammografi
  5. sinar X dada
  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA
  2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pembedahan, mis; anoreksia
  3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses pembedahan
  4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pengangkatan bedah jaringan
  5. Ansietas  berhubungan dengan  diagnosa, pengobatan, dan prognosanya .
  6. Kurang pengetahuan tentang Kanker  mammae berhubungan dengan kurang pemajanan informasi
  7. Gangguan body image berhubungan dengan kehilangan bagian dan fungsi tubuh
  8. Potensial disfungsi seksual berhubungan dengan kehilangan bagian tubuh, perubahan dalam citra diri

    C.    PERENCANAAN KEPERAWATAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE) / KANKER PAYUDARA
DIAGNOSA KEP. NOC NIC
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pembedahan, mis; anoreksia NOC :

v  Nutritional Status : food and Fluid Intake

Kriteria Hasil :

v  Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan

v  Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan

v  Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi

v  Tidak ada tanda tanda malnutrisi

v  Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

NIC :

Nutrition Management

§  Kaji adanya alergi makanan

§  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.

§  Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe

§  Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C

§  Berikan substansi gula

§  Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi

§  Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)

§  Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.

§  Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori

§  Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi

§  Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan

Nutrition Monitoring

§  BB pasien dalam batas normal

§  Monitor adanya penurunan berat badan

§  Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan

§  Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan

§  Monitor lingkungan selama makan

§  Jadwalkan pengobatan  dan tindakan tidak selama jam makan

§  Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi

§  Monitor turgor kulit

§  Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah

§  Monitor mual dan muntah

§  Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht

§  Monitor makanan kesukaan

§  Monitor pertumbuhan dan perkembangan

§  Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva

§  Monitor kalori dan intake nuntrisi

§  Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral.

§  Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet

Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses pembedahan NOC :

v  Pain Level,

v  Pain control,

v  Comfort level

Kriteria Hasil :

v  Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)

v  Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri

v  Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)

v  Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

v  Tanda vital dalam   rentang normal

NIC :

Pain Management

§  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

§  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

§  Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien

§  Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri

§  Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau

§  Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau

§  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan

§  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan

§  Kurangi faktor presipitasi nyeri

§  Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)

§  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi

§  Ajarkan tentang teknik non farmakologi

§  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri

§  Evaluasi keefektifan kontrol nyeri

§  Tingkatkan istirahat

§  Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil

§  Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

Analgesic Administration

§  Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat

§  Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi

§  Cek riwayat alergi

§  Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu

§  Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri

§  Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal

§  Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur

§  Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali

§  Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat

§  Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)

Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pengangkatan bedah jaringan NOC : Tissue Integrity : Skin and Mucous Membranes

Kriteria Hasil :

v  Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas,   temperatur, hidrasi, pigmentasi)

v  Tidak ada luka/lesi pada kulit

v  Perfusi jaringan baik

v  Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya sedera berulang

v  Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami

NIC : Pressure Management

  • Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
  • Hindari kerutan padaa tempat tidur
  • Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
  • Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali
  • Monitor kulit akan adanya kemerahan
  • Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan
  • Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
  • Monitor status nutrisi pasien
Ansietas  berhubungan dengan  diagnosa, pengobatan, dan prognosanya . NOC :

v  Anxiety control

v  Coping

Kriteria Hasil :

v  Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas

v  Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas

v  Vital sign dalam batas normal

v  Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan

NIC :

Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)

  •          Gunakan pendekatan yang menenangkan

·         Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien

  • Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur

·         Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut

·         Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis

·         Dorong keluarga untuk menemani anak

·         Lakukan back / neck rub

·         Dengarkan dengan penuh perhatian

·         Identifikasi tingkat kecemasan

·         Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan

·         Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi

·         Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi

·         Barikan obat untuk mengurangi kecemasan

Kurang pengetahuan tentang penyakit, perawatan,pengobatan

kurang paparan terhadap informasi

NOC :

v  Kowlwdge : disease process

v  Kowledge : health Behavior

Kriteria Hasil :

v  Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan

v  Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar

v  Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya

Teaching : Dissease Process

– Kaji  tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang proses penyakit

-Jelaskan tentang patofisiologi penyakit, tanda dan gejala serta penyebabnya

-Sediakan informasi tentang kondisi klien

-Berikan informasi tentang perkembangan klien

-Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau kontrol proses penyakit

-Jelaskan alasan dilaksanakannya tindakan atau terapi

-Gambarkan komplikasi yang mungkin terjadi

-Anjurkan klien untuk mencegah efek samping dari penyakit

-Gali sumber-sumber atau dukungan yang ada

-Anjurkan klien untuk melaporkan tanda dan gejala yang muncul pada petugas kesehatan

Gangguan body image berhubungan dengan kehilangan bagian dan fungsi tubuh 1)      Klien tidak malu dengan keadaan dirinya.

2)      Klien dapat menerima efek pembedahan.

  • Diskusikan dengan klien atau orang terdekat respon klien terhadap penyakitnya.

Rasional : membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses pemecahan masalah

  • Tinjau ulang efek pembedahan

Rasional : bimbingan antisipasi dapat membantu pasien memulai proses adaptasi.

  • Berikan dukungan emosi klien.

Rasional : klien bisa menerima keadaan dirinya.

  • Anjurkan keluarga klien untuk selalu mendampingi klien.

Rasional : klien dapat merasa masih ada orang yang memperhatikannya.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah vol 2. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius

Marilyan, Doenges E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman untuk perencanaan dan  pendokumentasian perawatyan px) Jakarta : EGC

Closkey ,Joane C. Mc, Gloria M. Bulechek.(1996). Nursing Interventions Classification (NIC). St. Louis :Mosby Year-Book.

Johnson,Marion, dkk. (2000). Nursing Outcome Classifications (NOC). St. Louis :Mosby Year-Book

Juall,Lynda,Carpenito Moyet. (2003).Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 10.Jakarta:EGC

Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4. Jakarta. EGC

Sjamsulhidayat, R. dan Wim de Jong. 1998. Buku Ajar Imu Bedah, Edisi revisi. EGC : Jakarta.

Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah : Brunner Suddarth, Vol. 2. EGC : Jakarta.

Sjamsuhidajat. R (1997), Buku ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta

Wiley dan Blacwell. (2009). Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2009-2011, NANDA.Singapura:Markono print Media Pte Ltd

(Reeder, Martin, 1997).

Add a comment August 23, 2017

Pemeriksaan Fisik Head To Toe

BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari seorang ahli medis memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. Hasil pemeriksaan akan dicatat dalam rekam medis. Rekam medis dan pemeriksaan fisik akan membantu dalam penegakkan diagnosis dan perencanaan perawatan pasien.Biasanya, pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis, mulai dari bagian kepala dan berakhir pada anggota gerak. Setelah pemeriksaan organ utama diperiksa dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi, beberapa tes khusus mungkin diperlukan seperti test neurologi.

Dengan petunjuk yang didapat selama pemeriksaan riwayat dan fisik, ahli medis dapat menyususn sebuah diagnosis diferensial,yakni sebuah daftar penyebab yang mungkin menyebabkan gejala tersebut. Beberapa tes akan dilakukan untuk meyakinkan penyebab tersebut. Sebuah pemeriksaan yang lengkap akan terdiri diri penilaian kondisi pasien secara umum dan sistem organ yang spesifik. Dalam prakteknya, tanda vital atau pemeriksaan suhu, denyut dan tekanan darah selalu dilakukan pertama kali.

1.2    Rumusan Masalah

  1. Apakah itu pemeriksaan fisik  ?
  2. Apakah tujuan dari pemeriksaan fisik ?
  3. Bagaimana metode dan langkah pemeriksaan fisik ?
  4. Seperti apa pemeriksaan tanda vital ?
  5. Bagaimana pemeriksaan fisik head to toe ?
  6. Bagaimana pemeriksaan fisik per sistem ?
  7. Bagaimana proses keperawatan : tahapan dalam proses keperawatan (pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, tujuan keperawatan, rencana keperawatan, tindakan keperawatan, evaluasi keperawatan) ?

1.3    Tujuan

Makalah ini di buat dengan  tujuan agar mahasiswa, tenaga medis khususnya kami dapat memahami dan mengaplikasikannya di dalam asuhan keperawatan mengenai prosedur pemeriksaan fisik.

1.4    Manfaat

Makalah ini di buat oleh kami agar meminimalisir kesalahan dalam tindakan praktik keperawatan yang di sebabkan oleh ketidakpahaman dalam prosedur pemeriksaan fisik dalam keperawatan sehingga berpengaruh besar terhadap kesehatan klien.

BAB II

PEMBAHASAN

 2.1 Definisi Pemeriksaan Fisik.

Pemeriksaan fisik berasal dari kata “Physical Examination” yang artinya memeriksa tubuh. Jadi pemeriksaan fisik adalah memeriksa tubuh dengan atau tanpa alat untuk tujuan mendapatkan informasi atau data yang menggambarkan kondisi klien yang sesungguhnya.

Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan tubuh pasien secara keseluruhan atau hanya beberapa bagian saja yang perlu oleh tim medis yang bersangkutan.

Pemeriksan fisik adalah pemeriksaan tubuh untuk menentukan adanya kelainan-kelainan dari suatu sistim atau suatu organ tubuh dengan cara melihat (inspeksi), meraba (palpasi), mengetuk (perkusi) dan mendengarkan (auskultasi). (Raylene M Rospond,2009; Terj D. Lyrawati,2009).

Pemeriksaan fisik adalah metode pengumpulan data yang sistematik dengan memakai indera penglihatan, pendengaran, penciuman, dan rasa untuk mendeteksi masalah kesehatan klien.Untuk pemeriksaan fisik perawat menggunakan teknik inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi (Craven & Hirnle, 2000; Potter & Perry, 1997; Kozier et al., 1995).

Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh klien secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang dianggap perlu, untuk memperoleh data yang sistematif dan komprehensif, memastikan/membuktikan hasil anamnesa, menentukan masalah dan merencanakan tindakan keperawatan yang tepat bagi klien. ( Dewi Sartika, 2010)

Pemeriksaan fisik dalam keperawatan digunakan untuk mendapatkan data objektif dari riwayat keperawatan klien. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan bersamaan dengan wawancara. Fokus pengkajian fisik keperawatan adalah pada kemampuan fungsional klien. Misalnya ketika klien mengalami gangguan sistem muskuloskeletal, maka perawat mengkaji apakah gangguan tersebut mempengaruhi klien dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari atau tidak.

2.2 Tujuan pemeriksaan fisik.

Tujuan dari pemeriksaan fisik yaitu :

  1. Mengkaji secara umum dari status umum keadaan klien.
  2. Mengkaji fungsi fisiologi dan patologis atau gangguan.
  3. Mengenal secara dini adanya masalah keperawatan klien baik aktual maupun resiko.
  4. Merencanakan cara mengatasi permasalahan yang ada,serta menghindari masalah yang mungkin terjadi.

Dalam literature lain dibahas bahwa tujuan dari pemeriksaan fisik adalah :

  1. Memperoleh data dasar tentang kemampuan fungsional klien atau keadaan tubuh pasien.
  2. Memperoleh data untuk merumuskan diagnosis keperawatan dan rencana keperawatan.
  3. Mengevaluasi hasil kesehatan fisik dan kemajuan masalah klien.

2.3 Metode dan teknik pemeriksaan fisik.

  1. Inspeksi.

Merupakan metode pemeriksaan pasien dengan melihat langsung seluruh tubuh pasien atau hanya bagian tertentu yang diperlukan. Metode ini berupaya melihat kondisi klien dengan menggunakan ‘sense of sign’ baik melalui mata telanjang atau alat bantu penerangan (lampu). Inspeksi adalah kegiatan aktif, proses ketika perawat harus mengetahui apa yang dilihatnya dan dimana lokasinya. Metode inspeksi ini digunakan untuk mengkaji warna kulit, bentuk, posisi, ukuran dan lainnya dari tubuh pasien.

Pemeriksa menggunakan indera penglihatan berkonsentrasi untuk melihat pasien secara seksama, persistem dan tidak terburu-buru sejak pertama bertemu dengan cara memperoleh riwayat pasien dan terutama sepanjang pemeriksaan fisik dilakukan. Inspeksi juga menggunakan indera pendengaran dan penciuman untuk mengetahui lebih lanjut, lebih jelas dan lebih memvalidasi apa yang dilihat oleh mata dan dikaitkan dengan suara atau bau dari pasien. Pemeriksa kemudian akan mengumpulkan dan menggolongkan informasi yang diterima oleh semua indera tersebut yang akan membantu dalam membuat keputusan diagnosis atau terapi.
Cara pemeriksaan :

  1. Posisi pasien dapat tidur, duduk atau berdiri

2) Bagian tubuh yang diperiksa harus terbuka (diupayakan pasien membuka sendiri pakaiannya. Sebaiknya pakaian tidak dibuka sekaligus, namun dibuka seperlunya untuk pemeriksaan sedangkan bagian lain ditutupi selimut).

3) Bandingkan bagian tubuh yang berlawanan (kesimetrisan) dan abnormalitas.Contoh : mata kuning (ikterus), terdapat struma di leher, kulit kebiruan(sianosis), dan lain-lain.

4) Catat hasilnya.

  1. Palpasi

Merupakan metode pemeriksaan pasien dengan menggunakan ‘sense of touch’ Palpasi adalah suatu tindakan pemeriksaan yang dilakukan dengan perabaan dan penekanan bagian tubuh dengan menggunakan jari atau tangan. Tangan dan jari-jari adalah instrumen yang sensitif digunakan untuk mengumpulkan data, misalnya metode palpasi ini dapat digunakan untuk mendeteksi suhu tubuh(temperatur), adanya getaran, pergerakan, bentuk, kosistensi dan ukuran.

Rasa nyeri tekan dan kelainan dari jaringan/organ tubuh. Teknik palpasi dibagi menjadi dua:
a) Palpasi ringan

Caranya : ujung-ujung jari pada satu/dua tangan digunakan secara simultan. Tangan diletakkan pada area yang dipalpasi, jari-jari ditekan kebawah perlahan-lahan sampai ada hasil.
b) Palpasi dalam (bimanual)

Caranya : untuk merasakan isi abdomen, dilakukan dua tangan. Satu tangan untuk merasakan bagian yang dipalpasi, tangan lainnya untuk menekan ke bawah. Dengan Posisi rileks, jari-jari tangan kedua diletakkan melekat pada jari-jari pertama.
Cara pemeriksaan :

1) Posisi pasien bisa tidur, duduk atau berdiri.

2) Pastikan pasien dalam keadaan rilek dengan posisi yang nyaman.

3) Kuku jari-jari pemeriksa harus pendek, tangan hangat dan kering.

4) Minta pasien untuk menarik napas dalam agar meningkatkan relaksasi otot.

5) Lakukan Palpasi dengan sentuhan perlahan-lahan dengan tekanan ringan.

6) Palpasi daerah yang dicurigai, adanya nyeri tekan menandakan kelainan.

7) Lakukan Palpasi secara hati-hati apabila diduga adanya fraktur tulang.

8) Hindari tekanan yang berlebihan pada pembuluh darah.

9) Rasakan dengan seksama kelainan organ/jaringan, adanya nodul, tumor bergerak/tidak dengan konsistensi padat/kenyal, bersifat kasar/lembut, ukurannya dan ada/tidaknya getaran/ trill, serta rasa nyeri raba / tekan.

10) Catatlah hasil pemeriksaan yang didapat.

  1. Perkusi

Perkusi adalah suatu tindakan pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi getaran/ gelombang suara yang dihantarkan kepermukaan tubuh dari bagian tubuh yang diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan ketokan jari atau tangan pada permukaan tubuh. Perjalanan getaran/ gelombang suara tergantung oleh kepadatan media yang dilalui. Derajat bunyi disebut dengan resonansi. Karakter bunyi yang dihasilkan dapat menentukan lokasi, ukuran, bentuk, dan kepadatan struktur di bawah kulit. Sifat gelombang suara yaitu semakin banyak jaringan, semakin lemah hantarannya dan udara/ gas paling resonan.

Cara pemeriksaan :

1) Posisi pasien dapat tidur, duduk atau berdiri tergantung bagian yang akan diperiksa.
2) Pastikan pasien dalam keadaan rilex.

3) Minta pasien untuk menarik napas dalam agar meningkatkan relaksasi otot.

4) Kuku jari-jari pemeriksa harus pendek, tangan hangat dan kering.

5) Lakukan perkusi secara seksama dan sistimatis yaitu dengan :

  • Metode langsung yaitu mengentokan jari tangan langsung dengan menggunakan 1 atau 2 ujung jari.
  • Metode tidak langsung dengan cara sebagai berikut : Jari tengah tangan kiri di letakkan dengan lembut di atas permukaan tubuh, ujung jari tengah dari tangan kanan, untuk mengetuk persendian, Pukulan harus cepat dengan lengan tidak bergerak dan pergelangan tangan rilek, Berikan tenaga pukulan yang sama pada setiap area tubuh.

6). Bandingkan atau perhatikan bunyi yang dihasilkan oleh perkusi.

  1. Bunyi timpani mempunyai intensitas keras, nada tinggi, waktu agak lama dan kualitas seperti drum (lambung).
  2. Bunyi resonan mempunyai intensitas menengah, nada rendah, waktu lama, kualitas bergema (paru normal).
  3. Bunyi hipersonar mempunyai intensitas amat keras, waktu lebih lama, kualitas ledakan (empisema paru).
  4. Bunyi pekak mempunyai intensitas lembut sampai menengah, nada tinggi, waktu agak lama kualitas seperti petir (hati).
  1. Auskultasi.

Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarkan suara yang dihasilkan oleh tubuh. Biasanya menggunakan alat yang disebut dengan stetoskop. Hal-hal yang didengarkan adalah: bunyi jantung, suara nafas, dan bising usus.

Penilaian pemeriksaan auskultasi meliputi :

1) Frekuensi yaitu menghitung jumlah getaran permenit.

2) Durasi yaitu lama bunyi yang terdengar.

3) Intensitas bunyi yaitu ukuran kuat/ lemahnya suara.

4) Kualitas yaitu warna nada/ variasi suara.
Suara tidak normal yang dapat diauskultasi pada nafas adalah :

  1. Rales : suara yang dihasilkan dari eksudat lengket saat saluran-saluran halus pernafasan mengembang pada inspirasi (rales halus, sedang, kasar). Misalnya pada klien pneumonia, TBC.
    2. Ronchi : nada rendah dan sangat kasar terdengar baik saat inspirasi maupun saat ekspirasi. Ciri khas ronchi adalah akan hilang bila klien batuk. Misalnya pada edema paru.
    3. Wheezing : bunyi yang terdengar “ngiii….k”. bisa dijumpai pada fase inspirasi maupun ekspirasi. Misalnya pada bronchitis akut, asma.
  2. Pleura Friction Rub ; bunyi yang terdengar “kering” seperti suara gosokan amplas pada kayu. Misalnya pada klien dengan peradangan pleura.

Cara pemeriksaan :

1) Posisi pasien dapat tidur, duduk atau berdiri tergantung bagian yang diperiksa dan bagian tubuh yang diperiksa harus terbuka.

2) Pastikan pasien dalam keadaan rilek dengan posisi yang nyaman.

3) Pastikan stetoskop sudah terpasang baik dan tidak bocor antara bagian kepala, selang dan telinga.
4) Pasanglah ujung steoskop bagian telinga ke lubang telinga pemeriksa sesuai arah.

5) Hangatkan dulu kepala stetoskop dengan cara menempelkan pada telapak tangan

Pemeriksa.
6) Tempelkan kepala stetoskop pada bagian tubuh pasien yang akan diperiksa.

7) Pergunakanlah bel stetoskop untuk mendengarkan bunyi bernada rendah pada tekanan ringan yaitu pada bunyi jantung dan vaskuler dan gunakan diafragma untuk bunyi bernada tinggi seperti bunyi usus dan paru.
2.4 Pemeriksaan tanda vital.

Pemeriksaan tanda vital merupakan bagian dari data dasar yang dikumpulkan oleh perawat selama pengkajian. Perawat mengkaji tanda vital kapan saja klien masuk ke bagian perawatan kesehatan. Tanda vital dimasukkan ke pengkajian fisik secara menyeluruh atau diukur satu persatu untuk mengkaji kondisi klien. Penetapan data dasar dari tanda vital selama pemeriksaan fisik rutin merupakan control terhadap kejadian yang akan datang.
Pemeriksaan tanda vital terdiri atas pemeriksaan nadi, pernafasan, tekanan darah dan suhu. Pemeriksaan ini merupakan bagian penting dalam menilai fisiologis dari sistem tubuh secara keseluruhan.
1. Pemeriksaan Nadi

Denyut nadi merupakan denyutan atau dorongan yang dirasakan dari proses pemompaan jantung. Setiap kali bilik kiri jantung menegang untuk menyemprotkan darah ke aorta yang sudah penuh, maka dinding arteria dalam sistem peredaran darah mengembang atau mengembung untuk mengimbnagi bertambahnya tekanan. Mengembangnya aorta menghasilkan gelombang di dinding aorta yang akan menimbulkan dorongan atau denyutan.

Tempat-tempat menghitung denyut nadi adalah:

  1. Ateri radalis : Pada pergelangan tangan.
  2. Arteri temporalis : Pada tulang pelipis.
  3. Arteri carotis : Pada leher.
  4. Arteri femoralis : Pada lipatan paha.
  5. Arteri dorsalis pedis : Pada punggung kaki.
  6. Arteri poplitea : pada lipatan lutut.
  7. Arteri bracialis : Pada lipatan siku.

Jumlah denyut nadi yang normal berdasarkan usia seseorang adalah:

Bayi baru lahir : 110 – 180 kali per menit

Dewasa : 60 – 100 kali per menit

Usia Lanjut : 60 -70 kali per menit

  1. Pemeriksaan Tekanan Darah

Pemeriksaan tekanan darah dapat dilakukan. Beberapa langkah yang dilakukan pada pemeriksaan tekanan darah menggunakan sfigmomanometer air raksa. Tempat untuk mengukur tekanan darah seseorang adalah : Lengan atas atau Pergelangan kaki. Langkah pemeriksaan :
1. Memasang manset pada lengan atas, dengan batas bawah manset 2 – 3 cm dari lipat siku dan perhatikan posisi pipa manset yang akan menekan tepat di atas denyutan arteri di lipat siku ( arteri brakialis).

  1. Letakkan stetoskop tepat di atas arteri brakialis.
  2. Rabalah pulsasi arteri pada pergelangan tangan (arteri radialis).
  3. Memompa manset hingga tekanan manset 30 mmHg setelah pulsasi arteri radialis

menghilang.

  1. Membuka katup manset dan tekanan manset dibirkan menurun perlahan dengan kecepatan 2-3 mmHg/detik.
  2. Bila bunyi pertama terdengar , ingatlah dan catatlah sebagai tekanan sistolik.
  3. Bunyi terakhir yang masih terdengar dicatat sebagai tekanan diastolic.
  4. Turunkan tekanan manset sampai 0 mmHg, kemudian lepaskan manset.

Yang harus diperhatikan sebelum melakukan pemeriksaan tekanan darah sebaiknya sebelum dilakukan pemeriksaan pastikan kandung kemih klien kosong dan hindari alkohol dan rokok, karena semua hal tersebut akan meningkatkan tekanan darah dari nilai sebenarnya. Sebaiknya istirahat duduk dengan tenang selama 5 menit sebelum pemeriksaan dan jangan berbicara saat pemeriksaan. Pikiran harus tenang, karena pikiran yang tegang dan stress akan meningkatkan tekanan darah. Jumlah tekanan darah yang normal berdasarkan usia seseorang adalah:

  1. Bayi usia di bawah 1 bulan : 85/15 mmHg
  2. Usia 1 – 6 bulan : 90/60 mmHg
  3. Usia 6 – 12 bulan : 96/65 mmHg
  4. Usia 4 – 6 tahun : 100/60 mmHg
  5. Usia 6 – 8 tahun : 105/60 mmHg
  6. Usia 8 – 10 tahun : 110/60 mmHg
  7. Usia 10 – 12 tahun : 115/60 mmHg
  8. Usia 12 – 14 tahun : 118/60 mmHg
  9. Usia 14 – 16 tahun : 120/65 mmHg
  10. Usia 16 tahun ke atas : 130/75 mmHg
  11. Usia lanjut : 130-139/85-89 mmHg
  1. Pemeriksaan Pernafasan.

Pemeriksaan Pernafasan merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai proses pengambilan oksigen dan pengeluaran karbondioksida. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai frekwensi, irama, kedalaman, dan tipe atau pola pernafasan. Pernapasan adalah tanda vital yang paling mudah di kaji namun paling sering diukur secara sembarangan. Perawat tidak boleh menaksir pernapasan. Pengukuran yang akurat memerlukan observasi dan palpasi gerakan dinding dada.

Tabel frekuensi nafas per menit berdasarkan usia,

USIA FREKUENSI NAFAS PER MENIT
Bayi baru lahir 30-50
Bayi (6 bulan) 35-40
Toodler 25-32
Anak-anak 20-30
Remaja 16-19
Dewasa 12-20

Tabel pola pernafasan.

POLA PERNAFASAN DESKRIFSI
Dispnea Susah bernafas yang menunjukkan adanya retraksi.
Bradipnea Frekuensi pernafasan cepat yang abnormal.
Hiperpnea Pernafasan cepat dan normal atau peningkatan frekuensi dan kedalaman pernapasan.
Apnea Tidak ada pernafasan.
Cheyne stokes Periode pernafasan cepat dalam yang bergantian dengan periode apnea, umumnya pada bayi dan anak selama tidur nyenyak, depresi, dan kerusakan otak.
Kusmaul Nafas normal yang abnormal bisa cepat, normal, atau lambat umumnya pada asidosis metabolik.
Biot Nafas tidak teratur, menunjukkan adanya kerusakan atak bagian bawah dan depresi pernafasan.
  1. Pemeriksaan Suhu.

Merupakan salah satu pemeriksaan yang digunakan untuk menilai kondisi metabolisme dalam tubuh, dimana tubuh menghasilkan panas secara kimiawi maupun metabolismedarah.Suhu dapat menjadi salah satu tanda infeksi atau peradangan yakni demam (di atas > 37°C). Suhu yang tinggi juga dapat disebabkan oleh hipertermia. Suhu tubuh yang jatuh atau hipotermia juga dinilai. Untuk pemeriksaan yang cepat, palpasi dengan punggung tangan dapat dilakukan, tetapi untuk pemeriksaan yang akurat harus dengan menggunakan termometer. Termometer yang digunakan bisa berupa thermometer oral, thermometer rectal dan thermometer axilar.

Proses pengaturan suhu terletak pada hypotalamus dalam sistem saraf pusat. Bagian depan hypotalamus dapat mengatur pembuangan panas dan hypotalamus bagian belakang mengatur upaya penyimpanan panas.

Pemeriksaan suhu dapat dilakukan melalui oral, rektal, dan aksila yang digunakan untuk menilai keseimbangan suhu tubuh serta membantu menentukan diagnosis dini suatu penyakit.
Tempat untuk mengukur suhu badan seseorang adalah:

  1. Ketiak/ axilea, pada area ini termometer didiamkan sekitar 10 – 15 menit.
  2. Anus/ dubur/ rectal, pada area ini termometer didiamkan sekitar 3 – 5 menit.
  3. Mulut/oral, pada area ini termometer didiamkan sekitar 2 – 3 menit

Seseorang dikatakan bersuhu tubuh normal, jika suhu tubuhnya berada pada 36ºC – 37,5ºC.

2.5 Pemeriksaan fisik head to toe.  

Sebelum pemeriksaan dilakukan, pasien perlu dipersiapkan sehingga kenyamanan tetap terjaga, misalnya pasien dianjurkan buang air kecil terlebih dahulu. Jaga privasi pasien dengan hanya membuka bagian yang akan diperiksa, serta ajak teman ketiga bila pemeriksa dan pasien berlainan jenis kelamin. Beri tahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan. Atur waktu seefisien mungkin sehingga pasien maupun pemeriksa tidak kecapaian. Atur posisi pasien untuk mempermudah pemeriksaan.

  1. Cuci tangan.
  2. Pakai handscoon.
  3. Kaji keadaan umum pasien (tingkat kesadaran).
  4. Kaji tanda-tanda vital.
  5. Pemeriksaan fisik kepala.

Tujuan pengkajian kepala adalah mengetahui bentuk dan fungsi kepala. Pengkajian diawalai dengan inspeksi kemudian palpasi.

Cara inspeksi dan palpasi kepala.

1) Atur pasien dalam posisi duduk atau berdiri (bergantung pada kondisi pasien dan jenis pengkajian yang akan dilakukan).

2) Bila pasien memakai kacamata, anjurkan untuk melepaskannya.

3) Lakukan inspeksi, yaitu dengan memperhatikan kesimetrisan wajah, tengkorak, warna dan distribusi rambut, serta kulit kepala. Wajah normalnya simetris antara kanan dan kiri. Ketidaksimetrisan wajah dapat menjadi suatu petunjuk adanya kelumpuhan/ paresif saraf ketujuh. Bentuk tengkorak yang normal adalah simetris dengan bagian frontal menghadap kedepan dan bagian parietal menghadap kebelakang. Distribusi rambut sangat bervariasi pada setiap orang, dan kulit kepala normalnya tidak mengalami peradangan, tumor, maupun bekas luka/sikatriks.
4) Lanjutkan dengan palpasi untuk mengetahui keadaan rambut, massa, pembekuan, nyeri tekan, keadaan tengkorak dan kulit kepala.

  1. a) Pemeriksaan fisik mata

Kelengkapan dan keluasan pengkajian mata bergantung pada informasi yang diperlukan. Secara umum tujuan pengkajian mata adalah mengetahui bentuk dan fungsi mata.
Cara inspeksi mata

Dalam inspeksi mata, bagian-bagian mata yang perlu diamati adalah bola mata, kelopak mata, konjungtiva, sklera, dan pupil.
1) Amati bola mata terhadap adanya protrusi, gerakan mata, lapang pandang, dan visus.
2) Amati kelopak mata, perhatikan bentuk dan setiap kelainan dengan cara sebagai berikut.
a. Anjurkan pasien melihat kedepan.

  1. Bandingkan mata kanan dan kiri.
  2. Anjurkan pasien menutup kedua mata.
  3. Amati bentuk dan keadaan kulit pada kelopak mata, serta pada bagian pinggir kelopak mata, catat setiap ada kelainan, misalnya adanya kemerah-merahan.
  4. Amati pertumbuhan rambut pada kelopak mata terkait dengan ada/tidaknya bulu mata, dan posisi bulu mata.
  5. Perhatikan keluasan mata dalam membuka dan catat bila ada dropping kelopak mata atas atau sewaktu mata membuka (ptosis).

3) Amati konjungtiva dan sclera dengan cara sebagai berikut :

  1. Anjurkan pasien untuk melihat lurus kedepan.
  2. Amati konjungtiva untukmmengetahui ada/tidaknya kemerah-merahan, keadaan vaskularisasi, serta lokasinya.
  3. Tarik kelopak mata bagian bawah dengan menggunakan ibu jari.
  4. Amati keadaan konjungtiva dan kantong konjungtiva bagian bawah, catat bila didapatkan infeksi atau pus atau bila warnanya tidak normal, misalnya anemic.
  5. Bila diperlukan, amati konjungtiva bagian atas, yaitu dengan cara membuka/membalik kelopak mata atas dengan perawat berdiri dibelakang pasien.
  6. Amati warna sclera saat memeriksa konjungtiva yang pada keadaan tertentu warnanya dapat menjadi ikterik.
  7. Amati warna iris serta ukuran dan bentuk pupil. Kemudian lanjutkan dengan mnegevaluasi reaksi pupil terhadap cahaya. Normalnya bentuk pupil adalam sama besar (isokor). Pupil yang mengecil disebut miosis,dan amat kecil disebut pinpoint, sedangkan pupil yang melebar/ dilatasi disebut midriasis.

Cara inspeksi gerakan mata.

  1. Anjurkan pasien melihat kedepan.
  2. Amati apakah kedua mata tetap diam atau bergerak secara spontan (nistagmus) yaitu gerakan ritmis bola mata, mula-mula lambat bergerak kesatu arah,kemudian dengan cepat kembali keposisi semula.
  3. Bila ditemukan adanya nistagmus, amati bentuk, frekuensi (cepat atau lambat), amplitudo (luas/sempit) dan durasinya (hari/minggu).
  4. Amati apakah kedua mata memandang lurus kedepan atau salah satu mengalami deviasi.
    e. Luruskan jemari telunjuk anda dan dekatkan dengan jarak sekitar 15-30 cm.
    f. Beri tahu pasien untuk mengikuti gerakan jari anda dan pertahankan posisi kepala pasien. Gerakan jari anda ke delapan arah untuk mengetahui fungsi 6 otot mata.

Cara inspeksi lapang pandang.

  1. Berdiri di depan pasien.
  2. Kaji kedua mata secara terpisah yaitu dengan cara menutup mata yang tidak diperiksa.
  3. Beri tahu pasien untuk melihat lurus ke depan dan memfokuskan pada satu titik pandang, misalnya hidung anda.
  4. Gerakan jari anda pada satu garis vertical/ dari samping, dekatkan kemata pasien secara perlahan-lahan.
  5. Anjurkan pasien untuk member tahu sewaktu mulai melihat jari anda.
  6. Kaji mata sebelahnya.

Cara pemeriksaan visus (ketajaman penglihatan).

  1. Siapkan kartu snellen atau kartu yang lain untuk pasien dewasa atau kartu gambar untuk anak-anak.
    b. Atur kursi tempat duduk pasien dengan jarak 5 atau 6 meter dari kartu snellen.
  2. Atur penerangan yang memadai sehingga kartu dapat dibaca dengan jelas.
  3. Beri tahu pasien untuk menutup mata kiri dengan satu tangan.
  4. Pemeriksaan mata kanan dilakukan dengan cara pasien disuruh membaca mulai dari huruf yang paling besar menuju huruf yang kecil dan catat tulisan terakhir yang masih dapat dibaca oleh pasien.
  5. Selanjutnya lakukan pemeriksaan mata kiri.

Cara palpasi mata.

Pada palpasi mata dikerjakan dengan tujuan untuk mengetahui tekanan bola mata dan mengetahui adanya nyeri tekan. Untuk mengukur tekanan bola mata secara lebih teliti, diperlukan alan tonometri yang memerlukan keahlian khusus.

  1. Beri tahu pasien untuk duduk.
  2. Anjurkan pasien untuk memejamkan mata.
  3. Lakukan palpasi pada kedua mata. Bila tekanan bola mata meninggi, mata teraba keras.
  1. b) Pemeriksaan fisik telinga

Pengkajian telinga secara umum bertujuan untukmengetahui keadaan teling luar, saluran telinga, gendang telinga/membrane tipani, dan pendengaran. Alta yang perlu disiapkan dalam pengkajian antara lain otoskop, garpu tala dan arloji.

Cara inspeksi dan palpasi pada telinga.

  1. Bantu pasien dalam posisi duduk.
  2. Atur posisi anda duduk meghadap sisi telinga pasien yang akan dikaji.
  3. Untuk pencahayaan, gunakan auriskop, lampu kepala, atau sumber cahaya lain.
  4. Mulai amati telinga luar, periksa ukuran, bentuk, warna, lesi, dan adanya massa pada pinna.
  5. Lanjutkan pengkajian palpasi dengan cara memegang telinga dengan ibu jari dan jari telunjuk.
  6. Palpasi kartilago telinga luar secara sistematis, yaitu dari jaringan lunak, kemudian jaringan keras, dan catat bila ada nyeri.
  7. Tekan bagian tragus kedalam dan tekan pula tulang telinga di bawah daun telinga. Bila ada peradangan, pasien akan merasa nyeri.
  8. Bandingkan telinga kanan dan kiri.
  9. Bila diperluka, lanjutkan pengkajian telinga dalam.
  10. Pegang bagian pinggir daun telinga/heliks dan secara perlahan-lahan tarik daun telinga keatas dan ke belakang sehingga lubang telinga menjadi lurus dan mudah diamati.
  11. Amati pintu masuk lubang telinga dan perhatikan ada/ tidaknya peradangan, pendarahan atau kotoran.

Pemeriksaan pendengaran.

Pemeriksaan pendengaran dilakukan untuk mengetahui fungsi telinga. Secara sederhana pemeriksaan pendengaran dapat diperiksa dengan mengguanakan suara bisikan. Pendengaran yang baik akan mudah megetahui adanya bisikan.

Cara pemeriksaan pendengaran dengan bisikan.

  1. Atur posisi pasien berdiri membelakangi anda pada jarak 4,5-6m.
  2. Anjurkan pasien untuk menutup salah satu telinga yang tidak diperiksa.
  3. Bisikan suatu bilangan.
  4. Beritahu pasien untuk mengulangi bilangan yang didengar.
  5. Periksa telinga sebelahnya dengan cara yang sama.
  6. Bandingkan kemampuan mendengar pada telinga kanan dan kiri pasien.

Cara pemeriksaan pendengaran dengan garpu tala.

Pemeriksaan pendengaran dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kualitas pendengaran secara lebih teliti. Pemeriksaan dengan garpu tala dilakukan dengan dua cara, yaitu pemeriksaan Rinne dan pemeriksaan Webber.

  1. Pemeriksaan Rinne
  2. a) Vibrasikan garpu tala
  3. b) Letakan garpu tala pada mastoid kanan pasien
  4. c) Anjurkan pasien untuk member tahu sewaktu tidak merasakan getaran lagi.
  5. d) Angkatan garpu tala dan pegang di depan telinga kanan pasien dengan posisi garpu tala parallel terhadap lubang telinga luar pasien.
  6. e) Anjurkan pasien untuk member tahu apakah masih mendengar suara getaran atau tidak.

Normalnya suara getaran masih dapat didengar karena konduksi udara lebih baik di banding konduksi tulang.

  1. Pemeriksaan Webber.
  2. a) Vibrasikan garpu tala
  3. b) Letakan garpu tala di tengah-tengah puncak kepala pasien
  4. c) Tanya pasien tentang telinga yang mendengar suara getaran lebih keras. Normalnya kedua telinga dapat mendengar secara seimbang sehingga getaran dirasakan di tengah-tengah telinga.
  5. d) Catat hasil pendengaran.
  6. e) Tentukan apakah pasien mengalami gangguan konduksi tulang, udara, atau keduanya.
  1. c) Pemeriksaan fisik hidung dan sinus.

Hidung dikaji dengan tujuan untuk mengetahui keadaan bentuk dan fungsi tulang hidung. Pengkajian hidung dimulai dari bagian luar, bagian dalam dan sinus-sinus.
Alat yang perlu dipersiapkan antara lain otoskop, speculum hidung, cermin, dan sumber penerangan.

Cara inspeksi dan palpasi hidung bagian luar serta palpasi sinus.

  1. Duduk menghadap pasien.
  2. Atur penerangan dan amati hidung bagian luar dari sisi depan, samping dan atas, perhatikan bentuk atau tulang hidung dari ketiga sisi ini.
  3. Amati wanrna dan pembengkakan pada kulit hidung.
  4. Amati kesimetrisan hidung
  5. Lanjutkan dengan melakukan palpasi hidung luar, dan catat bila ditemukan ketidak abnormalan kulit atau tulang hidung.
  6. Kaji mobilitas septum nasi.
  7. Palpasi sinus maksilaris, frontalis dan etmoidalis. Perhatikan jika ada nyeri.

Cara inspeksi hidung bagian dalam.

  1. Duduk menghadap pasien
  2. Pasang lampu kepala, atur lampu sehingga tepat menerangi lubang hidung.
  3. Elevasikan lubang hidung pasien dengan cara menekan hidung pasien secara lembut dengan ibu jari anda, kemudian amati bagian anterior lubang hidung.
  4. Amati posisi septum nasi dan kemungkinan adanya perfusi.
  5. Amati bagian konka nasalis inferior
  6. Pasang ujung spekulum hidung pada lubang hidung sehingga rongga hidung dapat diamati.
  7. Untuk memudahkan pengamatan pada dasar hidung, atur posisi kepala sehingga menengadah.
  8. Amati bentuk dan posisi septum, kartilago, dan dinding-dinding rongga hidung serta selaput lendir pada rongga hidung (warna, sekresi, bengkak)
  9. Bila sudah selesai lepaskan speculum perlahan-lahan.
  1. d) Pemeriksaan fisik hidung dan faring.

Pengkajian mulut dan faring dilakukan dengan posisi pasien duduk. Pencahayaan harus baik, sehingga semua bagian dalam mulut dapat diamati dengan jelas. Pengamatan diawali dengan mengamati bibir, gigi, gusi, lidah, selaput lendir, pipi bagian dalam, lantai dasar mulut, dan platum/ langit-langit mulut, kemudian faring.

Cara inspeksi mulut.

  1. Bantu pasien duduk berhadapan dan tinggi yang sejajar dengan anda.
  2. Amati bibir untuk mengetahui adanya kelainan congenital, bibir sumbing, warna bibir, ulkus, lessi dan massa.
  3. Lanjutkan pada pengamatan gigi, anjurkan pasien untuk membuka mulut.
  4. Atur pencahayaan yang memadai, bila perlu gunakan penekan lidah, agar gigi tampak jelas.
  5. Amati posisi, jarak, gigi rahan atas dan bawah, ukuran, warna, lesi, atau adanya tumor pada setiap gigi. Amati juga akar-akar gigi, dan gusi secara khusus.
  6. Periksa setiap gigi dengan cara mengetuk secara sistematis, bandingkan gigi bagian kiri, kanan, atas, dan bawah, serta anjurkan pasien untuk member tahu bila merasa nyeri sewaktu giginya diketuk.
  7. Perhatikan pula cirri-ciri umum sewaktu melakukan pengkajian antara lain kenersihan mulut dan bau mulut.
  8. Lanjutkan pengamatan pada lidah dan perhatikan kesimetrisannya. Minta pasien menjulurkan lidah dan amati kelurusan, warna, ulkus dan setiap ada kelainan.
  9. Amati warna, adanya pembengkakan, tumor, sekresi, peradangan, ulkus, dan perdarahan pada selaput lendir semua bagian mulut secara sistematis.
  10. Lalu lanjutkan pada inspeksi faring, dengan menganjurkan pasien membuka mulut dan menekan lidah pasien kebawah sewaktu pasien berkata “ah”. Amati kesimetrisan uvula pada faring.

Cara palpasi mulut.

Palpasi pada mulut dilakukan terutama bila dari inspeksi belum diperoleh data yang meyakinkan. Tujuannya adalah mengetahui bentuk dan setiap ada kelainan yang dapat diketahui dengan palpasi, yang meliputi pipi, dasar mulut, palatum, dan lidah.
1. Atur posisi duduk menghadap anda, anjurkan pasien membuka mulut.

  1. Pegang pipi di antara ibu jari dan jari telunjuk. Palpasi pipi secara sistematis, dan perhatikan adanya tumor atau pembengkakan. Bila ada pembengkakan, tentukan menurut ukuran, konsistensi, hubungan dengan daerah sekitarnya, dan adanya nyeri.
  2. Lanjutkan palpasi pada platum dengan jari telunjuk dan rasakan adanya pembengkakan dan fisura.
  3. Palpasi dasar mulut dengan cara minta pasien mengucapkan “el”, kemudian lakukan palpasi pada dasar mulut secara sistematis dengan jari telunjuk tangan kanan, catat bila ditemukan pembengkakan.
  4. Palpasi lidah dengan cara meminta pasien menjulurkan lidah, pegang lidah dengan kasa steril menggunakan tangan kiri. Dengan jari telunjuk tangan kanan, lakukan palpasi lidah terutama bagian belakang dan batas-batas lidah.
  1. e) Pemeriksaan fisik leher.

Leher dikaji setelah pengkajian kepala selesai dikerjakan. Tujuannya adalah mengetahui bentuk leher, serta organ-organ penting yang berkaitan. Dalam pengkajian ini, sebaiknya baju pasien dilepaskan, sehingga leher dapat dikaji dengan mudah.

Cara inspeksi leher

  1. Anjurkan pasien untuk melepaskan baju, atur pencahayaan yang baik.
  2. Lakukan inspeksi leher untuk mengetahui bentuk leher, warna kulit, adanya pembengkakan, jaringan parut, dan adanya massa. Palpasi dilakukan secara sistematis, mulai dari garis tengah sisi depan leher, samping, dan belakang. Warna kulit leher normalnya sama dengan kulit sekitarnya. Warna kulit leher dapat menjadi kuning pada semua jenis ikterus, dan menjadi merah, bengkak, panas serta ada nyeri tekan bila mengalami peradangan.
  3. Inspeksi tiroid dengan cara meminta pasien menelan, dan amati gerakan kelenjar tiroid pada insisura jugularis sterni. Normalnya gerakan kelenjar tiroid tidak dapat dilihat kecuali pada orang yang sangat kurus.

Cara palpasi leher

Palpasi pada leher dilakukan terutama untuk mengetahui keadaan dan letak kelenjar limfe, kelenjar tiroid, dan trakea.

  1. Duduk dihadapan pasien
  2. Anjurkan pasien untuk menengadah kesamping menjauhi perawat pemeriksa sehingga jaringan lunak dan otot-otot akan relaks.
  3. Lakukan palpasi secara sistematis,dan tentukan menurut lokasi, batas-batas, ukuran, bentuk dan nyeri tekan pada setiap kelompok kelenjar limfe yang terdiri dari :
  4. Preaurikular – didepan telinga
  5. Postaurikular – superficial terhadap prosesus mostoideus
  6. Oksipital – di dasar posterior tulang kepala
  7. Tonsilar – disudut mandibular
  8. Submandibular – ditengah-tengah antara sudut dan ujung mandibular
  9. Submental – pada garis tengah beberapa cm dibelakang ujung mandibular
  10. Servikal superficial – superficial terhadap sternomastoideus
  11. Servikal posterior – sepanjang tepi anterior trapezius
  12. Servikal dalam – dalam sternomastoideus dan sering tidak dapat dipalpasi
  13. Supraklavikular – dalam suatu sudut yang terbentuk oleh klavikula dan sternomastoideus.
  1. Lakukan palpasi kelenjar tiroid dengan cara :
  2. Letakan tangan anda pada leher pasien.
  3. Palpasi pada fosa suprasternal dengan jari telunjuk dan jari tengah.
  4. Minta pasien menelan atau minum untuk memudahkan palpasi.
  5. Palpasi dapat pula dilakuakan dengan perawat berdiri dibelakang pasien, tangan diletakan mengelilingi leher dan palpasi dilakukan dengan jari kedua dan ketiga.
  6. Lakukan palpasi trakea dengan cara berdiri disamping kanan pasien. Letakan jari tengah pada bagian bawah trakea dan raba trakea ke atas, ke bawah, dan ke samping sehingga kedudukan trakea dapat diketahui.

Cara pengkajian gerakan leher

Pengkajian gerak leher dilakukan paling akhir pada pemeriksaan leher. Pengkajian ini dilakukan baik secara aktif maupun pasif. Untuk mendapatkan data yang akurat, leher dan dada bagian atas harus bebas dari pakaian dan perawat berdiri/ duduk dibelakang pasien.
1) Lakukan pengkajian gerakan leher secara aktif. Minta pasien menggerakan leher dengan urutan sebagai berikut :

  1. Antefleksi, normalnya 45º
  2. Dorsifleksi, normalnya 60º
  3. Rotasi kekanan, normalnya 70º
  4. Rotasi ke kiri, normalnya 70º
  5. Lateral felksi ke kiri, normalnya 40º
  6. Lateral fleksi ke kanan, normalnya 40º

2) Tentukan sejauh mana pasien mampu menggerakan lehernya. Normalnya gerakan dapat dilakukan secara terkoordinasi tanpa gangguan. Bila diperlukan, lakukan pengkajian gerakan secara pasif dengan cara kepala pasien dipegang dengan dua tangan kemudian digerakan dengan urutan yang sama seperti pada pengkajian gerakan leher secara aktif.

  1. Pemeriksaan fisik bagian dada.
  2. a) Inspeksi

Dada diinspeksi terutama postur, bentuk, dan kesimetrisan ekspansi, serta keadaan kulit. Postur dapat bervariasi, misalnya pada pasien dengan masalah pernafasan kronis, klavikulanya menjadi elevasi. Bentuk dada berbeda antara bayi dan orang dewasa. Dada bayi berbentuk melingkar dengan diameter dari depan ke belakang (antero-posterior) sama dengan diameter transversal. Pada orang dewasa, perbandingan antara diameter antero-posterior dengan diameter transversal adalah 1 : 2. Bentuk dada jadi tidak normal pada keadaan tertentu, misalnya pigeon chest, yaitu bentuk dada yang ditandai dengan diameter transversal sempit, diameter antero-posterior mengecil. Contoh kelainan bentuk dada lainnya adalah barrel chest yang ditandai dengan diameter antero-posterior dan transversal mempunyai perbandingan 1 : 1. Ini dapat diamati pada pasien kifosis. Pada saat mengkaji bentuk dada, perawat sekaligus mengamati kemungkinan adanya kelainan tulang belakang, seperti kifosis, lordosis, atau skoliosis.Inspeksi dada dikerjakan baik pada saat dada bergerak atau diam, terutama sewaktu dilakukan pengamatan pergerakan pernafasan. Sedangkan untuk mengamati adanya kelainan bentuk tulang belakang (kifosis, lordosis, skoliosis), akan lebih mudah dilakukan pada saat dada tidak bergerak. Pengamatan dada pada saat bergerak dilakukan untuk mengetahui frekuensi, sifat, dan ritme / irama pernapasan. Normalnya frekuensi pernapasan berkisar antara 16 sampai 24 kali setiap menit pada orang dewasa. Frekuensi pernapasan yang lebih dari 24 kali per menit disebut takipnea.
Sifat pernapasan pada prinsipnya ada dua macam, yaitu pernapasan dada yang ditandai dengan pengembangan dada, dan pernapasan perut yang ditandai dengan pengembangan perut. Pada umumnya sifat pernapasan yang sering ditemukan adalah kombinasi antara pernapasan dada dan perut. Pada keadaan tertentu, ritme pernapasan dapat menjadi tidak normal, misalnyapernapasan Kussmaul, yaitu pernapasan yang cepat dan dalam, seperti terlihat pada pasien yang mengalami koma diabetikum. Pernapasan Biot, yaitu pernapasan yang ritme maupun amplitudonya tidak teratur, diselingi periode apnea, dan dapat ditemukan pada pasien yang mengalami kerusakan otak. Pernapasan Cheyne-Stokes, yaitu pernapasan dengan amplitude yang mula – mula kecil, makin lama makin membesar, kemudian mengecil lagi, diselingi periode apnea, dan biasanya ditemukan pada pasien yang mengalami gangguan saraf otak. Kulit daerah dada perlu diamati secara seksama untuk mengatahui adanya edema atau tonjolan (tumor).

Cara inspeksi pada dada secara rinci.

1) Lepaskan baju pasien dan tampakkan badan pasien sampai batas pinggang.

2) Atur posisi pasien (posisi diatur bergantung pada tahap pemeriksaan dan kondisi pasien). Pasien dapat diminta mengambil posisi duduk atau berdiri.

3) Yakinkan bahwa perawat sudah siap (tangan bersih dan hangat), ruangan dan stetoskop disiapkan.

4) Beri penjelasan kepada pasien tentang apa yang akan dikerjakan dan anjurkan pasien tetap rileks.

5) Lakukan inspeksi bentuk dada dari empat sisi : depan, belakang, sisi kanan, dan sisi kiri pada saat istirahat (diam), saat inspirasi dan saat ekspirasi. Pada saat inspeksi dari depan, perhatikan area klavikula, fosa supraklavikularis dan fosa infraklavikularis, sternum, dan tulang rusuk. Dari sisi belakang, amati lokasi vertebra servikalis ke-7 (puncak scapula terletak sejajar dengan vertebra torakalis ke-8), perhatikan pula bentuk tulang belakang dan catat bila ada kelainan bentuk. Terakhir, inspeksi bentuk dada secara keseluruhan untuk mengetahui adanya kelainan, misalnya bentuk barrel chest.

6) Amati lebih teliti keadaan kulit dada dan catat bila ditemukan adanya pulsasi pada interkostal atau di bawah jantung, retraksi intrakostal selama bernapas, jaringan parut, dan tanda – tanda menonjol lainnya.

  1. b) Palpasi

Palpasi dada dilakukan untuk mengkaji keadaan kulit dinding dada, nyeri tekan, massa, peradangan, kesimetrisan ekspansi, dan taktil fremitus (vibrasi yang dapat teraba yang dihantarkan melalui sistem bronkopulmonal selama seseorang berbicara).Nyeri tekan dapat timbul akibat adanya luka setempat, peradangan, metastasis tumor ganas, atau pleuritis. Bila ditemukan pembengkakan atau benjolan pada dinding dada, perlu dideskripdikan ukuran, konsistensi, dan suhunya secara jelas sehingga mempermudah dalam menentukan apakah kelainan tersebut disebabkan oleh penyakit tulang, tumor, bisul, atau proses peradangan. Pada saat bernapas, normalnya dada bergerak secara simetris. Gerakan menjadi tidak simetris pada saat terjadi atelektasis paru (kolaps paru). Getaran taktil fremitus dapat lebih keras atau lebih lemah dari normal. Getaran taktil fremitus dapat lebih keras atau lebih lemah dari normal. Getaran menjadi lebih keras pada saat terdapat infiltrate. Getaran yang melemah ditemukan pada keadaan emfisema, pneumotoraks, hidrotoraks, dan atelektasis obstruktif.

Cara kerja palpasi dinding dada

1) Lakukan palpasi untuk mengetahui ekspansi paru – paru / dinding dada :

  1. Letakkan kedua telapak tangan secara datar pada dinding dada depan.
  2. Anjurkan pasien untuk menarik napas.
  3. Rasakan gerakan dinding dada dan bandingkan sisi kanan dan sisi kiri.
  4. Berdiri di belakang pasien, letakkan tangan Anda pada sisi dada pasien, perhatikan gerakan ke samping sewaktu pasien bernapas.
  5. Letakkan kedua tangan Anda di punggung pasien dan bandingkan gerakan kedua sisi dinding dada.

2) Lakukan palpasi untuk mengkaji taktil fremitus. Minta pasien menyebut bilangan “enam – enam” sambil perawat melakukan palpasi dengan cara :

  1. Letakkan telapak tangan Anda pada bagian belakang dinding dada dekat apeks paru – paru.
  2. Ulangi langkah a dengan tangan bergerak ke bagian basis paru – paru.
  3. Bandingkan fremitus pada kedua sisi paru – paru serta di antara apeks dan basis paru –

paru.
d. Lakukan palpasi taktil fremitus pada dinding dada anterior.

Pada pengkajian taktil fremitus, vibrasi / getaran bicara secara normal dapat ditransmisikan melalui dinding dada. Getaran lebih jelas terasa pada apeks paru–paru. Getaran pada dinding dada lebih keras daripada dinding dada kiri karena bronkus sisi kanan lebih besar. Pada pria, fremitus lebih mudah terasa karena suara pria lebih besar daripada suara wanita.

  1. c) Perkusi

Keterampilan perkusi dada bagi perawat secara umum tidak banyak dipakai sehingga praktik di laboratorium untuk keterampilan ini hanya dilakukan bila perlu dan di bawah pengawasan instruktur ahli.

Cara perkusi paru – paru secara sistematis

  1. Lakukan perkusi paru – paru anterior dengan posisi pasien terlentang.
  2. Perkusi mulai dari atas klavikula ke bawah pada setiap ruang interkostal.
  3. Bandingkan sisi kanan dan kiri
  4. Lakukan perkusi paru – paru posterior dengan posisi pasien baiknya duduk atau berdiri.
    a. Yakinkan dulu bahwa pasien duduk lurus.
  5. Mulai perkusi dari puncak paru – paru ke bawah.
  6. Bandingkan sisi kanan dan kiri.
  7. Catat hasil perkusi dengan jelas.
  8. Lakukan perkusi paru – paru posterior untuk menentukan gerakan diafragma (penting pada pasien emfisema).
  9. Minta pasien untuk menarik napas panjang dan menahannya.
  10. Mulai perkusi dari atas ke bawah (dari resonan ke redup) sampai bunyi redup didapatkan.
  11. Beri tanda dengan spidol pada tempat didapatkan bunyi redup (biasanya pada ruang interkostal ke-9, sedikit lebih tinggi dari posisi hati di dada kanan).
  12. Minta pasien untuk mengembuskan napas secara meksimal dan menahannya.
  13. Lakukan perkusi dari bunyi redup (tanda I) ke atas. Biasanya bunyi redup ke-2 ditemukan di atas tanda I. Beri tanda pada kulit yang ditemukan bunyi redup (tanda II).
  14. Ukur jarak antara tanda I dan tanda II. Pada wanita, jarak kedua tanda ini normalnya 3 – 5 cm dan pada pria adalah 5 – 6 cm.
  1. d) Aukultasi

Aukultasi biasanya dilaksanakan dengan menggunakan stetoskop. Aukultasi berguna untuk mengkaji aliran udara melalui batang trakeobronkial dan mengetahui adanya sumbatan aliran udara. Aukultasi juga berguna untuk mengkaji kondisi paru–paru dan rongga pleura. Untuk dapat melakukan auskultasi, perawat harus mengetahui bunyi / suara napas yang dikategorikan menurut intensitas, nada, dan durasi antara inspirasi dan ekspirasi seperti di bawah ini.

  1. Vesikuler Insp > Eksp Rendah Lembut Sebagian area paru – paru kanan dan kiri
    2. Bronkovesikuler Insp = Eksp Sedang Sedang Sering pada ruang interkostal ke-1 dan ke-2 dan diantara scapula

3.Bronkial Eksp > Insp Tinggi Keras Di atas manubrium Trakeal Insp = Eksp Sangat tinggi Sangat keras Di atas trakea pada leher

Cara kerja untuk melakukan auskultasi

  1. Duduk menghadap pasien.
  2. Minta pasien bernapas secara normal, mulai auskultasi dengan meletakan stetoskop pada trakea, dan dengan bunyi napas secara teliti.
  3. Lanjutkan auskultasi suara napas yang normal dengan arah seperti pada perkusi dan perhatikan bila ada tambahan.
  4. Ulangi auskultasi pada dada lateral dan posterior serta bandngkan sisi kanan dan kiri.
  1. Pemeriksaan fisik abdomen
  2. a) Inspeksi

Inspeksi dilakukan pertama kali untuk mengetahui bentuk dan gerakan – gerakan abdomen.
Cara kerja inspeksi

1) Atur posisi yang tepat

2) Lakukan pengamatan bentuk abdomen secara umum, kontur permukaan abdomen, dan adanya retraksi, penonjolan, serta ketidaksimetrisan.

3) Amati gerakan kulit abdomen saat inspirasi dan ekspirasi.

4) Amati pertumbuhan rambut dan pigmentasi pada kulit secara lebih teliti.

  1. b) Auskultasi

Perawat melakukan auskultasi untuk mendengarkan dua suara abdomen, yaitu bising usus (peristaltic) yang disebabkan oleh perpindahan gas atau makanan sepanjang intestinum dan suara pembuluh darah. Teknik ini juga digunakan untuk mendeteksi fungsi pencernaan pasien setelah menjalani operasi. Pada keadaan tertentu, suara yang didengar melalui auskultasi mungkin melemah. Auskultasi juga dapat dilakukan untuk mendengarkan denyut jantung janin pada wanita hamil.

Cara kerja auskultasi

1) Siapkan stetoskop, hangatkan tangan dan bagian diafragma stetoskop bila ruang pemeriksaan dingin.

2) Tanya pasien tentang waktu terakhir makan. Bising usus dapat meningkat setelah makan.
3) Tentukan bagian stetoskop yang akan digunakan. Bagian diafragma digunakan untuk mendengarkan bising usus, sedangkan bagian bel (sungkup) untuk mmendengarkan suara pembuluh darah.

4) Letakkan diafragma stetoskop dengan tekanan ringan pada setiap area empat kuadran abdomen dan dengarkan suara peristaltic aktif dan suara denguk (gurgling) yang secara normal terdengar setiap 5 – 20 detik dengan durasi kurang atau lebih dari satu detik.Frekuensi suara bergantung pada status pencernaan atau ada tidaknya makanan dalam saluran pencernaan. Dalam pelaporannya, bising usus dapat dinyatakan dengan “terdengar, tidak ada / hipoaktif, sangat lambat” (mis, hanya terdengar sekali per menit) dan “hiperaktif atau meningkat” (mis, terdengar setiap 3 detik). Bila bising usus terdengar jarang sekali / tidak ada, dengarkan dahulu selama 3 – 5 menit sebelum dipastikan.

5) Letakkan bagian bel (sungkup) stetoskop di atas aorta, arteri renalis, dan arteri iliaka. Dengarkan suara – suara arteri (bruit). Auskultasi aorta dilakukan dari arah superior ke umbilicus. Auskultasi arteri renalis dilakukan dengan cara meletakan stetoskop pada garis tengah abdomen atau kea rah kanan kiri garis abdomen bagian atas mendekati panggul. Auskultasi arteri iliaka dilakukan dengan cara meletakkan stetoskop pada area bawah umbilicus di sebelah kanan dan kiri garis tengah abdomen.

6) Letakkan bagian bel stetoskop di atas area preumbilikal (sekeliling umbilicus) untuk mendengarkan bising vena (jarang terdengar).

7) Dalam melakukan auskultasi pada setiap tempat, khususnya area hepar dan limpa, kaji pula kemungkinan terdengar suara – suara gesekan seperti suara gesekan dua benda.

8) Untuk mengkaji suara gesekan pada area limpa, letakkan stetoskop pada area batas bawah tulang rusuk di garis aksila anterior dan minta pasien menarik napas dalam. Untuk mengkaji suara gesekan pada area hepar, letakkan stetoskop pada sisi bawah kanan tulang rusuk.

  1. c) Perkusi

Perkusi dilakukan untuk mendengarkan / mendeteksi adanya gas, cairan, atau massa di dalam abdomen. Perkusi juga dilakukan untuk mengetahui posisi limpa dan hepar. Bunyi perkusi pada abdomen yang normal adalah timpani, namun bunyi ini dapat berubah pada keadaan – keadaan tertentu. Misalnya, apabila hepar dan limpa membesar, bunyi perkusi akan menjadi redup, khususnya perkusi di area bawwah arkus kostalis kanan dan kiri. Apabila terdapat udara bebas pada rongga abdomen, daerah pekak pada hepar akan hilang. Pada keadaan usu berisi terlalu banyak cairan, bunyi yang dihasilkan pada perkusi seluruh dinding abdomen adalah hipertimpani, sedangkan daerah hepar tetap pekak. Perkusi pada daerah yang berisi cairan juga akan menghasilkan suara pekak. Latihan perkusi abdomen bagi mahasiswa keperawatan harus dibimbing oleh instruktur yang berpengalaman dan menguasai pengkajian abdomen.

Cara perkusi abdomen secara sistematis

1) Perkusi dimulai dari kuadran kanan atas kemudian bergerak searah jarum jam (dari sudut pandang / perspektif pasien).

2) Perhatikan reaksi pasien dan catat bila pasien merasa nyeri atau nyeri tekan.

3) Lakukan perkusi pada area timpani dan redup. Suara timpani mempunyai cirri nada lebih tinggi daripada resonan. Suara timpani dapat didengarkan pada rongga atau organ yang berisi udara. Suara redup mempunyai cirri nada lebih rendah atau lebih datar daripada resonan. Suara ini dapat didengarkan pada massa padat, misalnya keadaan asites, keadaan distensi kandung kemih, serta pembesaran atau tumor hepar dan limpa.

  1. d) Palpasi

Palpasi Hepar

Palpasi hepar dapat dilakukan secara bimanual, terutama untuk mengetahui adanya pembesaran.
Cara Palpasi Hepar :

1) Berdiri di samping kanan pasien.

2) Letakkan tangan kiri Anda pada dinding toraks posterior kira – kira pada tulang rusuk ke-11 atau 12.

3) Tekan tangan kiri Anda ke atas sehingga sedikit mengangkat dinding dada.

4) Letakkan tangan kanan pada batas bawah tulang rusuk sisi kanan dengan membentuk sudut kira – kira 45o dari otot rektus abdominis atau parallel terhadap otot rektus abdominis dengan jari – jari kea rah tulang rusuk.

5) Sementara pasien ekshalasi, lakukan penekanan sedalam 4 – 5 cm kea rah bawah pada batas tulang rusuk.

6) Jaga posisi tangan Anda dan minta pasien inhalasi / menarik napas dalam.

7) Sementara pasien inhalasi, rasakan batas hepar bergerak menentang tangan Anda yang secara normal terasa dengan kontur reguler. Bila hepar tidak terasa /teraba dengan jelas, minta pasien untuk menarik napas dalam, sementara Anda tetap mempertahankan posisi tangan atau memberikan tekanan sedikit lebih dalam. Kesulitan dalam merasakan hepar ini sering dialami pada pasien obesitas.

8) Bila hepar membesar, lakukan palpasi di batas bawah tulang rusuk kanan. Catat pembesaran tersebut dan nyatakan dengan berapa sentimeter pembesaran terjadi di bawah batas tulang rusuk.

Palpasi hepar (Sumber : Kozier, B., et al. (2004) Fundamental of Nursing: Concept, process, and practice. New Jersey : Prentice Hall).

Palpasi Ginjal

Pada saat melakukan palpasi ginjal, posisi pasien telentang dan perawat yang melakukan palpasi berdiri di sisi kanan pasien.

Cara Palpasi Ginjal

1) Dalam melakukan palpasi ginjal kanan, letakkan tangan kiri Anda di bawah panggul dan elevasikan ginjal ke arah anterior.

2) Letakkan tangan kanan Anda pada dinding abdomen anterior di garis midklavikula pada tepi bawah batas kosta.

3) Tekan tangan kanan Anda secara langsung ke atas sementara pasien menarik napas panjang. Ginjal tidak teraba pada orang dewasa yang normal, tetapi pada orang yang sangat kurus, bagian bawah ginjal kanan dapat dirasakan.
4) Bila ginjal teraba, rasakan kontur (bentuk), ukuran, dan amati adanya nyeri tekan.
5) Untuk melakukan palpasi ginjal kiri, lakukan di sisi kiri tubuh pasien, dan letakkan tangan Anda di bawah panggul kemudian lakukan tindakan seperti pada palpasi ginjal kanan.

Palpasi Limpa

Limpa tidak teraba pada orang dewasa yang normal. Palpasi limpa dikerjakan dengan menggunakan pola seperti pada palpasi hepar.

Cara Palpasi Limpa :

1) Anjurkan pasien untuk miring ke sisi kanan sehingga limpa lebih dekat dengan dinding abdomen.
2) Lakukan palpasi pada batas bawah tulang rusuk kiri dengan menggunakan pola seperti pada palpasi hepar.

Palpasi limpa (Sumber : Bickley, L. S., & Szilagyi, P.G. (2004). Bate’s Pocket Guide Physical Examination and History Taking. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins).

Palpasi Kandung Kemih

Palpasi kandung kemih dapat dilakukan dengan menggunakan satu atau dua tangan. Kandung kemih teraba terutama bila mengalami distensi akibat penimbunan urine. Bila ditemukan adanya distensi, lakukan perkusi pada area kandung kemih untuk mengetahui suara / tingakatan redupnya.

  1. Pemeriksaan fisik genital.
  2. a) Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin Pria

1) Inspeksi

  1. Pertama – tama inspeksi rambut pubis, perhatikan penyebaran dan pola pertumbuhan rambut pubis. Catat bila rambut pubis tumbuh sangat sedikit atau sama sekali tidak ada.
    2. Inspeksi kulit, ukuran, dan adanya kelainan lain yang tampak pada penis.
  2.  Pada pria yang tidak dikhitan, pegang penis dan buka kulup penis, amati lubang uretra dan kepala penis untuk mengetahui adanya ulkus, jaringan parut, benjolan, peradangan, dan rabas (bila pasien malu, penis dapat dibuka oleh pasien sendiri). Lubang uretra normalnya terletak di tengah kepala penis. Pada beberapa kelainan, lubang uretra ada yang terletak di bawah batang penis (hipospadia) dan ada yang terletak di atas batang penis (epispadia).
    4. Inspeksi skrotum dan perhatikan bila ada tanda kemerahan, bengkak, ulkus, ekskoriasi, atau nodular. Angkat skrotum dan amati area di belakang skrotum.

2) Palpasi

Teknik ini dilakukan hanya bila ada indikasi atau keluhan.

  1. Lakukan palpasi penis untuk mengetahui adanya nyeri tekan, benjolan, dan kemungkinan adanya cairan kental yang keluar.
  2. Palpasi skrotum dan testis dengan menggunakan jempol dan tiga jari pertama. Palpasi tiap testis dan perhatikan ukuran, konsistensi, bentuk, dan kelicinannya. Testis normalnya teraba elastic, licin, tidak ada benjolan atau massa, dan berukuran sekitar 2 – 4 cm.
  3. Palpasi epididimis yang memanjang dari puncak testis ke belakang. Normalnya epidiimis teraba lunak.
  4. Palpasi saluran sperma dengan jempol dan jari telunjuk. Saluran sperma biasanya ditemukan pada puncak bagian lateral skrotum dan teraba lebih keras daripada epididimis.
  1. b) Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin Wanita

1) Palpasi alat kelamin bagian luar

  1. Mulai dengan mengamati rambut pubis, perhatikan distribusi dan jumlahnya, dan bandingkan sesuai usia perkembangan pasien.
  2. Amati kulit dan area pubis, perhatikan adanya lesi, eritema, fisura, leukoplakia, dan ekskoriasi.
    c. Buka labia mayora dan amati bagian dalam labia mayora, labia minora, klitoris, dan meatus uretra. Perhatikan setiap ada pembengkakan, ulkus, rabas, atau nodular.

2) Palpasi alat kelamin bagian dalam

  1. Lumasi jari telunjuk Anda dengan air steril, masukkan ke dalam vagina, dan identifikasi kelunakan serta permukaan serviks. Tindakan ini bermanfaat untuk mempergunakan dan memilih speculum yang tepat. Keluarkan jari bila sudah selesai.
  2. Letakkan dua jari pada pintu vagina dan tekankan ke bawah kea rah perianal.
  3. Masukkan speculum dengan sudut 45o.
  4. Buka bilah speculum, letakkan pada serviks, dan kunci bilah sehingga tetap membuka.
  5. Bila serviks sudah terlihat, atur lampu untuk memperjelas penglihatan dan amati ukuran, laserasi, erosi, nodular, massa, rabas, dan warna serviks. Normalnya bentuk serviks melingkar atau oval pada nulipara, sedangkan pada para berbentuk celah.
  6. Lakukan palpasi secara bimanual. Pakai sarung tangan lalu lumasi jari telunjuk dan jari tengah, kemudian masukkan jari tersebut ke lubang vagina dengan penekanan ke arah posterior, dan meraba dinding vagina untuk mengetahui adanya nyeri tekan dan nodular.
  7. Palpasi serviks dengan dua jari Anda dan perhatikan posisi, ukuran, konsistensi, regularitas, mobilitas, dan nyeri tekan. Normalnya serviks dapat digerakkan tanpa terasa nyeri.
  8. Palpasi uterus dengan cara jari – jari tangan yang ada dalam vagina mengahadap ke atas. Tangan yang ada di luar letakkan di abdomen dan tekankan ke bawah. Palpasi uterus untuk mengetahui ukuran, bentuk, konsistensi, dan mobilitasnya.
  9. Palpasi ovarium dengan cara menggeser dua jari yang ada dalam vagina ke formiks lateral kanan. Tangan yang ada di abdomen tekankan ke bawah kea rah kuadran kanan bawah. Palpasi ovarium kanan untuk mengetahui ukuran, mobilitas, bentuk, konsistensi, dan nyeri tekan (normalnya tidak teraba). Ulangi untuk ovarium sebelahnya.
  1. Pemeriksaan fisik payudara dan ketiak.

Dalam melakukan pemeriksaan payudara khususnya pada wanita, perawat harus mempertimbangkan aspek psikososial, bukan aspek fisik saja. Hal ini mengingat payudara pada wanita mempunyai arti yang luas, baik dari segi budaya, social, maupun fungsi seksual. Payudara berkembang dan tumbuh selama rentang kehidupan yang dipengaruhi oleh perkembangan / pertumbuhan seseorang, lingkungan, dan sosiokultural lainnya.

  1. a) Inspeksi

1) Bantu pasien mengatur posisi duduk menghadap ke depan, telanjang dada dengan kedua lengan rileks di sisi tubuh.

2) Mulai inspeksi ukuran, bentuk, dan kesimetrisan payudara. Payudara normalnya melingkar, agak simetris, dan dapat dideskripsikan kecil, sedang, dan besar.

3) Inspeksi warna, lesi, vaskularisasi, dan edema pada kulit payudara.

4) Inspeksi waran areola. Areola wanita hamil umumnya berwarna lebih gelap.

5) Inspeksi adanya penonjolan atau retraksi pada payudara dan putting susu akibat adanya skar atau lesi.

6) Inspeksi adanya rabas, ulkus, pergerakan, atau pembengkakan pada putting susu. Amati juga posisi kedua putting susu yang normalnya mempunyai arah yang sama.

7) Inspeksi ketiak dan klavikula untuk mengetahui adanya pembengkakan atau tanda kemerah – merahan.

  1. b) Palpasi

1) Lakukan palpasi di sekeliling putting susu untuk mengetahuii adanya rabas. Bila ditemukan rabas, identifikasi sumber, jumlah, warna, konsistensi rabas tersebut, dan kaji adanya nyeri tekan.

2) Palpasi daerah klavikula dan ketiak terutama pada area nodus limfe.

3) Lakukan palpasi setiap payudara dengan teknik bimanual terutama untuk peyudara yang berukuran besar. Caranya yaitu tekankan telapak tangan anda / tiga jari tengah ke permukaan payudara pada kuadran samping atas. Lakukan palpasi dinding dada dengan gerakan memutar dari tepi menuju ereola dan searah jarum jam.

4) Lakukan palpasi payudara sebelahnya.

5) Bila diperlukan, lakukan pula pengkajian dengan posisi pasien telanjang dan diganjal bantal / selimut di bawah bahunya.

2.6 Pemeriksaan fisik per sistem.

  1. SISTEM CARDIOVASKULER

INSPEKSI
Jantung, secara topografik jantung berada di bagian depan rongga mediastinum.
Dilakukan inspeksi pada prekordial penderita yang berbaring terlentang atau dalam posisi sedikit dekubitus lateral kiri karena apek kadang sulit ditemukan misalnya pada stenosis mitral. dan pemeriksa berdiri disebelah kanan penderita. Pulsasi ini letaknya sesuai dengan apeks jantung. Diameter pulsasi kira-kira 2 cm, dengan punctum maksimum di tengah-tengah daerah tersebut. Pulsasi timbul pada waktu sistolis ventrikel. Bila ictus kordis bergeser ke kiri dan melebar, kemungkinan adanya pembesaran ventrikel kiri.
PALPASI
Denyut apeks jantung (iktus kordis) Dalam keadaaan normal, dengan sikap duduk, tidur terlentang atau berdiri iktus terlihat didalam ruangan interkostal V sisi kiri agak medial dari linea midclavicularis sinistra. Pada anak-anak iktus tampak pada ruang interkostal IV.
Denyutan nadi pada dada

Apabila di dada bagian atas terdapat denyutan maka harus curiga adanya kelainan pada aorta.
Aneurisma aorta ascenden dapat menimbulkan denyutan di ruang interkostal II kanan, sedangkan denyutan dada di daerah ruang interkostal II kiri menunjukkan adanya dilatasi a. pulmonalis dan aneurisma aorta descenden.

Getaran/Trhill
Adanya getaran seringkali menunjukkan adanya kelainan katup bawaan atau penyakit jantung congenital. Getaran yang lemah akan lebih mudah dipalpasi apabila orang tersebut melakukan pekerjaan fisik karena frekuensi jantung dan darah akan mengalir lebih cepat. Dengan terabanya getaran maka pada auskultasi nantinya akan terdengar bising jantung.

PERKUSI
Kita melakukan perkusi untuk menetapkan batas-batas jantung.
Perkusi jantung mempunyai arti pada dua macam penyakit jantung yaitu efusi
pericardium dan aneurisma aorta.
Batas kiri jantung

  • Kita melakukan perkusi dari arah lateral ke medial.
  • Perubahan antara bunyi sonor dari paru-paru ke redup relatif kita tetapkan sebagai batas jantung kiri.
  • Normal : Atas : ICS II kiri di linea parastrenalis kiri (pinggang jantung) Bawah: ICS V kiri agak ke medial linea midklavikularis kiri (tempat iktus)

Batas Kanan Jantung

  • Perkusi juga dilakukan dari arah lateral ke medial.
  • Disini agak sulit menentukan batas jantung karena letaknya agak jauh dari dinding depan thorak
    • Normal : Batas bawah kanan jantung adalah di sekitar ruang interkostal III-IV kanan, di linea parasternalis kanan. Sedangkan batas atasnya di ruang interkostal II kanan linea
    parasternalis kanan.

AUSKULTASI
Auskultasi bunyi jantung dilakukan pada tempat-tempat sebagai berikut :

Dengarkan BJ I pada :

  • ICS IV line sternalis kiri (BJ I Tricuspidalis)
  • ICS V line midclavicula/ICS III linea sternalis kanan (BJ I Mitral)

Dengarkan BJ II pada :

  • ICS II lines sternalis kanan (BJ II Aorta)
  • ICS II linea sternalis kiri/ICS III linea sternalis kanan (BJ II Pulmonal)

Dengarkan BJ III (kalau ada)

  • Terdengar di daerah mitral
  • BJ III terdengar setelah BJ II dengan jarak cukup jauh, tetapi tidak melebihi separo dari fase diastolik, nada rendah
  • Pada anak-anak dan dewasa muda, BJ III adalah normal
  • Pada orang dewasa/tua yang disertai tanda-tanda oedema/dipneu, BJ III merupakan tanda abnormal.
    • BJ III pada decomp. disebut Gallop Rythm.

Dari jantung yang normal dapat didengar lub-dub, lub-dub, lub-dub. Lub adalah suara penutupan katup mitral dan katup trikuspid, yang menandai awalsistole. Dub adalah suara katup aorta dan katup pulmonalis sebagai tanda awal diastole. Pada suara dub, apabila pasien bernafas akan terdengar suara yang terpecah.

  1. SISTEM PENCERNAAN

INSPEKSI

  1. Pasien berbaring terlentang dengan kedua tangan di sisi tubuh.
  2. Inspeksi cavum oris, lidah untuk melihat ada tidaknya kelainan.
  3. Letakan bantal kecil dibawah lutut dan dibelakang kepala untuk melemaskan/relaksasi otot- otot abdomen.
  4. Perhatikan ada tidaknya penegangan abdomen.
  5. Pemeriksa berdirilah pada sisi kanan pasien dan perhatikan kulit dan warna abdomen, bentuk perut, simetrisitas, jaringan parut, luka, pola vena, dan striae serta bayangan vena dan pergerakkan abnormal.
  6. Perhatikan posisi, bentuk, warna, dan inflamasi dari umbilikus.
  7. Perhatikan pula gerakan permukaan, massa, pembesaran atau penegangan. Bila abdomen tampak menegang, minta pasien untuk berbalik kesamping dan inspeksi mengenai ada tidaknya pembesaran area antara iga-iga dan panggul, tanyakan kepada pasien apakah abdomen terasa lebih tegang dari biasanya.
  8. Bila terjadi penegangan abdomen, ukur lingkar abdomen dengan memasang tali/ perban seputar abdomen melalui umbilikus. Buatlah simpul dikedua sisi tali/ perban untuk menandai dimana batas lingkar abdomen, lakukan monitoring, bila terjadi peningkatan perenggangan abdomen, maka jarak kedua simpul makin menjauh.
  9. Inspeksi abdomen untuk gerakan pernapasan yang normal.
  10. Mintalah pasien mengangkat kepalanya dan perhatikan adanya gerakan peristaltik atau denyutan aortik.

PALPASI
Abdomen
a. Posisi pasien berbaring terlentang dan pemeriksa disebelah kanannya.

  1. Lakukan palpasi ringan di tiap kuadran abdomen dan hindari area yang telah diketahui sebelumnya sebagai titik bermasalah, seperti apendisitis.
  2. Tempatkan tangan pemeriksa diatas abdomen secara datar, dengan jari- jari ekstensi dan berhimpitan serta pertahankan sejajar permukaan abdomen.
  3. Palpasi dimulai perlahan dan hati-hati dari superfisial sedalam 1 cm untuk mendeteksi area nyeri, penegangan abnormal atau adanya massa.
  4. Bila otot sudah lemas dapat dilakukan palpasi sedalam 2,5 – 7,5 cm, untuk mengetahui keadaaan organ dan mendeteksi adanya massa yang kurang jelas teraba selama palpasi
  5. Perhatikan karakteristik dari setiap massa pada lokasi yang dalam, meliputi ukuran, lokasi, bentuk, konsistensi, nyeri, denyutan dan gerakan
  6. Perhatikan wajah pasien selama palpasi untuk melihat adanya tanda/ rasa tidak nyaman.
  7. Bila ditemukan rasa nyeri, uji akan adanya nyeri lepas, tekan dalam kemudian lepas dengan cepat untuk mendeteksi apakah nyeri timbul dengan melepaskan tekanan.
  8. Minta pasien mengangkat kepala dari meja periksa untuk melihat kontraksi otot-otot abdominal

Hepar
a. Posisi pasien tidur terlentang.

  1. Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien.
  2. Letakkan tangan kiri pemeriksa dibawah torak/ dada kanan posterior pasien pada iga kesebelas dan keduabelas dan tekananlah kearah atas.
  3. Letakkan telapak tangan kanan di atas abdomen, jari-jari mengarah ke kepala / superior pasien dan ekstensikan sehingga ujung-ujung jari terletak di garis klavikular di bawah batas bawah hati.
  4. Kemudian tekanlah dengan lembut ke dalam dan ke atas.
  5. Minta pasien menarik napas dan cobalah meraba tepi hati saat abdomen mengempis.

Kandung Empedu

  1. Posisi pasien tidur terlentang.
  2. Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien.
  3. Letakkan telapak tangan kiri pemeriksa dibawah dada kanan posterior pasien pada iga XI dan XII dan tekananlah kearah atas.
  4. Letakkan telapak tangan kanan di atas abdomen, jari-jari mengarah ke kepala / superior pasien dan ekstensikan sehingga ujung-ujung jari terletak di garis klavikular di bawah batas bawah hati.
  5. Kemudian tekan lembut ke dalam dan ke atas.
  6. Mintalah pasien menarik napas dan coba meraba tepi hati saat abdomen mengempis.
  7. Palpasi di bawah tepi hati pada sisi lateral dari otot rektus.
  8. Bila diduga ada penyakit kandung empedu, minta pasien untuk menarik napas dalam selama palpasi.

Limpa
a. Posisi pasien tidur terlentang

  1. Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien
  2. Letakkan secara menyilang telapak tangan kiri pemeriksa di bawah pinggang kiri pasien dan tekanlah keatas.
  3. Letakkan telapak tangan kanan dengan jari-jari ektensi diatas abdomen dibawah tepi kiri kostal.
  4. Tekanlah ujung jari kearah limpa kemudian minta pasien untuk menarik napas dalam.
  5. Palpasilah tepi limpa saat limpa bergerak ke bawah kearah tangan pemeriksa
  6. Apabila dalam posisi terlentang tidak bisa diraba, maka posisi pasien berbaring miring kekanan dengan kedua tungkai bawah difleksikan.
  7. Pada keadaan tertentu diperlukan Schuffner test

Aorta

  1. Posisi pasien tidur terlentang
  2. Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien
  3. Pergunakan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan.
  4. Palpasilah dengan perlahan namun dalam ke arah abdomen bagian atas tepat garis tengah.

Pemeriksaan Asites

  1. Posisi pasien tidur terlentang.
  2. Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien.
  3. Prosedur ini memerlukan tiga tangan.
  4. Minta pasien atau asisten untuk menekan perut pasien dengan sisi ulnar tangan dan lengan atas tepat disepanjang garis tengah dengan arah vertikal.
  5. Letakkan tangan pemeriksa dikedua sisi abdomen dan ketuklah dengan tajam salah satu sisi dengan ujung- ujung jari pemeriksa.
  6. Rasakan impuls / getaran gelombang cairan dengan ujung jari tangan yang satunya atau bisa juga menggunakan sisi ulnar dari tangan untuk merasakan getaran gelombang cairan.

Colok Dubur

Pemeriksaan abdomen dapat diakhiri dengan colok dubur (sifatnya kurang menyenangkan sehingga ditaruh paling akhir). Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada pasien dalam posisi miring (symposisi), lithotomi, maupun knee-chest. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan satu tangan maupun dua tangan (bimanual, satu tangannya di atas pelvis). Colok dubur perlu hati-hati karena sifat anus yang sensitif, mudah kontraksi. Oleh karena itu colok dubur dilakukan serileks mungkin menggunakan lubrikasi. Sebaiknya penderita kencing terlebih dahulu. Pada posisi lithotomi diagnosis letak kelainan menggunakan posisi jam yakni jam 3 sebelah kanan, jam 9 sebelah kiri, jam 6 ke arah sacrum dan jam 12 ke arah pubis.
AUSKULTASI
a. Pasien berbaring terlentang dengan tangan dikedua sisi.

  1. Letakan bantal kecil dibawah lutut dan dibelakang kepala.
  2. Letakkan kepala stetoskop sisi diafragma di daerah kuadran kiri bawah. Berikan tekanan ringan, minta pasien agar tidak berbicara. Bila mungkin diperlukan 5 menit terus menerus untuk mendengar sebelum pemeriksaan menentukan tidak adanya bising usus.
  3. Dengarkan bising usus apakah normal, hiperaktif, hipoaktif, tidak ada bising usus dan perhatikan frekwensi/karakternya.
  4. Bila bising usus tidak mudah terdengar, lanjutkan pemeriksaan dengan sistematis dan dengarkan tiap kuadran abdomen.
  5. Kemudian gunakan sisi bel stetoskop, untuk mendengarkan bunyi desiran dibagian epigastrik dan pada tiap kuadran diatas arteri aortik, ginjal, iliaka, femoral dan aorta torakal. Pada orang kurus mungkin dapat terlihat gerakan peristaltik usus atau denyutan aorta.

PERKUSI
Abdomen
Lakukan perkusi di empat kuadran dan perhatikan suara yang timbul pada saat melakukannya dan bedakan batas-batas dari organ dibawah kulit. Organ berongga seperti lambung, usus, kandung kemih berbunyi timpani, sedangkan bunyi pekak terdapat pada hati, limfa, pankreas, ginjal.
Perkusi Batas Hati

  1. Posisi pasien tidur terlentang dan pemeriksa berdirilah disisi kanan pasien.
  2. Lakukan perkusi pada garis midklavikular kanan setinggi umbilikus, geser perlahan keatas, sampai terjadi perubahan suara dari timpani menjadi pekak, tandai batas bawah hati tersebut.
  3. Ukur jarak antara subcostae kanan kebatas bawah hati.
  4. Batas hati bagian bawah berada ditepi batas bawah tulang iga kanan.
  5. Batas hati bagian atas terletak antara celah tulang iga ke5 sampai kecelah tulang iga ke7.
  6. Jarak batas atas dengan bawah hati berkisar 6 – 12 cm dan pergerakan bagian bawah hati pada waktu bernapas yaitu berkisar 2 – 3 cm.

Perkusi Lambung

  1. Posisi pasien tidur terlentang.
  2. Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien.
  3. Lakukan perkusi pada tulang iga bagian bawah anterior dan bagian epigastrium kiri.
  4. Gelembung udara lambung bila di perkusi akan berbunyi timpani
  5. PENGKAJIAN SISTEM PERNAFASAN
  6. Inspeksi

1) Pemeriksaan dada dimulai dari thorax posterior, klien pada posisi duduk.

2) Dada diobservasi dengan membandingkan satu sisi dengan yang lainnya.

3) Inspeksi thorax poterior terhadap warna kulit dan kondisinya, lesi, massa, gangguan tulang belakang seperti : kyphosis, scoliosis dan lordosis, jumlah irama, kedalaman pernafasan, dan kesimetrisan pergerakan dada.

4) Observasi type pernafasan, seperti : pernafasan hidung atau pernafasan diafragma, dan penggunaan otot bantu pernafasan.

5) Saat mengobservasi respirasi, catat durasi dari fase inspirasi (I) dan fase ekspirasi (E). ratio pada fase ini normalnya 1 : 2. Fase ekspirasi yang memanjang menunjukkan adanya obstruksi pada jalan nafas dan sering ditemukan pada klien Chronic Airflow Limitation (CAL)/COPD.

6) Kaji konfigurasi dada dan bandingkan diameter anteroposterior (AP) dengan diameter lateral/tranversal (T). ratio ini normalnya berkisar 1:2 sampai 5:7, tergantung dari cairan tubuh klien.

7) Kelainan pada bentuk dada :

  1. Barrel Chest, Timbul akibat terjadinya overinflation paru. Terjadi peningkatan diameter AP : T (1:1), sering terjadi pada klien emfisema.
  2. Funnel Chest (Pectus Excavatum), Timbul jika terjadi depresi dari bagian bawah dari sternum. Hal ini akan menekan jantung dan pembuluh darah besar, yang mengakibatkan murmur. Kondisi ini dapat timbul pada ricketsia, marfan’s syndrome atau akibat kecelakaan kerja.
  3. Pigeon Chest (Pectus Carinatum), Timbul sebagai akibat dari ketidaktepatan sternum, dimana terjadi peningkatan diameter AP. Timbul pada klien dengan kyphoscoliosis berat.
  4. Kyphoscoliosis, Terlihat dengan adanya elevasi scapula. Deformitas ini akan mengganggu pergerakan paru-paru, dapat timbul pada klien dengan osteoporosis dan kelainan muskuloskeletal lain yang mempengaruhi thorax.
  5. Kiposis ,meningkatnya kelengkungan normal kolumna vertebrae torakalis menyebabkan klien tampak bongkok.
  6. Skoliosis : melengkungnya vertebrae torakalis ke lateral, disertai rotasi vertebral.

8) Observasi kesimetrisan pergerakan dada. Gangguan pergerakan atau tidak adekuatnya ekspansi dada mengindikasikan penyakit pada paru atau pleura.

9) Observasi retraksi abnormal ruang interkostal selama inspirasi, yang dapat mengindikasikan obstruksi jalan nafas.

  1. Palpasi

1) Dilakukan untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan dada dan mengobservasi abnormalitas, mengidentifikasi keadaan kulit dan mengetahui vocal premitus (vibrasi).
2) Palpasi thoraks untuk mengetahui abnormalitas yang terkaji saat inspeksi seperti : massa, lesi, bengkak.

3) Kaji juga kelembutan kulit, terutama jika klien mengeluh nyeri.

4) Vocal premitus : getaran dinding dada yang dihasilkan ketika berbicara.

  1. Perkusi

1) Perawat melakukan perkusi untuk mengkaji resonansi pulmoner, organ yang ada disekitarnya dan pengembangan (ekskursi) diafragma.

2) Jenis suara perkusi :

Suara perkusi normal resonan (sonor) : dihasilkan untuk mengetahui batas antara bagian jantung dan paru.

  1. Auskultasi
  2. Merupakan pengkajian yang sangat bermakna, mencakup mendengarkan suara nafas normal, suara tambahan (abnormal), dan suara.
  3. Suara nafas normal dihasilkan dari getaran udara ketika melalui jalan nafas dari laring ke alveoli, dengan sifat bersih.
  4. Suara nafas normal :
  5. a) Bronchial : Normal terdengar di atas trachea atau daerah suprasternal notch. Fase ekspirasinya lebih panjang daripada inspirasi, dan tidak ada henti diantara kedua fase tersebut.
  6. b) Vesikular : terdengar lembut, halus, seperti angin sepoi-sepoi. Inspirasi lebih panjang dari ekspirasi, ekspirasi terdengar seperti tiupan.
  7. c) Bronchovesikular : merupakan gabungan dari suara nafas bronchial dan vesikular. Suaranya terdengar nyaring dan dengan intensitas yang sedang. Inspirasi sama panjang dengan ekspirasi. Suara ini terdengar di daerah thoraks dimana bronchi tertutup oleh dinding dada.

 

  1. SISTEM MUSKULOSKELETAL
  2. Inspeksi

1) Pada saat inspeksi tulang belakang, buka baju pasien untuk menampakkan seluruh tubuh.

2) Inspeksi ukuran otot, bandingkan satu sisi dengan sisi yang lain dan amati adanya atrofi atau hipertrofi. Kelurusan tulang belakang, diperiksa dengan pasien berdiri tegak dan membungkuk ke depan.

3) Jika didapatkan adanya perbedaan antara kedua sisi, ukur keduanya dengan menggunakan meteran.
4) Amati adanya otot dan tendo untuk mengetahui kemungkinan kontraktur yang ditunjukkan oleh malposisi suatu bagian tubuh.

5) Amati kenormalan susunan tulang dan adanya deformitas.

6) Skoliosis ditandai dengan kulvatura lateral abnormal tulang belakang, bahu yang tidak sama tinggi, garis pinggang yang tidak simetris, dan skapula yang menonjol, akan lebih jelas dengan uji membungkuk ke depan.

7) Amati keadaan tulang untuk mengetahui adanya pembengkakan persendian.

8) Inspeksi persendian untuk mengetahui adanya kelainan persendian.

9) Inspeksi pergerakkan persendian.

  1. Palpasi

1) Palpasi pada saat otot istirahat dan pada saat otot bergerak secara aktif dan pasif untuk mengetahui adanya kelemahan (flasiditas), kontraksi tiba-tiba secara involunter (spastisitas)

2) Uji kekuatan otot dengan cara menyuruh klien menarik atau mendorong tangan pemeriksa, bandingkan kekuatan otot ekstremitas kanan dengan ekstremitas kiri.

3) Palpasi untuk mengetahui adanya edema atau nyeri tekan.

4) Palpasi sendi sementara sendi digerakkan secara pasif akan memberikan informasi mengenai integritas sendi. Normalnya, sendi bergerak secara halus. Suara gemletuk dapat menunjukkan adanya ligament yang tergelincir di antara tonjolan tulang. Permukaan yang kurang rata, seprti pada keadaan arthritis, mengakibatkan adanya krepitus karena permukaan yang tidak rata tersebut yang saling bergeseran satu sama lain.

5) Periksa adanya benjolan, rheumatoid arthritis, gout, dan osteoarthritis menimbulkan benjolan yang khas. Benjolan dibawah kulit pada rheumatoid arthritis lunak dan terdapat di dalam dan sepanjang tendon yang memberikan fungsi ekstensi pada sendi biasanya, keterlibatan sendi mempunya pola yang simetris. Benjolan pada GOUT keras dan terletak dalam dan tepat disebelah kapsul sendi itu sendiri.
6) Gunakan penentuan singkat kekuatan otot dengan skala Lovett’s (memiliki nilai 0 – 5)

0 = Tidak ada kontraksi sama sekali.

1 = Gerakan kontraksi.

2 = Kemampuan untuk bergerak, tetapi tidak kuat kalau melawan tahanan atau gravitasi.

3 = Cukup kuat untuk mengatasi gravitasi.

4 = Cukup kuat tetapi bukan kekuatan penuh.

5 = Kekuatan kontraksi yang penuh.

  1. Perkusi

1) Refleks patela, Tendon patella (ditengah-tengah patella dan tuberositas tibiae) dipukul dengan refleks hammer. Respon berupa kontraksi otot quadriceps femoris yaitu ekstensi dari lutut.
2) Refleks biceps, lengan difleksikan terhadap siku dengan sudut 90º, supinasi dan lengan bawah ditopang pada alas tertentu (meja periksa). Jari pemeriksa ditempatkan pada tendon m. biceps (diatas lipatan siku), kemudian dipukul dengan refleks hammer. Normal jika timbul kontraksi otot biceps, sedikit meningkat bila terjadi fleksi sebagian dan gerakan pronasi. Bila hyperaktif maka akan terjadi penyebaran gerakan fleksi pada lengan dan jari-jari atau sendi bahu.
3) Refleks triceps, lengan ditopang dan difleksikan pada sudut 90º, tendon triceps diketok dengan refleks hammer (tendon triceps berada pada jarak 1-2 cm diatas olekranon). Respon yang normal adalah kontraksi otot triceps, sedikit meningkat bila ekstensi ringan dan hyperaktif bila ekstensi siku tersebut menyebar keatas sampai otot-otot bahu atau mungkin ada klonus yang sementara.
4) Refleks achilles, posisi kaki adalah dorsofleksi, untuk memudahkan pemeriksaan refleks ini kaki yang diperiksa bisa diletakkan/disilangkan diatas tungkai bawah kontralateral.
Tendon achilles dipukul dengan refleks hammer, respon normal berupa gerakan plantar fleksi kaki.
5) Refleks abdominal, dilakukan dengan menggores abdomen diatas dan dibawah umbilikus. Kalau digores seperti itu, umbilikus akan bergerak keatas dan kearah daerah yang digores.
6) Refleks Babinski, merupakan refleks yang paling penting . Ia hanya dijumpai pada penyakit traktus kortikospinal. Untuk melakukan test ini, goreslah kuat-kuat bagian lateral telapak kaki dari tumit kearah jari kelingking dan kemudian melintasi bagian jantung kaki. Respon Babinski timbul jika ibu jari kaki melakukan dorsifleksi dan jari-jari lainnya tersebar. Respon yang normal adalah fleksi plantar semua jari kaki.

  1. SISTEM ENDOKRIN

Inspeksi
a. (warna kulit) : Hiperpigmentasi ditemukan pada klien addison desease atau cushing syndrom. Hipopigmentasi terlihat pada klien diabetes mellitus, hipertiroidisme, hipotiroidisme.
b. Wajah : Variasi, bentuk dan struktur muka mungkin dapat diindikasikan dengan penyakit akromegali mata.

  1. Kuku dan rambut : Peningkatan pigmentasi pada kuku diperlihatkan oleh klien dengan penyakit addison desease, kering, tebal dan rapuh terdapat pada penyakit hipotiroidisme, rambut lembut hipertyroidisme. Hirsutisme terdapat pada penyakit cushing syndrom.
    d. Inspeksi ukuran dan proporsional struktur tubuh klien : Orang jangkung, yang disebabkan karena insufisiensi growth hormon. Tulang yang sangat besar, bisa merupakan indikasi akromegali.
    e. Tanda trousseaus dan tanda chvoteks : Peningkatan kadar kalsium tangan dan jari-jari klien kontraksi (spasme karpal).

Palpasi
a. Kulit kasar, kering ditemukan pada klien dengan hipotiroidisme. Dimana kelembutan dan bilasan kulit bisa menjadi tanda pada klien dengan hipertiroidisme. Lesi pada ekstremitas bawah mengindikasikan DM.

  1. Palpasi kelenjar tiroid (tempatkan kedua tangan anda pada sisi lain pada trachea dibawah kartilago thyroid. Minta klien untuk miringkan kepala ke kanan Minta klien untuk menelan. Setelah klien menelan. pindahkan pada sebelah kiri. selama palpasi pada dada kiri bawah) : Tidak membesar pada klien dengan penyakit graves atau goiter.

Auskultasi
Auskultasi pada daerah leher diata tiroid dapat mengidentifikasi bunyi “bruit“. Bunyi yg dihasilkan oleh karena turbulensi pada pembuluh darah tiroidea. Normalnya tidak ada bunyi.

  1. SISTEM INTEGUMEN

Inspeksi
a. Kaji integritas kulit warna flushing, cyanosis, jaundice, pigmentasi yang tidak teratur

  1. Kaji membrane mukosa, turgor, dan keadaan umum, kulit
  2. Kaji bentuk, integritas, warna kuku.
  3. Kaji adanya luka, bekas operasi/skar, drain, dekubitus.

Palpasi
a. Adanya nyeri, edema, dan penurunan suhu.

  1. Tekstur kulit.
  2. Turgor kulit, normal < 3 detik
  3. Area edema dipalpasi untuk menentukan konsistensi, temperatur, bentuk, mobilisasi.
  4. Palpasi Capillary refill time : warna kembali normal setelah 3 – 5 detik.
  1. SISTEM NEUROLOGI

Inspeksi
a. Kaji LOC (level of consiousness) atau tingkat kesadaran : dengan melakukan pertanyaan tentang kesadaran pasien terhadap waktu, tempat dan orang.

  1. Kaji status mental.
  2. Kaji adanya kejang atau tremor.

Palpasi
a. Kaji tingkat kenyamanan, adanya nyeri dan termasuk lokasi, durasi, tipe dan pengobatannya.
b. Kaji fungsi sensoris dan tentukan apakah normal atau mengalami gangguan. Kaji adanya hilang rasa, rasa terbakar/panas dan baal.

  1. Kaji fungsi motorik seperti : genggaman tangan, kekuatan otot, pergerakan dan postur.

Perkusi
a. Refleks patela, diketuk pada regio patela (ditengah tengah patela).
b. Refleks achilles, dipukul dengan refleks hammer, respon normal berupa gerakan plantar fleksi kaki.

  1. SISTEM REPRODUKSI

Inspeksi
a. Keadaan umum, pemeriksaan khusus obstetri, pemeriksaan dalam, dan pemeriksaan tambahan.
b. Inspeksi tentang status gizi : anemia, ikterus.

  1. Kaji pola pernapasan (sianosis, dispnea).
  2. Apakah terdapat edema, bagaimana bentuk dan tinggi badan, apakah ada perubahan pigmentasi, kloasma gravidarum, striae alba, striae lividae, striae nigra, hiperpigmentasi, dan areola mamma.

Palpasi
a. palpasi menurut Leopold I-IV

  1. Serviks, yaitu untuk mengetahui pelunakan serviks dan pembukaan serviks.
    c. Ketuban, yaitu untuk mengetahui apakah sudah pecah atau belum dan apakah ada ketegangan ketuban.
  2. Bagian terendah janin, yaitu untuk mengetahui bagian apakah yang terendah dari janin, penurunan bagian terendah, apakah ada kedudukan rangkap, apakah ada penghalang di bagian bawah yang dapat mengganggu jalannya persalinan.
  3. Perabaan forniks, yaitu untuk mengetahui apakah ada bantalan forniks dan apakah bagian janin masih dapat didorong ke atas.

Auskultasi
Auskultasi untuk mengetahui bising usus, gerak janin dalam rahim, denyut jantung janin, aliran tali pusat, aorta abdominalis, dan perdarahan retroplasenter.

  1. SISTEM PERKEMIHAN

Inspeksi
1) Kaji kebiasaan pola BAK, output/jumlah urine 24 jam, warna, kekeruhan dan ada/tidaknya sedimen.
2) Kaji keluhan gangguan frekuensi BAK, adanya dysuria dan hematuria, serta riwayat infeksi saluran kemih.

3) Inspeksi penggunaan condom catheter, folleys catheter, silikon kateter atau urostomy atau supra pubik kateter.

4) Kaji kembali riwayat pengobatan dan pengkajian diagnostik yang terkait dengan sistem perkemihan.
Palpasi
1. Palpasi adanya distesi bladder (kandung kemih)

  1. Untuk melakukan palpasi Ginjal Kanan: Posisi di sebelah kanan pasien. Tangan kiri diletakkan di belakang penderita, paralel pada costa ke-12, ujung cari menyentuh sudut costovertebral (angkat untuk mendorong ginjal ke depan). Tangan kanan diletakkan dengan lembut pada kuadran kanan atas di lateral otot rectus, minta pasien menarik nafas dalam, pada puncak inspirasi tekan tangan kanan dalam-dalam di bawah arcus aorta untuk menangkap ginjal di antar kedua tangan (tentukan ukuran, nyeri tekan ga). Pasien diminta membuang nafas dan berhenti napas, lepaskan tangan kanan, dan rasakan bagaimana ginjal kembali waktu ekspirasi.
  2. Dilanjutkan dengan palpasi Ginjal Kiri : Pindah di sebelah kiri penderita, Tangan kanan untuk menyangga dan mengangkat dari belakan. Tangan kiri diletakkan dengan lembut pada kuadran kiri atas di lateral otot rectus, minta pasien menarik nafas dalam, pada puncak inspirasi tekan tangan kiri dalam-dalam di bawah arcus aorta untuk menangkap ginjal di antar kedua tangan (normalnya jarang teraba).

Perkusi
Untuk pemeriksaan ketok ginjal prosedur tambahannya dengan mempersilahkan penderita untuk duduk menghadap ke salah satu sisi, dan pemeriksa berdiri di belakang penderita. Satu tangan diletakkan pada sudut kostovertebra kanan setinggi vertebra torakalis 12 dan lumbal 1 dan memukul dengan sisi ulnar dengan kepalan tangan (ginjal kanan). Satu tangan diletakkan pada sudut kostovertebra kanan setinggi vertebra torakalis 12 dan lumbal 1 dan memukul dengan sisi ulnar dengan kepalan tangan (ginjal kiri). Penderita diminta untuk memberiksan respons terhadap pemeriksaan bila ada rasa sakit.

2.7 Proses keperawatan : tahapan dalam proses keperawatan (pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, tujuan keperawatan, rencana keperawatan, tindakan keperawatan, evaluasi keperawatan).

Proses keperawatan merupakan kerangka berpikir dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien, keluarga, dan komunitas.
1. Bersifat teratur dan sistematis.
2. Bersifat saling bergantung satu dengan yang lain
3. Memberikan asuhan keperawatan secara individual
4. Klien menjadi pusat dan menghargai kekuatan klien
5. Dapat digunakan dalam keadaan apapun

Tahapan dalam Proses Keperawatan
Menurut beberapa ahli tentang proses keperawatan, tahapan proses keperawatan adalah sebagai berikut :
1. Tahap Pengkajian
2. Tahap Diagnosis keperawatan
3. Tahap Perencanaan
4. Tahap pelaksanaan
5. Tahap evaluasi

  1. Tahap Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah pertama dari proses keperawatan melalui kegiatan pengumpulan data atau perolehan data yang akurat dari pasien guna mengetahui berbagai permasalahan yang ada. Perawat juga harus memiliki berbagai pengetahuan, diantaranya pengetahuan tentang kebutuhan biopsikososial dan spiritual bagi manusia, pengetahuan tentang kebutuhan perkembangan manusia (tumbuh kembang), pengetahuan tentang konsep sehat dan sakit, pengetahuan tentang patofisiologi tentang penyakit yang dialami, pengetahuan tentang sistem keluarga, budaya, nilai-nilai keyakinan yang dimiliki pasien dan sebagainya.Perawat juga harus memiliki kemampuan melakukan observasi secara sistematis kepada pasien, kemampuan berkomunikasi secara verbal atau nonverbal, kemampuan menjadi pendengar yang baik, menciptakan hubungan saling membantu, membangun kepercayaan, mengadakan wawancara, kemampuan dalam melakukan pengkajian atau pemeriksaan fisik keperawatan.

Tahap pengkajian dilakukan dengan tahapan berikut :

  1. Pengumpulan data; merupakan upaya untuk mendapatkan data sebagai informasi tentang pasien. Data yang dibutuhkan tersebut mencakup data tentang biopsikososial dan spiritual atau data yang berhubungan dengan masalah pasien serta data tentang faktor-faktor yang yang memengaruhi masalah pasien. Dalam pengumpulan data, perangkat, atau format yang dimilki dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

Pengumpulan data dilakukan dengan cara :

  1. Wawancara, yaitu melalui komunikasi untuk mendapatkan respons dari pasien dengan tatap muka
  2. Observasi, dengan mengadakan pengamatan secara visual atau secara langsung kepada pasien
  3. Konsultasi, dengan melakukan konsultasi kepada ahli atau spesial bagian
  4. Pemeriksaan, yaitu peneriksaan fisik dengan metode inspeksi melalui pengamatan secara

langsung pada organ yang diperiksa; palpasi dengan cara meraba organ yang diperiksa; perkusi dengan melakukan pengetukan menggunakan jari telunjuk atau palu (hammer) pada pemeriksaan neurologis; dan auskultasi dengan mendengarkan bunyi bagian organ yang diperiksa, pemeriksaan laboratorium.

  1. Validasi Data ; merupakan upaya untuk memberikan justifikasi pada data yang telah dikumpulkan dengan melakukan perbandingan data subjektif dan objektif yang dikumpulkan dari berbagai sumberberdasarkan standar nilai normal, untuk menemukan kemungkinan pengkajian ulang atau pengkajian tambahan tentang data yang ada.
  2. Identifikasi Pola/Masalah ; merupakan kegiatan terakhir dari tahap pengkajian setelah dilakukan validasi data. Melalui identifikasi pola atau masalah dapat diketahui gangguan/masalah keperawatan yang terdapat pada fungsi kesehatan, seperti pada persepsi tata laksana kesehatan, pola aktivitas latihan, pola nutrisi metabolisme dll.
  1. Tahap Diagnosis Keperawatan
    Merupakan keputusan klinis mengenai seseorang, keluarga, atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau potensial (Carpenito, 1995).
  1. Tahap Perencanaan

Tahap ini merupakan proses penyusunan berbagagai intervensi keperawatan yang dibutuhkan untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi masalah-masalah pasien. Perencanaan merupakan langkah ketiga dalam proses keperawatan yang mmebutuhkan berbagai pengetahuan dan keterampilan diantaranya pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan dari pasien, nilai dan kepercayaan pasien, batasan praktik keperawatan, peran dari tenaga kesehatan lainnya, kemampuan dalam memecahkan masalah, mengambil keputusan, menulis tujuan, serta memilih dan membuat strategi keperawatan yang aman dalam memenuhi tujuan.

  1. Tahap Pelaksanaan

Merupakan tahap keempat dalam proses keperawatan dengan melaksanakanberbagai strategi keperawatan (tindakan keperawatan) yang telah direncanakan. Dalam tahap ini perawat harus mampu mengetahui berbagai hal, diantaranya bahaya fisik dan perlindungan kepada pasien, teknik komunikasi, kemampuan dalam prosedur tindakan, pemahaman tentang hak-hak pasien tingkat perkembangan pasien. Dalam tahap pelaksanaan, terdapat dua tindakan yaitu tindakan mandiri dan tindakan kolaborasi.

Berikut adalah contoh tindakan keperawatan mandiri (tindakan independen) dan kolaborasi (interdependen) :

1.Tindakan Mandiri : Mengajarkan pasien menggunakan walker, mengkaji ROM ekstremitas atas pasien dll

2.Tindakan Kolaborasi : Berkonsultasi dengan ahli terapi fisik mengenai kemajuan pasien menggunakan walker.

  1. Tahap Evalusi

Evaluasi merupakan tahapan terakhir proses keperawatan dengan cara menilai sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau tidak. Dalam mengevaluasi perawat harus memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memahami respons terhadap intervensi keperawatan, kemampuan menggambarkan kesimpulan tentang tujuan yang dicapai, serta kemampuan dalam menghubungkan tindakan keperawatan pada kriteria hasil.
Tahap evaluasi ini terdiri atas dua kegiatan, yaitu evaluasi hasil dan evaluasi proses. Evaluasi proses dilakukan selama proses perawatan berlangsung atau menilai respons pasien, sedangkan evaluasi target tujuan yang dihasilkan.

Dokumentasi

Perawat dapat memilih untuk mencatat hasil dari pengkajian fisik pada pemeriksaan atau pada akhir pemeriksaan. Sebagian besar institusi memiliki format khusus yang mempermudah pencatatan data pemeriksaan. Perawat meninjau semua hasil sebelum membantu klien berpakaian, untuk berjaga-jaga seandainya perlu memeriksa kembali informasi atau mendapatkan data tambahan. Temuan dari pengkajian fisik dimasukkan ke dalam rencana asuhan. Data di dokumentasikan berdasarkan format SOAPIE, yang hamper sama dengan langkah-langkah proses keperawatan.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan.

Pemeriksaan fisik berasal dari kata “Physical Examination” yang artinya memeriksa tubuh. Jadi pemeriksaan fisik adalah memeriksa tubuh dengan atau tanpa alat untuk tujuan mendapatkan informasi atau data yang menggambarkan kondisi klien yang sesungguhnya.

Tujuan dari pemeriksaan fisik yaitu :

  1. Mengkaji secara umum dari status umum keadaan klien.
  2. Mengkaji fungsi fisiologi dan patologis atau gangguan.
  3. Mengenal secara dini adanya masalah keperawatan klien baik aktual maupun resiko.
  4. Merencanakan cara mengatasi permasalahan yang ada,serta menghindari masalah yang mungkin terjadi.

Pemeriksaan fisik mutlak dilakukan pada setiap klien, tertama pada klien yang baru masuk ke tempat pelayanan kesehatan untuk di rawat, secara rutin pada klien yang sedang di rawat, sewaktu-waktu sesuai kebutuhan klien. Jadi pemeriksaan fisik ini sangat penting dan harus di lakukan pada kondisi tersebut, baik klien dalam keadaan sadar maupun tidak sadar.
Pemeriksaan fisik menjadi sangat penting karena sangat bermanfaat, baik untuk untuk menegakkan diagnosa keperawatan, memilih intervensi yang tepat untuk proses keperawatan, maupun untuk mengevaluasi hasil dari asuhan keperawatan.

3.2 Saran.

Dari pemaparan diatas, kami memberikan saran dalam ilmu kesehatan khususnya ilmu keperawatan penting sekali memahami dan mahir melakukan pemeriksaan fisik dalam asuhan keperawatan secara tepat agar terhindar dari kesalahan dalam tindakan baik itu dirumah sakit maupun di masyarakat yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A.Aziz Alimul, 2006, Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika

Joyce, K & Everlyn, R.H. (1996). Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta : EGC

Mubarak,Iqbal wahit,2008,Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia Teori dan Aplikasi Dalam Praktik,Jakarta : EGC

Suryadi hikmat,2012,Buku Saku Pemeriksaan Fisik Head to Toe.Sukabumi : LCN Press Entrepreneur

http://nursingbegin.com/tag/pemeriksaan-fisik/

(Di akses pada tanggal 18 September 2014 Pukul 14.15 WIB).

Add a comment August 23, 2017

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER

NAMA PRODI AKADEMI KEPERAWATAN JAMBI
NAMA MATA KULIAH KEPERAWATAN MATERNITAS I
KODE MATA KULIAH WAT 3.04/4 ( T : 2, P : 2)
SEMESTER IV
BEBAN KREDIT 4 SKS (T: 2, P: 2)
TIM DOSEN RAHMAWATI, S. Kep., M. Biomed.

Ns. HAYATI, S. Kep.

Ns. RETA RENYLDA, S. Kep.

FITRI ISNAINI, S. Pd.

Hj. TITIK HINDRIATI, S. Pd., M. Kes.

DESKRIPSI MATA KULIAH Fokus mata ajaran ini membahas tentang konsep dasar keperawatan maternitas, konsep dasar obstetri dan ginekologi, askep ibu hamil, persalinan, bayi baru  lahir dan nifas baik fisiologis maupun patologis, bedah persalinan, keluarga berencana, kesehatan perempuan pada masa subur sampai dengan masa menopause dan gangguan sistem reproduksi. Proses pembelajaran diberikan melalui kuliah, diskusi dan praktek laboratorium
CAPAIAN PEMBELAJARAN Pada akhir mata kuliah, mahasiswa mampu :

1.     Memahami konsep dasar obstetric dan ginekologi

2.     Menjelaskan konsep dasar keperawatan maternitas

3.     Memahami konsep asuhan keperawatan ibu hamil normal dan komplikasi

4.     Memahami konsep asuhan keperawatan ibu bersalin

5.     Memahami konsep asuhan keperawatan bayi baru lahir

6.     Memahami konsep asuhan keperawatan ibu nifas fisiologis dan komplikasi

7.     Memahami konsep asuhan keperawatan ibu dengan bedah kebidanan

8.     Menjelaskan keluarga berencana

9.     Memahami konsep asuhan keperawatan ibu dengan gangguan sistem reproduksi

METODE PENILAIAN DAN PEMBOBOTAN 1.      Kehadiran :

§  ≥ 90 % boleh mengikuti ujian

§  75 % -90 % boleh mengikuti ujian dengan penugasan

§  ≤ 75 % tidak boleh mengikuti ujian

2.     Penilaian

·      Teori                                                 : 50 %

§    Tugas/Diskusi                                                    : 20 %

§    Ujian tengah semester (UTS)                      : 30 %

§    Ujian akhir semester (UAS)                          : 50 %

·      Praktikum Laboratorium                 : 50 %

§    Lap. praktikum                                                  : 20 %

§    Praktek mandiri                                                : 30 %

§    Ujian OSCE                                                          : 50 %

DAFTAR REFERENSI 1.    Arif, 2009, Neonatus dan Asuhan Keperawatan Anak, Yogyakarta, Nuha Medica.

2.    Bobak, 2005, Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4, EGC.

3.    Biescher, NA, Mackay, EV, 1996, Obstetric and Newborn, an Ilmu trated Texbook (2 Ed), Sidney, W. B Sauders. Comp

4.    Hanifah, 1991, Ilmu Kebidanan, Bagian Ilmu Kebidanan FKUI-RSCM, Jakarta, Yayasan Bina Pustaka.

5.    Hanifah, 1994, Ilmu Kebidanan, Jakarta, Yayasan Bina Pustaka.

6.    Jumiarni, 1995, Asuhan Keperawatan Perinatal, Jakarta, EGC.

7.    Laurrie N Sherwen, mary : Ann Scolopeno, Carol Tousie Wingarten 1999, Nursing Care of the Chilbeaning Family, California Appeleon & Lange, Norwalk Connekcut/Sanimateo

8.    Marylin Doenges, 2005, Asuhan Keperawatan Maternal dan Bayi, Jakarta, EGC.

9.    Mary Hamilton, 1995. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, Edisi ke enam, EGC

10.Mitayani, 2011, Asuhan Keperawatan Maternitas, Salemba Medika, Jakarta.

11.Prawiroharjo S, 1994, Ilmu Kandungan Jakarta, Yayasan Bina Pustaka.

12.Pusdinakes, 1993, asuhan Kebidanan Pada Ibu Gangguan Sistem Reproduksi, Jakarta

13.Salmah, 2006, Asuhan Kebidanan Antenatal, Jakarta, EGC.

14.Saifudin dkk, 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta Yayasan Bina Pustaka.

15.Sudarti, 2010, Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, Dan Anak Balita, Yogyakarta, Nuha medica.

16.Sholeh Kosim, 2005. Buku Panduan Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir, Depkes RI.

17.Sodikin, 2009. Buku Saku Perawatan Tali pusat. EGC, Jakarta.

18.Vivian, 2011, Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas, Salemba Medika, Jakarta.

JADWAL PEMBELAJARAN TEORI
WAKTU BAHAN KAJIAN/

SUB BAHAN KAJIAN

METODA MEDIA DOSEN INDIKATOR PENILAIAN
Rabu

09 Maret ‘16

08.20 – 10.00

v  Sistem reproduksi wanita

·      Struktur eksterna

·      Struktur interna

·      Fisiologi haid

v  Anatomi panggul

·      Tulang penyusun rangka panggul

·      Pembagian rangka panggul

v  Sistem reproduksi pria

·      Struktur eksterna

·      Struktur interna

v  Sistem hormonal

·  Hormonal wanita

·  Hormonal pria

v  Konsepsi

o   Ovum

o   Sperma

o   Fertilisasi

o   Nidasi

v  Perkembangan embrio dan janin

v  Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan  janin

v  Peredaran darah janin

CTJ LCD

LAPTOP

SPIDOL

WHITEBOARD

Ns. Hayati, S. Kep. Mahasiswa mampu memahami konsep dasar obstetric dan ginekologi
Rabu,

09 Maret 2016

10.20 – 12.00

v  Konsep keperawatan maternitas :

·   Falsafah keperawatan maternitas

·   Sasaran keperawatan maternitas

·   Peran dan fungsi perawat

·   Paradigma keperawatan  maternitas

v Issue dan trend keperawatan maternitas

CTJ LCD

LAPTOP

SPIDOL

WHITEBOARD

Ns. Hayati, S. Kep. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan konsep dasar keperawatan maternitas.

 

Sabtu,

12 Maret 2016

08.20 – 10.00

v  Masa Prenatal

· Pengertian periode prenatal

· Tujuan keperawatan prenatal

· Tanda objektif kehamilan

· Tanda subjektif kehamilan

· Tanda pasti kehamilan

v  Adaptasi fisiologi ibu hamil

·    Sistem Reproduksi

·    Sistem Respirasi

·    Sistem Kardiovaskuler

·    Sistem Pencernaan

·    Sistem Urinari

·    Sistem Hematologi

·    Sistem Endokrin

v  Adaptasi psikologis ibu hamil

v  Kebutuhan bumil semester I,II, dan III (Pendidikan kesehatan : Diet ibu hamil, Kebutuhan nutrisi, perawatan payudara, senam hamil, kebersihan diri, hubungan seksual, eliminasi, imunisasi, obat-obatan, aktivitas dan istirahat)

CTJ LCD

LAPTOP

SPIDOL

WHITEBOARD

Fitri Isnaini, S. Pd. Mahasiswa mampu memahami konsep masa prenatal normal dan komplikasi
Sabtu,

12 Maret 2016

10.20 – 12.00

v  Asuhan  keperawatan ibu hamil Trimester I-III :

v  Faktor-faktor resiko tinggi pada kehamilan

v  Asuhan keperawatan ibu hamil dengan resiko tinggi/ komplikasi :

v  Penyakit yang menyertai :

·     Hyperemisis gravidarum dan Anemia

·     Perdarahan Ante partum (Abortus, Mola hidatidosa, KET)

·     Plasenta previa dan solutio plasenta

·     TORCH

·     Pre eklamsi dan eklampsi

CTJ

PBD

LCD

LAPTOP

SPIDOL

WHITEBOARD

Fitri Isnaini, S. Pd. Mahasiswa mampu memahami konsep asuhan keperawatan ibu hamil normal dan komplikasi,  ketepatan kelompok dalam menjawab menjawab

 

Rabu,

16 Maret 2016

08.20 – 10.00

v  Masa Intranatal

·     Pengertian persalinan

·     Faktor yang mempengaruhi persalinan

·     Fase dalam persalinan

·     Tanda-tanda persalinan

·     Power dalam persalinan

·     Mekanisme persalinan

·     Macam-macam His

·     Manajemen nyeri persalinan

v  Tujuan keperawatan masa intranal

CTJ LCD

LAPTOP

SPIDOL

WHITEBOARD

Hj. Titik Hindriati, S. Pd., M. Kes. Mahasiswa mampu memahami konsep masa intranatal
Rabu,

16 Maret 2016

10.20 – 12.00

v  Adaptasi fisiologi & psikologi masa intranatal

v  Kebutuhan ibu bersalin

·     Monitoring dengan partograf :

ü  Pemberian obat

ü  Persiapan daerah perineal

ü  Dukungan

·     Kebutuhan dasar ibu :

ü  Bimbingan

ü  Makanan dan cairan

ü  Eliminasi

ü  Posisi dan aktivitas

ü  Kontrol nyeri

ü  Pengenalan tanda bahaya

CTJ LCD

LAPTOP

SPIDOL

WHITEBOARD

Hj. Titik Hindriati, S. Pd., M. Kes. Mahasiswa mampu memahami konsep masa intranatal
Sabtu

19 Maret ‘16

08.20 – 10.00

v  Pengkajian pada masa intranatal

·       Anamnesa

·       Pemeriksaan fisik Bulin

v  Askep bulin pada masa intranatal

·     Pimpinan nafas dan mengedan yang efektif

·     Pemantauan kes. ibu dan janin

·     Amniotomy

·     Episiotomy

v  Partograf

v  Pertolongan persalinan dengan support selama persalinan kala I-IV

v  Manajemen aktif kala III

v  IMD (Inisiasi Menyusui Dini)

CTJ

PBD

LCD

LAPTOP

SPIDOL

WHITEBOARD

Ns. Reta Renylda, S. Kep. Mahasiswa mampu memahami konsep asuhan keperawatan ibu bersalin
Sabtu

19 Maret ‘16

10.20 – 12.00

v  Konsep BBL

v  Adaptasi fisiologis  BBL

v   Pencegahan kehilangan panas BBL

v   Asuhan keperawatan pada BBL normal

v   Masalah-masalah yang lazim terjadi pada BBL

v  Asuhan keperawatan pada BBL dengan komplikasi :

· BBLR

· Prematur

· Hiperbilirubin

· Tetanus Neonatorum

· Trauma persalinan

· Asfiksia Neonatorum

CTJ

PBD

LCD

LAPTOP

SPIDOL

WHITEBOARD

Ns. Reta Renylda, S. Kep. Mahasiswa mampu memahami konsep dan asuhan keperaatan ada bayi baru lahir, ketepatan kelompok dalam menjawab.
Rabu

23 Maret ‘16

08.00 – 10.00

v  Asuhan keperawatan pada kasus dengan penyulit persalinan :

·     KPD

·     Gemelli

·     Letak lintang

·     Presentasi bokong

·     Atonia uteri

·     Retensio placenta

CTJ

PBD

LCD

LAPTOP

SPIDOL

WHITEBOARD

Rahmawati, S. Kep., M. Biomed. Mahasiswa memahami asuhan keperawatan pada kasus dengan penyulit persalinan
Rabu

23 Maret ‘16

10.00 – 12.00

v  Konsep Post natal

·         Pengertian post natal

·         Tujuan keperawatan post natal

·         Periode nifas

·         Adaptasi fisiologi dan psikologi post natal

v  Masa post natal

·         Manajemen Laktasi

·         Bonding & attachement

v  Masalah-masalah yang lazim terjadi pada ibu nifas

v  Asuhan keperawatan pada ibu nifas

CTJ

 

LCD

LAPTOP

SPIDOL

WHITEBOARD

Ns. Reta Renylda, S. Kep. Mahasiswa mampu memahami konsep masa post natal
Sabtu

26 Maret ‘16

08.20 – 10.00

v  Asuhan keperawatan pada ibu nifas dengan komplikasi :

·         Perdarahan post partum

·         Infeksi nifas (infeksi puerperalis, vulvitis, Tromboflebitis, mastitis)

·           Gangguan psikologi (Postpartum blues)

CTJ

PBD

LCD

LAPTOP

SPIDOL

WHITEBOARD

Ns. Hayati, S. Kep. Mahasiswa mampu memahami Asuhan keperawatan pada ibu nifas dengan komplikasi
Sabtu

26 Maret ‘16

10.20 – 12.00

v  Konsep bedah kebidanan :

ü  Episiotomy

ü  Ekstraksi forceps

ü  Ekstraksi vakum

ü  Sectio cesarea

ü  Embriotomi

ü  Histerektomi

CTJ LCD

LAPTOP

SPIDOL

WHITEBOARD

Ns. Hayati, S. Kep. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan konsep bedah kebidanan
Rabu

30 Maret ‘16

08.00 – 10.00

v  Konsep gangguan system reproduksi

·         Perdarahan dan gangguan menstruasi

·         Infeksi

·         Neoplasma

·         Perubahan struktur organ reproduksi

·         Infertil

v  Askep gangguan reproduksi :

·         Infeksi : PMS, HIV AIDS

·         Neoplasma : Ca Ovarium, Ca mamae, Ca serviks.

·         Gangguan menstruasi ; premenstruasi syndrome, dismenore, menorhagi

CTJ

PBD

LCD

LAPTOP

SPIDOL

WHITEBOARD

Rahmawati, S. Kep., M. Biomed. Mahasiswa mampu memahami Konsep gangguan system reproduksi dan askuhan keperawatan gangguan reproduksi, ketepatan kelompok menjawab.

 

Rabu

30 Maret ‘16

10.00 – 12.00

v Konsep KB

·         Pengertian KB

·         Tujuan KB

·         Manfaat KB

·         Jenis alat kontrasepsi

·         Indikasi dan kontraindikasi

·         Efek samping

·         Cara pemilihan alat kontrasepsi

·

CTJ LCD

LAPTOP

SPIDOL

WHITEBOARD

Ns.Reta renylda, S. Kep. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan konsep KB.
UJIAN TENGAH SEMESTER à 25 April – 30 April 2016
UJIAN AKHIR SEMESTER à 01 – 06 Agustus 2016
HARI TENANG à04 – 16 Juli 2016

 

 

JADWAL PEMBELAJARAN PRAKTIKUM LABORATORIUM
WAKTU BAHAN KAJIAN/

SUB BAHAN KAJIAN

METODA DOSEN INDIKATOR PENILAIAN
Sabtu

02 April ‘16

08.00 – 12.00

Antenatal

·      Pemeriksaan fisik bumil (head to toe) :

–         Pengertian

–         Tujuan pemeriksaan

–         Persiapan alat

–         Prosedur kerja

PRAKTIKUM LABORATORIUM Ns. Hayati, S. Kep. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik bumil (head to toe)
Rabu

06 April ‘16

08.00 – 12.00

Antenatal

·      Pemeriksaan Leopold & panggul :

–         Pengertian Leopold

–         Tujuan pemeriksaan

–         Pembagian panggul

–         Ukuran panggul

–         Bentuk panggul

–         Pengukuran panggul

–         Persiapan alat

–         Prosedur kerja

·      Pemberian imunisasi TT

–         Pengertian

–         Tujuan pemeriksaan

–         Persiapan alat

–         Prosedur kerja

PRAKTIKUM LABORATORIUM Ns. Hayati, S. Kep. Mahasiswa mampu melakukan/mendemostrasikan Pemeriksaan fisik bumil (head to toe)
Sabtu

09 April ‘16

08.00 – 12.00

Antenatal

·     Senam hamil :

–         Pengertian

–         Tujuan

–         Persiapan alat

–         Prosedur kerja

PRAKTIKUM LABORATORIUM Rahmawati, S. Kep., M. Biomed. Mahasiswa mampu melakukan/medemonstrasikan gerakan senam hamil.
Rabu

13 A pril ‘16

08.00 – 12.00

Intranatal

·      Pemeriksaan fisik Intranatal (head to toe):

–         Pengertian

–         Tujuan pemeriksaan

–         Persiapan alat

–         Prosedur kerja

·      Manajemen nyeri Kala I :

–         Pengertian

–         Faktor-faktor yang mempengaruhi teknik relaksasi

–         Teknik-teknik mengatasi nyeri persalinan

–         Prosedur manajemen nyeri kala I

PRAKTIKUM LABORATORIUM Fitri Isnaini, S. Pd. Mahasiswa mampu melakukan/mendemonstrasikan pemeriksaan fisik intranatal.
Sabtu

16 April ‘16

08.00 – 12.00

Intranatal

·     Partograf :

–         Pengertian

–         Tujuan

–         Cara penggunaan

–         Pencatatan selama fase laten kala I persalinan

–         Pencatatan selama fase aktif persalinan

–         Cara pengisian

PRAKTIKUM LABORATORIUM Ns. Reta Renylda, S. Kep. Mahasiswa mampu memahami pembuatan partograf
Rabu

20 April ‘16

08.00 – 12.00

Intranatal

·      Pertolongan persalinan Kala II :

–         Pengertian

–         Tujuan

–         Tanda-tanda persalinan

–         Persiapan alat

–         Prosedur kerja

·      Pertolongan persalinan Kala III :

–         Pengertian

–         Tujuan

–         Tanda-tanda pelepasan plasenta

–         Manajemen aktif kala III

–         Persiapan alat

–         Prosedur kerja

PRAKTIKUM LABORATORIUM Fitri Isnaini, S. Pd. Mahasiswa mampu memahami danmelakukan pertolongan persalinan
Sabtu

23 April ‘16

08.00 – 12.00

Bayi Baru Lahir

·      Pemeriksaan fisik BBL (head to toe)

–         Pengertian

–         Tujuan

–         Persiapan alat

–         Prosedur kerja

 

PRAKTIKUM LABORATORIUM Rahmawati, S. Kep., M. Biomed. Mahasiswa mampu memahami dan melakukan pemeriksaan fisik BBL
Rabu

27 April ‘16

08.00 – 12.00

Bayi Baru Lahir

·      Memandikan bayi + perawatan tali pusat :

–         Pengertian

–         Tujuan

–         Persiapan alat

–         Prosedur kerja

PRAKTIKUM LABORATORIUM Ns. Hayati, S. Kep. Mahasiswa mampu memahami dan mampu Memandikan bayi + perawatan tali pusat
Sabtu

30 April ‘16

08.00 – 12.00

Bayi Baru Lahir

·     Pijat bayi :

–         Pengertian

–         Manfaat

–         Mekanisme dasar pemijatan

–         Petunjuk pemijatan bayi

–         Pemijatan sesuai usia bayi

–         Persiapan alat

–         Prosedur kerja

PRAKTIKUM LABORATORIUM Ns. Hayati, S. Kep. Memandikan bayi + perawatan tali pusat
Rabu

04 Mei ‘16

08.00 – 12.00

 

Postnatal

·      Pemerikaan fisik postnatal (head to toe) :

–         Pengertian

–         Tujuan pemeriksaan

–         Persiapan alat

–         Prosedur kerja

PRAKTIKUM LABORATORIUM Ns. Reta Renylda, S. Kep. Mahasiswa mampu memahami dan melakukan Pemerikaan fisik postnatal (head to toe)
Sabtu

07 Mei ‘16

08.00 – 12.00

Postnatal

·     Perawatan perineum/vulva hygiene :

–         Pengertian

–         Tujuan perawatan

–         Hal-hal yang harus diperhatikan

–         Persiapan alat

–         Prosedur kerja

PRAKTIKUM LABORATORIUM Ns. Reta Renylda, S. Kep. Mahasiswa mampu memahami dan melakukan perawatan perineum
Rabu

11 Mei ‘16

08.00 – 12.00

Postnatal

·     Mobilisasi 24 jam post SC :

–         Pengertian

–         Tujuan

–         Manfaat

–         Dampak/kerugian

–         Rentang gerak

–         Tahap-tahap mobilsasi

–         Persiapan alat

–         Prosedur kerja

·     Senam nifas ;

–         Pengertian

–         Tujuan

–         Persiapan alat

–         Prosedur kerja

PRAKTIKUM LABORATORIUM Rahmawati, S. Kep., M. Biomed. Mahasiswa mampu memahami dan melakukan penyuluhan dan tindakan mobilisasi 24 jam post SC dan senam nifas
Sabtu

14 Mei ‘16

08.00 – 12.00

Postnatal

·     Perawatan payudara

·     Tehnik menyusui yang baik dan benar :

–         Pengertian

–         Tujuan

–         Persiapan alat

–         Prosedur kerja

PRAKTIKUM LABORATORIUM Rahmawati, S. Kep., M. Biomed. Mahasiswa mampu memahami dan melakukan perawatan payudara
Rabu

08 Juni ‘16

08.00 – 12.00

Postnatal

·     Penyuluhan KB :

–         Pengertian KB

–         Tujuan KB

–         Manfaat KB

–         Jenis alat kontrasepsi

–         Indikasi dan kontraindikasi

–         Efek samping

–         Cara pemilihan alat kontrasepsi

PRAKTIKUM LABORATORIUM, SAP & MEDIA PENYULUHAN

 

Ns. Reta Renylda, S. Kep. Mahasiswa mampu memahami dan melakukan penyuluhan KB

 

 

DIKETAHUI

DIREKTUR

 

 

 

 

H.      Amir Farouk, SKM, M. Kes.

DISAHKAN OLEH

WADIR I

 

 

 

 

Ns. Laily Husna, S. Kep.

JAMBI,            FEBRUARI 2016

KOORDINATOR MATA KULIAH

 

 

 

 

RAHMAWATI, S. Kep., M. Biomed.

 

 

 

Add a comment February 2, 2016

REFLEK PRIMITIF BAYI BARU LAHIR

MACAM-MACAM REFLEK PRIMITIF PADA BAYI BARU LAHIR

Reflek Ketuk Glabella : Reflek ini diperiksa dengan mengetuk secara berulang pada dahi. Ketukan akan diterjemahkan sebagai sinyal yang diterima oleh saraf sensori aferen yang akan dipindahkan oleh nervus trigeminal dan sinyal saraf eferen akan kembali ke otot orbicularis oculi melalui saraf facial yang akan menggerakkan reflek pada mata yaitu berkedip. Kedipan mata akan mucul sebagai reaksi terhadap ketukan tersebut namun hanya timbul sekali yaitu pada ketukan pertama. Jika kedipan mata terus berlangsung pada ketukan-ketukan selanjutnya, maka disebut tanda-tanda Myerson, yang merupakan gejala awal penyakit Parkinson, dan hal tersebut tidak normal.

Reflek Mata Boneka : Reflek ini diperiksa sebagai salah satu cara untuk menentukan mati batang otak. Jika kepala diputar-putar (ditolehkan ke samping kanan dan kiri) maka bola mata akan bergerak. Namun jika pada pemeriksaan ini bola mata tetap berhenti atau tidak bergerak sama sekali berarti dimungkinkan ada kematian batang otak.

Reflek Rooting : Reflek ini ditunjukkan pada saat kelahiran dan akan membantu proses menyusui. Reflek ini akan mulai terhambat pada usia sekitar empat bulan dan berangsur-angsur akan terbawa di bawah sadar. Seorang bayi baru lahir akan menggerakkan kepalanya menuju sesuatu yang menyentuh pipi atau mulutnya, dan mencari obyek tersebut dengan menggerakkan kepalanya terus-menerus hingga ia berhasil menemukan obyek tersebut. Setelah merespon rangsang ini (jika menyusui, kira-kira selama tiga minggu setelah kelahiran) bayi akan langsung menggerakkan kepalanya lebih cepat dan tepat untuk menemukan obyek tanpa harus mencari-cari.

Reflek Sucking : Reflek ini secara umum ada pada semua jenis mamalia dan dimulai sejak lahir. Reflek ini berhubungan dengan reflek rooting dan menyusui, dan menyebabkan bayi untuk secara langsung mengisap apapun yang disentuhkan di mulutnya. Ada dua tahapan dari reflek ini, yaitu :

Tahap expression : dilakukan pada saat puting susu diletakkan diantara bibir bayi dan disentuhkan di permukaan langit-langitnya. Bayi akan secara langsung menekan (mengenyot) puting dengan menggunakan lidah dan langit-langitnya untuk mengeluarkan air susunya.

Tahap milking : saat lidah bergerak dari areola menuju puting, mendorong air susu dari payudara ibu untuk ditelan oleh bayi.

Reflek tonick neck dan asymmetric tonick neck ini disebut juga posisi menengadah, muncul pada usia satu bulan dan akan menghilang pada sekitar usia lima bulan. Saat kepala bayi digerakkan ke samping, lengan pada sisi tersebut akan lurus dan lengan yang berlawanan akan menekuk (kadang-kadang pergerakan akan sangat halus atau lemah). Jika bayi baru lahir tidak mampu untuk melakukan posisi ini atau jika reflek ini terus menetap hingga lewat usia 6 bulan, bayi dimungkinkan mengalami gangguan pada neuron motorik atas. Berdasarkan penelitian, reflek tonick neck merupakan suatu tanda awal koordinasi mata dan kepala bayi yang akan menyiapkan bayi untuk mencapai gerak sadar.

Reflek Palmar Grasping : Reflek ini muncul pada saat kelahiran dan akan menetap hingga usia 5 sampai 6 bulan. Saat sebuah benda diletakkan di tangan bayi dan menyentuh telapak tangannya, maka jari-jari tangan akan menutup dan menggenggam benda tersebut. Genggaman yang ditimbulkan sangat kuat namun tidak dapat diperkirakan, walaupun juga dimungkinkan akan mendorong berat badan bayi, bayi mungkin juga akan menggenggam tiba-tiba dan tanpa rangsangan. Genggaman bayi dapat dikurangi kekuatannya dengan menggosok punggung atau bagian samping tangan bayi.

Reflek Plantar : Reflek ini juga disebut reflek plantar grasp, muncul sejak lahir dan berlangsung hingga sekitar satu tahun kelahiran. Reflek plantar ini dapat diperiksa dengan menggosokkan sesuatu di telapan kakinya, maka jari-jari kakinya akan melekuk secara erat.

Reflek Babinsky : Reflek babinsky muncul sejak lahir dan berlangsung hingga kira-kira satu tahun. Reflek ini ditunjukkan pada saat bagian samping telapak kaki digosok, dan menyebabkan jari-jari kaki menyebar dan jempol kaki ekstensi. Reflek disebabkan oleh kurangnya myelinasi traktus corticospinal pada bayi. Reflek babinsky juga merupakan tanda abnormalitas saraf seperti lesi neuromotorik atas pada orang dewasa.

Reflek Galant : Reflek ini juga dikenal sebagai reflek Galant’s infantile, ditemukan oleh seorang neurolog dari Rusia, Johann Susman Galant. Reflek ini muncul sejak lahir dan berlangsung sampai pada usia empat hingga enam bulan. Pada saat kulit di sepanjang sisi punggung bayi diigosok, maka bayi akan berayun menuju sisi yang digosok. Jika reflek ini menetap hingga lewat enam bulan, dimungkinkan ada patologis.

Reflek Swimming : Reflek ini ditunjukkan pada saat bayi diletakkan di kolam yang berisii air, ia akan mulai mengayuh dan menendang seperti gerakan berenang. Reflek ini akan menghilang pada usia empat sampai enam bulan. Reflek ini berfungsi untuk membantu bayi bertahan jika ia tenggelam. Meskipun bayi akan mulai mengayuh dan menendang seperti berenang, namun meletakkan bayi di air sangat berisiko. Bayi akan menelan banyak air pada saat itu. Disarankan untuk menunda meletakkan bayi di air hingga usia tiga tahun.

Reflek Moro : Reflek ini ditemukan oleh seorang pediatri bernama Ernst Moro. Reflek ini muncul sejak lahir, paling kuat pada usia satu bulan dan akan mulai menghilang pada usia dua bulan. Reflek ini terjadi jika kepala bayi tiba-tiba terangkat, suhu tubuh bayi berubah secara drastis atau pada saat bayi dikagetkan oleh suara yang keras. Kaki dan tangan akan melakukan gerakan ekstensi dan lengan akan tersentak ke atas dengan telapak tangan ke atas dan ibu jarinya bergerak fleksi. Siingkatnya, kedua lengan akan terangkat dan tangan seperti ingin mencengkeram atau memeluk tubuh dan bayi menangis sangat keras. Reflek ini normalnya akan menghilang pada usia tiga sampai empat bulan, meskipun terkadang akan menetap hingga usia enam bulan. Tidak adanya reflek ini pada kedua sisi tubuh atau bilateral (kanan dan kiri) menandakan adanya kerusakan pada sistem saraf pusat bayi, sementara tidak adanya reflek moro unilateral (pada satu sisi saja) dapat menandakan adanya trauma persalinan seperti fraktur klavikula atau perlukaan pada pleksus brakhialis. Erb’s palsy atau beberapa jenis paralysis kadang juga timbul pada beberapa kasus. Sebuah cara untuk memeriksa keadaan reflek adalah dengan melatakkan bayi secara horizontal dan meluruskan punggungnya dan biarkan kepala bayi turun secara pelan-pelan atau kagetkan bayi dengan suara yang keras dan tiba-tiba. Reflek moro ini akan membantu bayi untuk memeluk ibunya saat ibu menggendong bayinya sepanjang hari. Jika bayi kehilangan keseimbangan, reflek ini akan menyebabkan bayi memeluk ibunya dan bergantung pada tubuh ibunya.

Reflek Walking / Stepping : Reflek ini muncul sejak lahir, walaupun bayi tidak dapat menahan berat tubuhnya, namun saat tumit kakinya disentuhkan pada suatu permukaan yang rata, bayi akan terdorong untuk berjalan dengan menempatkan satu kakinya di depan kaki yang lain. Reflek ini akan menghilang sebagai sebuah respon otomatis dan muncul kembali sebagai kebiasaan secara sadar pada sekitar usia delapan bulan hingga satu tahun untuk persiapan kemampuan berjalan.

Refleks Swallowing. Muncul ketika benda-benda yang dimasukkan kedalam mulut, seperti puting susu ibu dan bayi akan berusaha menghisap lalu menelan. Proses menelan ini yang disebut reflek swallowing. Reflek ini tidak akan hilang

Reflek Berkedip atau reflek corneal Bayi berkedip pada pemunculan sinar terang yang tiba – tiba atau pada pandel atau obyek kearah kornea, harus menetapkan sepanjang hidup, jika tidak ada maka menunjukkan adanya kerusakan pada saraf cranial.

Reflek mempertahankan diri (breathing reflek):  menghirup dan menghembuskan nafas secara berulang. Fungsi : menyediakan O2 dan membuang O2

Refleks Crawling Jika ibu atau seseorang menelungkupkan bayi baru lahir, iamembentuk posisi merangkak karena saat di dalam rahim kakinya tertekuk kearah tubuhnya

Refleks blinking Jika bayi terkena sinar atau hembusan angin, matanya akan menutupatau dia akan mengerjapkan matanya

Refleks yawning Yakni refleks seperti menjerit kalau ia merasa lapar, biasanya kemudian disertai dengan tangisan

Reflek Ekstrusi Bila lidah disentuh atau ditekan. bayi merespon dengan mendorongnya keluar.harus menghilang pada usia 4 bulan.

Reflek Startle Suara keras yang tiba – tiba menyebabkan abduksi lengan dengan fleksi siku tangan tetap tergenggam

Neck – righting Jika bayi terlentang, kepala dipalingkan ke salah satu sisi, bahu dan batang tubuh membalik kearah tersebut dan diikuti dengan pelvis

*Semoga Bermanfaat*

Add a comment April 20, 2015

Tips Agar Betah di Kantor

1. Hubungan dengan rekan sekantor

Hubungan sosial di lingkungan kerja sangat berpengaruh pada kenyamanan Anda di kantor. Hubungan yang akrab danYoung business people are working in office kompak membuat suasana kerja sangat menyenangkan. Kondisi ini tentu membuat Anda betah bukan? Coba saja Anda bayangkan bagaimana rasanya jika bekerja dalam suasana yang penuh ketegangan. Hubungan yang “dingin” dan saling menjelekkan satu sama lain tentu membuat Anda tidak nyaman dan “gerah”. Akibatnya gairah kerja pun menurun. Hal ini sudah pasti akan memengaruhi kualitas kerja Anda.

2. Hubungan dengan pimpinan

Hubungan antara Anda dan bos juga memengaruhi betah atau tidaknya Anda di kantor. Hubungan yang tidak harmonis dengan bos akan membuat pikiran Anda terganggu dan senantiasa berpikir untuk mencari “peluang” baru. Sebaliknya, jika Anda dan bos Anda menjadi tim yang kompak dan solid rasanya sulit juga menemukan hubungan yang hangat seperti ini di tempat lain.

3. Kesempatan untuk maju karir

Adanya jenjang karier yang menarik di tempat Anda bekerja akan membuat Anda berpikir untuk mencapai jenjang tersebut. Ini tentu saja akan membuat Anda berpikir seribu kali untuk hengkang ke tempat lain. Paling tidak, Anda memiliki semangat untuk mencapai jenjang itu.

4. Gaji

Hal yang satu ini bukan rahasia lagi dalam menentukan seseorang bisa bertahan atau tidak di suatu perusahaan. Gaji yang memuaskan plus jaminan kesejahteraan yang oke biasanya membuat karyawan “ogah” mencari peluang di tempat lain.

5. Jatuh cinta di kantor

Hal ini cuma bisa dirasakan bagi yang pernah mengalaminya. Coba deh tanya sama mereka yang pernah naksir lawan jenis di kantor. Rata-rata mereka mengatakan hal ini bisa menambah semangat dan gairah kerja. Umumnya mereka betah berlama-lama di kantor karena bisa lebih lama melihat sosok rekan yang ditaksir. Sepanjang tidak mengurangi kualitas kerja tentu saja tidak masalah. Bukankah jatuh cinta adalah hal yang sangat manusiawi, termasuk pada rekan sekantor?

6. Ruangan dan fasilitas

Ruangan yang sejuk dan nyaman serta fasilitas yang lengkap juga merupakan salah satu kondisi yang membuat Andaruang-kerja-nyaman betah. Coba saja bayangkan, bagaimana rasanya bekerja di ruangan yang “sumpek” dan panas, pasti Anda merasa tidak nyaman bukan? Kondisi ini semakin tidak menyenangkan jika fasilitas kerja seperti komputer, mesin foto kopi, dan fasilitas lain sering “ngadat”. Memang, suasana dan kondisi di kantor cukup memengaruhi tingkat kebetahan Anda di dalamnya. Tapi hal satu sama lain juga saling berkaitan, misalnya, gaji besar saja tidak cukup untuk membuat Anda betah di kantor jika tidak didukung oleh hubungan yang “asyik” dengan bos dan rekan-rekan sekantor. Namun, hal-hal di atas juga tidak bisa dijadikan patokan mutlak untuk menentukan Anda betah atau tidak. Semua kembali lagi pada diri Anda. Jika Anda merasa tidak ada situasi yang membuat Anda nyaman, maka jangan buru-buru berpikir untuk “cabut”. Carilah sumber ketidaknyamanan itu. Siapa tahu ketidaknyamanan itu justru bersumber dari dalam diri Anda sendiri…!

Sumber: Diksi, Bekerja itu Bahagia, hal 125-128

Add a comment December 5, 2010

Tanda-Tanda Yang Menunjukkan Anda Harus Berhenti Bekerja

Dalam kehidupan sosial, tentunya Anda pernah mengalami sebuah masalah. Tidak terkecuali saat Anda berada di kantor.

Di kantor, kadang Anda mengalami masalah yang dilematis. Hal tersebut sering membuat Anda bingung apakah akan bertahan di kantor atau harus mengundurkan diri. Banyak orang yang tidak bisa mengambil keputusan besar tersebut. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan sebelum mengambil keputusan mengundurkan diri.

Suasana Kantor
Setiap hari, Anda menghabiskan lebih dari sembilan jam untuk bekerja di kantor. Lebih dari sepertiga hari Anda habiskan di kantor sehingga diperlukan suasana yang kondusif.

Banyak hal yang membuat suasana kantor menjadi kondusif, salah satunya adalah rekan kerja Anda. Jika Anda memiliki rekan kerja yang menjengkelkan, menggangu atau mencuri ide Anda, sudah pasti sulit bagi Anda untuk merasa nyaman dan bekerja dengan tenang. Apalagi jika ia sering mengatakan hal buruk kepada orang lain di belakang Anda, khususnya pada bos. Bila hal itu membuat Anda tidak nyaman, segera cari solusinya. Jika masalah ini tak juga berujung, boleh saja anda mulai mencari kesempatan di tempat lain.

Bos yang Menyebalkan
Hal lain yang membuat suasana kantor tidak kondusif adalah mempunyai seorang bos yang menyebalkan. Hubungan baik Anda dengan bos merupakan pengaruh yang besar terhadap kesuksesan Anda.

Bos dan Anda seharusnya memiliki sikap saling menghargai dan saling membutuhkan. Jika ada yang bersikap semena-mena, hal tersebut bisa mengganggu hubungan kerja Anda.

Yang juga tak kalah penting adalah rasa percaya. Jika Anda dan bos Anda sudah tidak saling percaya dan tidak bisa bekerja sama, berarti mungkin sudah saatnya Anda mencari bos baru.

Terampasnya Waktu
Setiap orang bekerja untuk hidupnya, bukan hidup untuk bekerja. Terkadang sebuah perusahaan benar-benar merampas hidup Anda dengan mewajibkan lembur setiap hari hingga larut malam. Usai lembur pun Anda harus kembali bekerja sepeti biasa. Belum lagi ditambah lembur saat akhir pekan.

Lembur adalah hal biasa dalam pekerjaan. Tapi jika lembur dilakukan hampir setiap hari, maka itu namanya rutinitas.

Pikirkan kehidupan lain selain pekerjaan Anda. Jangan biarkan pekerjaan membuat Anda kehilangan kehidupan sosial dan membuat Anda menjadi robot. Jika rutinitas lembur tersebut semakin merampas waktu anda dan keluarga, ada baiknya memikirkan untuk mencari pekerjaan lain.

Comfort Zone/Career Stuck
Saat semua kegiatan di kantor dapat Anda selesaikan dengan mudah, mungkin Anda berada pada comfort zone. Pada zona ini, terkadang rasa bosan datang menghampiri. Apalagi jika sepertinya tidak ada prospek untuk kenaikan jabatan. Mencari pekerjaan baru bisa menjadi solusi bagi Anda yang senang dengan tantangan baru.

Jika Anda membiarkan diri terlalu lama dalam situasi ini maka yang merugi adalah diri Anda sendiri. Karena kurang tantangan maka kreativitas dan produktivitas akan menurun. Kemampuan sosial dan intelegensi Anda pun tak akan banyak mengalami perkembangan berarti jika terjebak dalam situasi ini.

Bicarakan kepada atasan untuk meminta tantangan baru. Jika tidak memungkinkan, cari tantangan lain di tempat kerja baru.

Bekerja seharusnya bukan hanya sebagai tempat mencari uang. Bekerja seharusnya juga bisa menjadi tempat untuk mengembangkan diri, menambah pengetahuan, dan mengasah kemampuan sosial.

Jika tempat kerja Anda hanya menimbulkan stres dan membuat suasana di rumah menjadi tidak menyenangkan, sepertinya Anda perlu memikirkan untuk mencari lingkungan kerja baru. Untuk anda yang sudah berkeluarga pikirkan langkah Anda lebih matang lagi dan konsultasikan dengan lebih banyak pihak

Add a comment October 7, 2010

MITOS DAN FAKTA PIL KB

Banyak wanita menganggap memakai kontrasepsi hormonal, seperti pil KB, tergolong merepotkan. Selain harus teratur mengonsumsinya, ada efek samping yang bisa ditimbulkan dari penggunaan pil KB.

Bahkan, ada mitos yang menyatakan, sejak diciptakan 50 tahun silam, pil KB bisa sebabkan timbulnya jerawat, berat badan melambung, hingga kanker. Benarkah?

Menurut Prof. Dr.dr. Biran Affandi, SpOG (K), “Anda harus menelan pil KB pada waktu sama setiap hari. Hal yang perlu diingat adalah keteraturan, karena jika tidak teratur, keseimbangan hormon akan terganggu,” katanya saat ditemui di jumpa pers ‘World Contraception Day 2010’ di City Walk, Jakarta.

Agar tak terjebak mitos, kenali fakta  seputar pil KB berikut ini:

1. Mitos: Pil KB picu jerawat

Fakta: Dengan berkembangnya dunia farmasi, pil KB kini telah diperbaharui. Dengan tambahan kandungan drospirenon dalam pil KB justru dapat membantu mengatasi masalah jerawat ringan.

2. Mitos: Pil KB hanya berfungsi sebagai kontrasepsi

Fakta: Selain sebagai kontrasepsi, pil KB juga bermanfaat mengurangi nyeri kram saat haid dan gejala PMS lainnya, siklus haid menjadi teratur serta menurunkan risiko animea ketika datang bulan.

3. Mitos: Pil KB sebabkan kanker

Fakta: Tidak benar. Pil KB dapat melindungi tubuh dari kanker ovarium dan rahim

4. Mitos: Pil KB bikin badan gemuk

Fakta: pil KB metode teranyar dengan progestin baru, seperti drospirenon mampu mencegah terjadinya penumpukan cairan (karena estrogen), sehingga tidak membuat berat badan melonjak.

5. Mitos: Pil KB bisa sebabkan rahim kering

Fakta: Tidak ada hubungan penggunaan pil KB dengan fertilitas atau kesuburan. Justru pada wanita muda, penggunaan pil KB mampu menurunkan risiko infertilitas primer.

Add a comment September 26, 2010

Khasiat Manjakani

Dibandingkan dengan daun sirih, manjakani memang relatif kurang dikenal. Padahal tanaman ini juga berkhasiat untuk merawat kesehatan, membersihkan organ intim wanita dan menghilangkan bau tak sedap, bersih harum dan kesat, bangkitkan rasa percaya diri untuk kemesraan hubungan suami-istri. Merawat organ intim dengan ramuan bahan alami sebenarnya telah dilakukan sejak dahulu kala. Yang paling populer adalah air rebusan daun sirih untuk menghilangkan keputihan. Sebenarnya masih ada bahan lain untuk menjaga organ intim, yakni manjakani (oak galls). Manjakani “Herbal Ajaib” Manjakani yang dikenal “herbal ajaib” mengandung kaya akan tannin untuk mengencangkan otot vagina, vitamin A dan C, kalsium, protein, serta mengandung elemen astringent untuk menghilangkan bakteri penyebab keputihan, serta menambah kerapatan. Aman diminum dan bebas efek samping karena Alami. Selama berabad-abad, tanaman yang punya nama lain Mecca Manjakani ini telah dipakai dalam obat tradisional oleh orang Arab, Iran, Cina, India, dan Melayu. Walaupun banyak tumbuh di Indonesia, tumbuhan manjakani belum banyak dikenal masyarakat. Menurut pakar herbal dan obat tradisional, Prof. Dr. Hembing Wijayakusuma, seperti daun sirih, manjakani juga dapat membersihkan jamur dan bakteri di area vagina. “Manjakani sebenarnya lebih bagus karena bisa mengatasi cairan berlebih di vagina,” katanya. Manjakani Dambaan Pasutri Buah Manjakani sebagai obat-obatan herbal yang dapat membantu elastisitas organ intim kewanitaaan sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Khasiat Manjakani bukan saja dapat dirasakan oleh kaum Hawa, tetapi secara tidak langsung juga membantu kepuasan pria dan wanita saat behubungan intim. Ekstrak manjakani tidak hanya dikenal dapat membantu mengencangkan otot vagina, mengurangi keputihan dan mengurangi cairan, namun juga dapat membantu vagina yang kering,” ungkap Prof. Dr. Hembing Wijayakusuma. Menurut Hembing, penggunaan manjakani di zaman dulu biasanya dihaluskan lalu disaring sebelum dioleskan di organ kewanitaan. Ada pula yang meminum jamu manjakani untuk meningkatkan elastisitas otot area V. Namun begitu, lanjut Hembing, bahan manjakani tak bisa dipakai begitu saja, karena harus diformulasikan dulu, dicampur dengan bahan ramuan lain sesuai dengan tujuan pengobatannya.

Berikut ini Beberapa Khasiat Manjakani:

* Memulihkan elastisitas organ intim kewanitaaan (kencangkan otot Miss V)

* Menghilangkan gatal-gatal, Keputihan dan bau yang kurang menyenangkan.

* Mencegah penuaan dini * Menstabilkan PH asam dan mengurangi cairan (basah) berlebihan (tidak kering).

* Meningkatkan hormon estrogen

* Mempertingkatkan daya alat kelamin dan tenaga batin.

* Membina rahim dan membersihkan (selepas bersalin / haid)

* Melancarkan pencernaan sehingga BAB lancar.

* Mencegah Kanker Servix dan Kanker Payudara.

* Mengobati sakit maag dan mengurangi selulit.

Add a comment September 18, 2010

A S I (Air Susu Ibu)

BUKTI ILMIAH TERBARU TENTANG MANFAAT ASI

Bayi-bayi yang disusui oleh ibunya akan tenang dan tidak mudah gelisah untuk waktu yang lama. Bahkan setelah mereka disapih mereka lebih kuat menghadapi situasi yang bisa membuat stres, misalnya perceraian orangtuanya. Demikian bukti ilmiah terbaru tentang manfaat ASI bagi bayi yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Disease in Childhood.
“Bayi yang disusui, tidak terlalu terpengaruh oleh perceraian atau perpisahan orangtuanya, mereka juga tidak mudah gelisah dan cemas,” kata Dr Scott Montgomery, ahli epidemiologi di Karolinska Institute Swedia, seperti dikutip reuters.

ASI mengandung banyak nutrisi, hormon, enzim, untuk pertumbuhan dan kekebalan tubuh yang diturunkan ibunya ke bayi. Penelitian tersebut juga menunjukkan ASI mampu mengurangi infeksi, penyakit pernapasan dan diare pada bayi. Ibu yang menyusui bayinya juga bisa terhindar dari pendarahan setelah melahirkan. Montgomery dan timnya meneliti bagaimana bayi berusia 10 tahun yang
diberi ASI dan yang diberi susu formula menghadapi stres akibat masalah perkawinan orangtuanya.

Sekitar 9000 bayi menjadi responden penelitian ini. Mereka dimonitor sejak lahir sampai masuk sekolah. Guru-guru di sekolah juga ditanyai tentang tingkat kegelisahan anak-anak tersebut dalam skala 0-50. Ternyata anak yang dulunya mendapat ASI bisa menghadapi masalah dan stres lebih baik dibandingkan yang tidak mendapat ASI. Tetapi para peneliti belum mengetahui kaitan antara ASI dengan tingkat kegelisahan. Menurut dugaan sementara, anak-anak yang disusui tidak mudah gelisah karena saat disusui mereka merasa mendapat kasih sayang orangtuanya, pelukan dan dekapan ibu saat menyusui juga menenangkan bayi. Selain itu menyusui juga berpengaruh terhadap perkembangan tubuh dalam merespon stres.
“Semakin kita pelajari tentang ASI, semakin banyak manfaat yang kita temukan. Menyusui bisa disebut sebagai salah satu hal penting dalam perkembangan manusia,” kata Montgomery.

Bulan Agustus telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai bulan ASI Nasional. Sayangnya menurut data yang dikeluarkan Unicef hanya 14 persen bayi di Indonesia yang disusui secara esklusif oleh ibunya hingga usia 4 bulan.

Add a comment August 21, 2010

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

November 2017
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts